Fiksi Kilat: Kabur Dari Rumah

fiksi kilat

“Kamu mau mengikuti jejak kakakmu itu, Ratna? Kabur dari rumah dan hidup tanpa aturan?”

Dia terlihat marah karena sudah 3 hari ini aku tidak pulang ke rumah dan pergi liburan dengan pacarku. Padahal sebelumnya aku paling anti untuk menginap di luar atau bepergian jauh tanpa ditemani keluarga sendiri. Sekarang, aku sepertinya bakal dimarahi habis-habisan di kamarku.

Cerita Pendek: Diary Rumiang

“Ngapain sih di dunia ini ada acara santet-santet segala?”

Aku memulai obrolan kami malam ini di taman kota. Iya, tahu, pemilihan topik obrolannya nggak tepat. Namun, mau bagaimana lagi. Aku terlalu rikuh dengan situasi ini. Lalu tadi pagi sebelum berangkat, aku mendengar cerita tetangga yang katanya kena santet. Di perutnya ditemukan beberapa paku dan jarum.
cerpen
Menikmati malam di taman kota

Fiksi Kilat: Harapan Setiap Bapak

memfiksikan

“Bagaimana menurutmu tentang keperawanan, Nak?”

Minggu malam ini, setelah makan malam yang biasa di rumah, aku bertanya pada anak gadisku tentang kesucian yang dimiliki oleh seorang perempuan. Hal ini menurutku sangat penting dan perlu selalu diingatkan. Karena di masa kemajuan teknologi dan kebebasan mengakses informasi ini, para remaja semakin menyepelekan kesucian dirinya dengan dalih menjadi manusia bebas dan open minded.

Fiksi Kilat: Mirip Papa


papa

“Papa itu orangnya tegas. Tatapannya saja bisa bikin orang-orang tunduk. Entah patuh, entah takut. Pokoknya orang nggak berani ngelawan.”

Aku menceritakan tentang papaku kepada Erna, kekasihku. Hari ini aku mengajak Erna main ke rumahku setelah beberapa bulan kami berpacaran. Erna saat ini masih terlihat takut dan ragu-ragu. Ya, seperti orang-orang pada umumnya yang penuh kekhawatiran saat diajak ketemuan dengan orang tua pasangannya untuk pertama kali. Aku langsung memeluknya dari belakang dan memberi kalimat yang menenangkan. Lalu kami berangkat naik mobil.

Fiksi Kilat: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati


memfiksikan

“Kamu harus jaga keluargamu dengan baik, Pram. Untuk itu, kamu harus memastikan dirimu sehat sehingga bisa menjaga mereka.”

Aku mengiyakan kalimat ayah mertuaku yang mulai terdengar lemah dengan napas yang terengah-engah. Beliau menderita penyakit jantung. Sudah beberapa kali sakitnya itu kambuh, tapi tidak separah kali ini. Terlebih obat aspirin yang biasa digunakan untuk meringankan sakitnya malah hilang.

Fiksi Kilat: Bertemu Calon Mantu


“Bilang saja nanti kalo dalam membangun rumah tangga itu perlu pasangan yang bisa diajak ngobrol apa pun. Karena ketika sudah tua dan renta, hanya itu yang bisa dilakukan untuk terus berbahagia,” kata suamiku memberi saran.

Hari ini anak lelaki kami akan mengenalkan calonnya. Dia sudah berangkat setelah salat zuhur tadi, mungkin nggak sampai setengah jam lagi mereka akan datang ke rumah ini. Kemarin malam, ketika mengutarakan maksudnya, anak kami itu sempat menjelaskan kalo calonnya tersebut memiliki beberapa kekurangan. Ya, palingan nggak bisa masak sebagaimana banyak perempuan di zaman serba modern ini.

Fiksi Kilat: Menepati Janji

janji

“Dari mana, Nang?” tanyaku saat bertemu Nanang di jalan pulang.

“Dari rumah Abang, ketemu Ibu ama Kak Erna. Menepati janji. Mari, Bang,” ucapnya sambil senyum dan sedikit mengangguk dengan sopan, lalu terus berjalan.

Fiksi Kilat: Pipis Sendirian

pipis

“Temenin adek ke WC, Bu. Mau pipis.”

Saya merengek pada ibu untuk ditemani pipis karena saya memang penakut.

“Adek, kan, sudah kelas 5 SD, masa masih takut pipis sendirian. Sana pergi sendiri,” ucap beliau sambil terus menatap layar komputer yang berisi kerjaannya.

Fiksi Kilat: Hafalan

hafalan

“Gaya magnet adalah gaya yang terjadi karena adanya muatan listrik.”

Pak Irwan menjelaskan tentang macam-macam gaya dalam Fisika, tak lupa selanjutnya beliau memberikan contoh soal dan rumus penyelesaian. Mengenai menyelesaikan soal, saya dan beberapa teman sekelas memiliki pendapat yang berbeda.

Parodi: Joshua oh... Jejen

Assalamu'alaikum...

Nama saya Jojo, tapi bukan yang keong racun, karena teman saya namanya Jejen, bukan Shinta. Sebagai orang miskin, saya mengabdikan diri menjadi pengamen sepulang sekolah. Suatu hari, saya dan Jejen mengamen di pusat perbelanjaan. Namun, diusir sama Pak satpam karena Jejen belom hapal lagu diobok-obok. Masa liriknya diganti, “dikencrot-kencrot airnya dikencrot-kencrot”. Pak satpamnya, kan, ngerasa jadi lelaki kerdus.

Rumah Uya Sudah Dekat

Assalamu’alaikum…

Nama saya Sarah, 22 tahun, anak Pak Husin yang tahun kemaren baru naik haji. Bapak saya bisa naik haji karena beliau selalu menabung uang hasil menjual buburnya di bank. Bank tersebut mengadakan undian bagi nasabah yang memiliki saldo minimal 3800K dengan hadiah naik haji. Bapak saya memenuhi syarat tersebut. Undian dilakukan 3 tahap secara acak digital dengan membuang/daftar peserta undian. Setelah dua tahap dilewati, tersisa 10 orang termasuk bapak saya. Di undian terakhir, peserta harus datang ke bank.

Fiksi Kilat: Kejutan

“Keluarga Pak Ryan lagi pulang kampung, Dek. Besok subuh baru pulang, karena paginya memang harus masuk kantor.”

Begitu kata tetangga Audina ketika mengobrol denganku yang terus menunggu di luar pagar rumahnya. Aku menunggunya datang untuk memberikan kejutan sambil menungu di dalam mobil. Sebelumnya aku mengabarkan sedang pergi ke luar kota untuk waktu yang cukup lama.

“Adek nggak mau menunggu di rumah saya saja? Ada kamar yang kosong, kok. Kayaknya malam ini bakal hujan gede, ini anginnya juga mulai kenceng,” ucap tetangganya lagi yang tinggal di seberang rumahnya. Aku menolak dengan halus.

Fiksi Kilat: Lelaki Penjual Es Krim

“Mas, kok sampai segininya buat nyari duit?”

Begitu pertanyaan yang beberapa kali kudapatkan karena masih saja berkeliling menjual es krim walau hari sedang hujan. Pertanyaan tersebut biasanya hanya kutanggapi dengan senyuman dan anggukan, lalu mulai mengayuh sepeda lagi untuk berkeliling. Biasanya, banyak orang yang memberikan tatapan kasihan. Tapi jak jarang juga yang memberikan tatapan kekaguman.

“Demi istrinya, dia bekerja keras mencari rezeki.”

Kopdar Bareng Anak-Anak Jabodetabek

Assalamu’alaikum...

Untuk membuat cerita tentang kopdar, pengin sekali rasanya kerasukan Imas Agustini atau Dwi Nanoki biar bisa menceritakan secara panjang lebar, detail, dan menarik. Atau kerasukan Yoga biar ceritanya lucu dan menghibur. Karena jujur saja, saya tidak pandai menceritakan tentang keseharian.

Berang-berang makan cokelat, berangkat...
Hari itu saya berangkat pagi sekali. Karena mesti naik angkot dua kali. Belum lagi ngetemnya. Minggu pagi pukul setengah tujuh, saya sudah berada di stasiun Bogor. Nungguin kereta yang akan berangkat. Janjian dengan Yoga di stasiun Tanah Abang pukul delapan, yang kalo berangkat setengah tujuh pasti nggak bakal telat.

Cerbung: Persil 5 - Tuhan Untuk Liyan

Cerbung: Persil 5 - Tuhan Untuk Liyan
Cerita sebelumnya...

Sebelum kematian Adit

Semenjak lulus SMA, aku mulai menjadi orang yang agak kesepian. Aku tak lagi memiliki teman yang menjunjung kesolidaritasan. Rela menderita demi kebersamaan. Yang ada sekarang malah keegoisan. Berebut minta contekan tugas, sedangkan tugasku yang dicontek mereka malah tidak dikumpulkan. Kurang ajar. Teman-teman di sekitaran rumah juga demikian, hobinya nantangin anak-anak seberang jalan buat berkelahi. Walau nggak ada sebab-musababnya.