Fiksi Kilat: Pak Tua Yang Punya Tubuh Orang Usia 25 Tahun

pak-tua-sehat-kuat


“Anterin ini ke rumahnya Pak Mardi, Yan.”

Ini sudah keempatkalinya di minggu ini, ibuku menyuruh mengantarkan makanan ke rumahnya. Beliau memang tinggal sendirian, usianya juga tidak muda lagi, hampir 65 tahun. Warga lain juga sering mengiriminya makanan bergantian.

“Wah, terima kasih, Yan, persediaan daging bapak memang tinggal sedikit.”

Fiksi Kilat: Sukai Apa Yang Pacarmu Suka

cerpen-sukai-yang-pacarmu-suka
Suka ngetawain orang, ya, kita ikutan~
“Sekarang hal aneh apa lagi yang disukai pacarmu?” 

Aku menanyakan pertanyaan yang sama pada sahabatku ini seperti bulan-bulan sebelumnya. Tiap dia ke rumahku dengan wajah datarnya, sudah pasti itu berhubungan dengan perempuan pujaannya, Ika. Pacarnya itu mudah sekali suka dengan hal-hal yang sedang viral. Main Tiktok, jajan kopi Kejiwaan, nyari odading dan masih banyak lagi.

Cerita Pendek: Hari Yang Tidak Biasa

K-mart-blok-m
 
“Udah biasa. Udah terjadi selama empat puluh hari berturut-turut. Kemarin malam, ibu-ibu hamil yang jadi korban. Anaknya yang usia enam tahunan cuma luka-luka.”

Itu penjelasan salah satu penumpang busway saat mereka membicarakan tentang kecelakaan yang selalu terjadi di depan mal yang dibuka sejak awal bulan lalu di kawasan Pondok Labu.

Fiksi KIlat: Tidak Mau Kalah

fiksi kilat tidak mau kalah
Tidak mau kalah
“Nggak mungkin. Tuhan nggak akan bisa menyelamatkan ayah. Sakitnya beliau sudah parah sejak lama. Selama itu pula, Tuhan nggak pernah sekali pun membuatnya sembuh.”

Pur membantah tiap kalimat nasihatku. Sejak dulu dia memang tak mau kalah, meski dalam keadaan apa pun. Dia selalu punya cara cerdik dan pembelaan masuk akal yang bisa membuat lawannya tak berkutik.

Parodi: Demon Slayer - Kimetsu No Yaiba

“Temui seorang kakek bernama Sakonji Urukodaki di kaki gunung Sagiri. Katakan bahwa Giyu Tomioka yang mengirimmu.”

Begitu ucapan seseorang yang mengaku sebagai pembasmi iblis padaku. Awalnya dia mau menebas adikku, Nezuko, tapi setelah melihat tekad Nezuko, dia mengurungkan niatnya. Dia justru menawarkan padaku agar mengikuti jejaknya menjadi pembasmi iblis, siapa tahu dalam menghadapi berbagai iblis nantinya, aku akan menemukan cara mengembalikan Nezuko menjadi normal kembali. Dia kini menjadi seperti iblis.
nezuko
1) Menuju kediaman Urukodaki

Fiksi Kilat: Kabur Dari Rumah

fiksi kilat

“Kamu mau mengikuti jejak kakakmu itu, Ratna? Kabur dari rumah dan hidup tanpa aturan?”

Dia terlihat marah karena sudah 3 hari ini aku tidak pulang ke rumah dan pergi liburan dengan pacarku. Padahal sebelumnya aku paling anti untuk menginap di luar atau bepergian jauh tanpa ditemani keluarga sendiri. Sekarang, aku sepertinya bakal dimarahi habis-habisan di kamarku.

Cerita Pendek: Diary Rumiang

“Ngapain sih di dunia ini ada acara santet-santet segala?”

Aku memulai obrolan kami malam ini di taman kota. Iya, tahu, pemilihan topik obrolannya nggak tepat. Namun, mau bagaimana lagi. Aku terlalu rikuh dengan situasi ini. Lalu tadi pagi sebelum berangkat, aku mendengar cerita tetangga yang katanya kena santet. Di perutnya ditemukan beberapa paku dan jarum.
cerpen
Menikmati malam di taman kota

Fiksi Kilat: Harapan Setiap Bapak

memfiksikan

“Bagaimana menurutmu tentang keperawanan, Nak?”

Minggu malam ini, setelah makan malam yang biasa di rumah, aku bertanya pada anak gadisku tentang kesucian yang dimiliki oleh seorang perempuan. Hal ini menurutku sangat penting dan perlu selalu diingatkan. Karena di masa kemajuan teknologi dan kebebasan mengakses informasi ini, para remaja semakin menyepelekan kesucian dirinya dengan dalih menjadi manusia bebas dan open minded.

Fiksi Kilat: Mirip Papa


papa

“Papa itu orangnya tegas. Tatapannya saja bisa bikin orang lain tunduk. Entah patuh, entah takut. Pokoknya orang nggak berani ngelawan.”

Aku menceritakan tentang papaku kepada Erna, kekasihku. Hari ini aku mengajak Erna main ke rumahku setelah beberapa bulan kami berpacaran. Erna saat ini masih terlihat takut dan ragu-ragu. Ya, seperti orang-orang pada umumnya yang penuh kekhawatiran saat diajak ketemuan dengan orang tua pasangannya untuk pertama kali. Aku langsung memeluknya dari belakang dan memberi kalimat yang menenangkan. Lalu kami berangkat naik mobil.

Fiksi Kilat: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati


memfiksikan

“Kamu harus jaga keluargamu dengan baik, Pram. Untuk itu, kamu harus memastikan dirimu sehat sehingga bisa menjaga mereka.”

Aku mengiyakan kalimat ayah mertuaku yang mulai terdengar lemah dengan napas yang terengah-engah. Beliau menderita penyakit jantung. Sudah beberapa kali sakitnya itu kambuh, tapi tidak separah kali ini. Terlebih obat aspirin yang biasa digunakan untuk meringankan sakitnya malah hilang.

Fiksi Kilat: Bertemu Calon Mantu


“Bilang saja nanti kalo dalam membangun rumah tangga itu perlu pasangan yang bisa diajak ngobrol apa pun. Karena ketika sudah tua dan renta, hanya itu yang bisa dilakukan untuk terus berbahagia,” kata suamiku memberi saran.

Hari ini anak lelaki kami akan mengenalkan calonnya. Dia sudah berangkat setelah salat zuhur tadi, mungkin nggak sampai setengah jam lagi mereka akan datang ke rumah ini. Kemarin malam, ketika mengutarakan maksudnya, anak kami itu sempat menjelaskan kalo calonnya tersebut memiliki beberapa kekurangan. Ya, palingan nggak bisa masak sebagaimana banyak perempuan di zaman serba modern ini.

Fiksi Kilat: Menepati Janji

janji

“Dari mana, Nang?” tanyaku saat bertemu Nanang di jalan pulang.

“Dari rumah Abang, ketemu Ibu ama Kak Erna. Menepati janji. Mari, Bang,” ucapnya sambil senyum dan sedikit mengangguk dengan sopan, lalu terus berjalan.