Howhaw #164: Semakin Ke Timur, Semakin Terbuka

Assalamu’alaikum…

Wilayah Indonesia terbentang dari Barat ke Timur. Di pelajaran IPS, dulu saya sempat menghapal kalo letak Indonesia itu berada di 6°LU - 11°LS dan 95°BT - 141°BT. Tau deh sekarang udah ngalami penambahan atau pengurangan berapa karena perebutan pulau terluar. Di keseharian, orang-orang mengatakan kalo Indonesia itu menganut budaya ketimuran. Maksudnya, budaya Indonesia lebih condong pada budaya yang katanya lebih sopan dan tertutup dalam berpakaian.

Kenapa, ya, disebut adat ketimuran? Dan kenapa juga kalo ada orang (biasanya perempuan) kalo menggunakan pakaian minim dan rambut diwarnain, dianggapnya kebarat-baratan. Ketimuran dan kebaratan, dua hal yang jadi tolok ukur dalam hal terbuka dan tertutup. Frasa ketimuran atau kebaratan menunjukkan keadaan makin ke timur/makin ke barat. Karena budaya timur dianggap dengan budaya berpakaian tertutup dan budaya barat dianggap sebaliknya, itu berarti makin ke timur makin tertutup. Apa iya?

Kita lihat dari wilayah Indonesia

Karena kita membicarakan Indonesia, baiknya kita mengambil wilayah Indonesia sebagai contoh/objek untuk dilihat apakah benar semakin ke timur semakin tertutup?
ketimuran
Pembagian Wilayah Waktu Indonesia
Wilayah Indonesia dihuni berbagai suku, tiap suku memiliki pakaian adat. Karena pakaian adat tidak berubah sepanjang waktu, maka pakaian adat bisa dijadikan sampel utama. Baik pakaian adat pernikahan maupun pakaian adat tariannya. Toh, kita sedang membicarakan pakaian terbuka dan tertutup.

Wilayah Indonesia Barat
Pakaian adat di Wilayah Indonesia Barat bisa dibilang tertutup. Tari Seudati di Aceh, tari Tor-Tor di Sumatera Utara dan tari Piring di Sumatera Barat, semuanya menggunakan pakaian yang tertutup. Lengan panjang, celana atau kain sampai mata kaki, serta ditambah penutup kepala. Bahkan ada yang menggunakan selendang.
Ketimuran
Pakaian Panjang, Lengkap
Tari Jaipong di Jakarta, tari Merak di Jawa Barat, Tari Bambangan Cakil di Jawa Tengah, dan tari Balesan Dadas di Kalimantan Tengah, pakaiannya sudah sedikit terbuka. Bawahan masih panjang, masih memakai hiasan/penutup kepala, namun baju yang dikenakan sudah kehilangan lengannya.
Lengan pakaiannya mulai hilang

Wilayah Indonesia Tengah
Sesuai dengan nama wilayahnya, Wilayah Indonesia Tengah memiliki pakaian adat yang dibilang pendek, nggak pendek, dibilang panjang tertutup, juga nggak. Yah, setengah lah. Tari Pendet di Bali, tari Gong di Kalimantan Timur, tari Mpaa Lenggogo di NTB, dan tari Kipas di Sulawesi Selatan, pakaiannya masih mirip-mirip dengan Wilayah Indonesia Barat, namun untuk beberapa wilayah Tengah, celana untuk pakaian adat pria sudah semakin memendek selutut.
ketimuran
Tanpa lengan pakaian, celana pria lebih pendek

Wilayah Indonesia Timur
Di Wilayah Indonesia Timur, terutama di Papua, pakaian adatnya semakin pendek. Untuk tarian Selamat Datang saja tidak mengenakan baju. Bahkan pakaian adat lelakinya tidak menggunakan celana lagi. Hanya menggunakan koteka.
ketimuran
Pakaiannya makin pendek
Hal tersebut menunjukkan, semakin ke timur ternyata pakaiannya malah semakin terbuka. Jadi, kalo Indonesia berbudaya ketimuran, yaaaaa, nggak apa lah kalo pakaiannya lebih terbuka. *lari sebelum dipersekusi

Uniknya, walo belum jelas ada hubungannya apa nggak antara pakaian dan pikiran, tapi ‘semakin ke timur semakin terbuka’ ini tidak hanya berlaku pada pakaiannya saja. Melainkan juga berlaku pada pikran dan hatinya. Jadi, semakin ke timur, pikiran dan hati orang-orangnya makin terbuka. Entahlah, saya menemukan ini:

Di Timur, saling menghormati perbedaan suku dan kepercayaan sudah mendarah daging

Melalui materi stenap-nya, Mamat (asal Fakfak, Papua) menceritakan, ketika bulan Ramadan, warga yang non-muslim juga ikut menyediakan bukaan bagi mereka. Di daerah tersebut, dikenal adanya prinsip “satu tungku tiga batu” yang menunjukkan toleransi antarumat beragama. Bagaimana dengan wilayah Barat?

Kabar perselisihan dan ketidakrukunan kebanyakan berasal dari wilayah Barat. Di ibukotanya yang menjadi pusat pemerintahan saja masih sering terdengar. Kamu orang ini, kamu agama ini, jadi tidak boleh begini. Mungkin karena banyaknya pertikaian dan saling mencela, makanya wilayah Barat dulu cuma dijadikan tempat mencari kitab suci, bukan dijadikan tempat tinggal.
ketimuran
"Nyari kitab di Barat, tinggalnya di Timur aja, lebih damai"
Pakaian yang tertutup dianggap pakaian yang sopan, mencerminkan orangnya juga sopan. Namun, bagian mananya yang sopan dari saling mencaci dan merendahkan?

Di Timur, pakaiannya terbuka dan pakaian terbuka dianggap kurang sopan. Tapi anehnya, orang-orang timur yang tidak berpakaian sopan tersebut malah bisa menunjukkan bagaimana caranya berkasih sayang. Pakaian terbuka, pikirannya juga terbuka. Ini fenomena yang aneh.

Padahal saya sendiri kalo melihat orang berpakaian terbuka, bukan pikiran yang ikut terbuka. Tapi mata. Ama lensa kamera.

Bagaimana dengan Wilayah Tengah?

Tengah-tengah biasanya diartikan sebagai penyeimbang. Seperti pakaian adatnya yang panjang, nggak, pendek juga nggak. Dalam hal toleransi pun demikian. Dibilang rukun banget, nggak, karena beberapa kali juga terjadi perselisihan dan kerusuhan. Dibilang saling mencerca juga nggak, karena dalam kesehariannya mereka hidup tenang berdampingan.

Yang jadi persoalan, karena posisinya ditengah, mengatasi provokasi haruslah dibudayakan. Di tengah, hidup berdampingan dengan beragam suku dan kepercayaan. Sedikit saja tersulut, kedamaian yang tercipta bisa lenyap. Untuk itu, orang-orang yang berada di Wilayah Indonesia Tengah harus berpikir dan bekerja lebih keras dalam menyaring info yang bisa memicu perpecahan. Berusaha ekstra keras sebagaimana kerasnya usaha tim sepakbola Indonesia untuk bisa ikut serta di Piala Dunia.

Tengah itu membagi. Bagi itu “per”, kayak perdua, pertiga atau perempat. Klub sepakbola Indonesia, namanya banyak yeng menggunakan “per”. Persela, Persipon, Persib, Persebaya atau Persisam. Bagaimana bisa masuk Piala Dunia kalo setengah-setengah? Yekan?




Sumber Gambar:
http://ilmupengetahuanumum.com/pembagian-waktu-di-indonesia/
http://laskarpelangianakbangsa.blogspot.co.id/2012/03/nama-33-provinsi-di-indonesia-tarian.html
http://www.hipwee.com/hiburan/kamu-fans-berat-serial-kera-sakti-13-hal-ini-pasti-bikin-kamu-kangen-pengen-nonton-lagi/
Previous Post
Next Post

Oleh:

Terima kasih telah membaca artikel yang berjudul Howhaw #164: Semakin Ke Timur, Semakin Terbuka Apabila ada pertanyaan atau keperluan kerja sama, hubungi saya melalui kontak di menu bar, atau melalui surel: how.hawadis@gmail.com

22 comments:

  1. Kalo melihat orang berpaakaian terbuka bukan pikiran yang ikut terbuka, tapi mata sama lensa kamera.

    Yang mudah diingat hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa yg itu malah yg diingaaattt.. nama pakaian adatnya kek, atau nama tarian tradisionalnyaaa... :D

      Delete
  2. Membaca ini aku seolah kembali ke masa SMA-ku dulu, secara dulu ambilnya IPS juga. Terima kasih pa gulu.. :D

    Dari dulu sampe sekarang memang gitu, Mas, aku juga dengarnya kalau bicara tentang kebarat-baratan identik dengan berpakaian minim, atau bahasa kerennya, pakaian yang kurang bahan..hehe

    Haha..langsung mata dan lensa yang terbuka ya, Mas. Tapi kita juga gak boleh langsung berfikiran bahwa orang yang mengenakan pakaian terbuka itu bisa dibilang kurang sopan atau kurang baik.

    Bicara masalah sopan, mungkin di Indonesia bisa dibilang seperti itu, dinegara lain belum tentu :)

    Dari beberapa gambar yang di post tentang baju adat aku seolah flask back ke masa sekolah. Dulu suka disuruh nginget-ngingetin pakaian ini dari daerah mana? :D

    Sebentar, itu Sungokong berserta guru dan kawan-kawannya sudah sampe monas aja cari kitab sucinya ya, Mas.. haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kalo kata tetua, jangan nilai orang dari luarnya. kalo luarnya baju, ya jangan nilai bajunya, kalo gapake baju, ya jangan nilai corak kulitnya. kalo orangnya pake baju, duduk dalam mobil, dan mobilnya di parkir di garasi, dan garasinya di dalam rumah, dan rumahnya mewah, ini yang jadi pengecualian. gaboleh nilai luarnya, kita nilai dalamnya,dalam rumah mewah ada apa, ada garasi dan mobil, itu berarti yang kita nilai. ya nggak sih?

      udah, tapi kena tilang, biksu tong naik kudanya gapake helm, gabawa sim juga. mana bawa hewan buas yg gaboleh dipelihara secara bebas. bentar doang di jakartanya, lebih mudah basmi siluman daripada basmi ketidakadilan di sana~

      Delete
  3. Toss dulu deh, sebagai sesama penduduk wilayah WITA. Hidup WITA! Ibukota Indonesia Segera pindahkan ke salah satu kota di Kalimantan! Mhuahahahahahaha!

    Kurang lebih kayak yang dirasain Mas Andi, aku baca ini juga kayak lagi baca buku paket mata pelajaran IPS. Menarique, Haw. Dan kamu makin produktif aja sekarang. Yuhuuu~

    Terus juga bisa aja kepikiran sama semakin ke timur semakin terbuka pakaian... dan pikiran. Mantap betul. Iya juga ya. Dan ini menurut relate sama keadaan sekarang yang dipenuhi sama kaum-kaum sumbu pendek gampang tersulut soal agama.

    Jadi... yang tengah-tengah ini sebaiknya jangan terlalu terbuka pakaian maupun pikiran ya, Haw? Maksudnya gitu? Atau gimana? Kasihan ya WITA. Iya sih. Dia harus bisa menyeimbangkan paham WIB dan paham WIT. Eh gitu ya. Btw aku tadi baca tulisan lima mental cowok yang harus dijauhi. Mental supir angkot paling bangkeeeeek, Haw. Hahahahahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan produktif. Blogger sesempetnya mah asal lagis empet, ya posting~ dikit2 ngumpulin poin dulu biar bisa naik level jadi blogger sejati yang konsisten.

      gegara beberapa kali liat instastory Nanda bilang lama betul, sakit betul, apa betul, jadi pas kamu ngetik begitu, aku keingetnya ama suara Nanda, Cha. :D

      yah, palagi ada fasilitas media sosial yg bebas berspekulasi tanpa perlu takut sanksi. ngomongin agama, ada yg mau ngasi sanksi, dibilang melawan agama. :|

      nggaaakkk.. tengah mah seimbang. mereka terbuka kalo org lain juga terbuka, mereka akan tertutup kalo yg lain juga tertutup. tapi karena banyak yg ngajak tertutup, takutnya yg wita jadi keseringan tertutup juga. makanya harus ekstra keras untuk memfilter.

      Ngapain baca ituuuuuhhh.. kudulu kepentok apaan dah bikin tulisan kayak gitu.

      Delete
  4. cuma bisa mengiyakan "iya juga ya? bener eh, bukannya makin ketimur makin ketutup etapi malah makin kebuka." hebat bang bisa menyanggah teori lama dg teori barumu ini *tepok tangan sambil kayang*

    lha kan itu klub bola daerah kan? makanya ngga bisa masuk world cup lah bang?
    tapi tetep aja ding, Timnas kita kan dibawah PSSI ya? P-nya itu adalah PERsatuan, laah tetep aja ada per-nya

    Yekan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaaa.. hahaha... maksudnya itu, kan yg bakal mewakili piala dunia entar kan dari klub klub itu. kalo dari sejak awal aja setengah-setengah, mana bisa dibawa ketingkat internasional. kalo kata mario teguh, memantaskan diri dulu~

      :-d :-d :-d

      Delete
  5. Iya juga, ya. Berarti nggak usahlah itu nyebut budaya barat atau timur. Kita pakai utara atau selatan aja. Ehehe. :|

    Masih ada Deltras dan Madura United yang namanya nggak pakai per, Haw. XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. boleh, Yogs. budaya selatan. malah kayak ibrahimovic.

      united kan persatuan.. ada arema juga sih. Iya, berarti masih ada harapan, Yogs, makanya harus berusaha lebih keras lagi. :-d

      Delete
  6. Selain fisika, sekarang ada subtema khusus geografi, bang? Pelajaran lain tambahin sekalian dong, bang. Bahasa mandarin gitu misalnya.

    Saking tertutupnya, saya yang anak barat (Indonesia bagian barat dan Jakarta Barat) nggak sempet kepikiran sama hal ini. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kagaaaaaakkk... Kamu aja, Rob, yang bikin tema pelajaran. Dulu kan blognya bernama pelajar-pelajar gitu.

      Makanya, tinggal di kota yang nggak cuma tertutup, tapi juga bisa dibuka. kan ada itu kota yg bisa dibuka dan ditutup. Kota Lawang. lawang itu pintu, pintu bisa dibuka dan ditutup~

      Delete
  7. Ada pepatah "...hati manusia siapa yg tahu" jadi memang pakaian dan apapun yang nampak di mata tidak bisa menggambarkan isi hati manusia,

    Jadi yg pakaian terbuka, pasti ada orang baik dan ada orang buruknya.. Begitu juga yg pakaian tertutup pasti ada yang baik dan ada yg buruk juga..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo objeknya individu, tentunya gabisa dinilai. paling2 bakal lari ke "kembali/tergantung manusianya", kalo udah begitu, gaperlu ada survey atau penelitian. gaperlu ada zodiak2an atau sifat berdasarkan golongan darah dan sejenisnya.

      ini penilaian berdasarkan rata2 atau yg sering terlihat aja. tentunya, semua kebaikan itu pasti ada di setiap yg dianggap keburukan.

      Delete
  8. Setiap wilayah atau daerah punya ciri khasnya masing masing, punya budaya dan seninya masing masing, punya keunikannya masing-masing, bangga banget deh di Indonesia ini semuanya ada, gak perlu keluar negeri lagi, selain di setiap wilayah juga wisatanya keren keren, peninggalan budayanya, peninggalan bersejatahnya, aaahhhh kerennn bangettt dan semua ada yang kita mau , kita mau apa, kita mau ini juga ada...

    Jadi yang tinggal di Indonesia harus bangga dlu bisa jadi warga negara Indonesia, dan kalo bisa, bisa explore di seluruh Indonesia ini biar bisa tau adat dan istiadat setiap daerahnya, menyenangkan banget dan orangnya juga enak diajak ngomong dan KERENNNNN BANGET LAH, gak bisa ngomong apa apa lagi , yang penting KEREN DAN MEJINGGGGG!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener. harus kenal indonesia gitu biar lebih menghargai sesama dan jadi lebih terbuka..

      Delete
  9. tapi di jakarta banyak yg ketimuran soalnya busananya udah mulai buka2an :v
    tapi kenapa buka2an lebih identik dengan barat ya :/ kan realnya yg bukaan itu malah yg timur. apa jangan2 ini konspirasi yang telah dirancang oleh para elit.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha... jangan pusing2 deh mikirnya, Lam, entar tersesat dalam datar dan bulat. kayak bumi. soalnya, dalam buka-bukaan, akan menampilkan "datar dan bulat" juga.

      Delete
  10. Bener uga sih. Indonesia bagian barat: pakaiannya tertutup, pemikirannya juga tertutup. Heuh.

    Semoga Indonesia makin bisa menerima perbedaan lah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. dulu udah bisa nerima dengan lapang dada, bahkan bangga. entah kenapa makin ke sini mulai menutup diri.. @@,

      Delete
    2. Berarti ada yang salah How..

      Delete
    3. Iya, kayaknya. entah mulai salahnya di mana. tapi kalo semua bisa sadar kalo ada yg salah, nggak perlu nyari di mana salahnya sih, langsung bertenggang rasa, bertolerensi dan kembali saling menolong aja.

      Delete

--Berkomentarlah dengan baik, sopan, nyambung dan pengertian. Kan, lumayan bisa diajak jadian~