Jika Energi Kinetik Bisa Menghasilkan Panas, Bisakah Kita Memasak Ayam Dengan Cara Menamparnya?

menampar-ayam
1) Bisa tidak, ya?
Assalamu’alaikum…

Di malam tahun baru 2021 kemarin, di kampung saya nggak ada perayaannya. Selain karena memang tidak ada tradisinya sejak lama, ancaman pandemi, juga kondisi keuangan, saat ini orang-orang yang memelihara ayam juga jauh lebih waspada. Kandangnya dipasangin kamera.

Karena tidak ada perayaannya, di malam pergantian tahun tersebut, saya memilih memantau perbincangan di grup WA tentang rencana teman-teman yang bisa merayakannya. Janjian kumpul di rumah siapa, mulai jam berapa, patungan berapa, dan lain sebagainya. 

Di tengah perbincangan tersebut, ada yang nyeletuk, “Kalau tak mau bawa arang, kaulah nanti yang masak ayamnya pakai cara ditampar. Bakal matang juga kayak waktu kau ditampar kepala sekolah dulu.” 

Memang, peristiwa penempelengannya beneran terjadi. Akibat ketahuan minum alkohol di hutan samping sekolah. Ketika pelajaran Fisika, guru pengampunya juga menyindir. “Energi kinetik atau energi gerak bisa menjadi energi panas, contohnya kayak yang kamu (nunjuk teman yang kena tampar) alami kemarin. Panas, kan, saat ditempeleng?” diimbuhi suara tawa beliau. 

Kok, ya, dia bawa-bawa pengalaman sakit begitu di saat ngebahas masak ayam buat malam tahun baruan. Nambah acara berantem aja di pergantian tahun. Namun, celetukannya itu menggelitik juga. 

Apa bisa, ya, masak ayam dengan cara menamparnya? 

Energi memang tidak bisa diciptakan maupun dimusnahkan, tapi bisa diubah menjadi energi lain. Sebelumnya saya juga pernah membahas tentang memanaskan air dengan cara dikatain, yang merupakan peristiwa perubahan energi suara menjadi energi panas. Ternyata bisa. 

Kali ini, untuk kasus memasak ayam dengan cara menamparnya, bakal bisa juga nggak, ya? Yang perlu diketahui berarti di temperatur berapa ayamnya bisa dikatakan matang, berapa massa daging ayamnya, massa jenisnya, kapasitas kalornya/kalor jenis, massa tangan manusia, dan kecepatan tamparannya. Pokoknya disesuaikan dengan formula 1/2mv^2=mcT yang merupakan formula konversi energi kinetik menjadi energi panas. 
ayam-panggang
2) Segini lah kira-kira matang yang diharapkan
Rencananya, kita mau memasak ayam dengan sekali tamparan, artinya hal yang perlu kita ketahui adalah berapa kecepatan tamparan kita agar sekali plak ayamnya sudah matang. Daging ayam bisa dikatakan matang saat suhunya sudah 205 °C, suhu awalnya kita anggap saja 5 °C (setelah disimpan kulkas), berat daging ayamnya 1 kg dan kalor jenisnya 2720 J/kg°C. 

Berarti energi yang diperlukan untuk memasak daging ayam tersebut adalah, 

Q = mcT 

Q = 1 kg . 2720 J/kg°C . (205-5) °C 

Q = 1 . 2720 . 200 = 544000 J 

Rata-rata tangan manusia memiliki massa sebesar 0,4 kg dan kecepatan tamparannya 11 m/s yang menghasilkan peningkatan panas sebesar 0,0089 °C. Namun, karena kita mau memasaknya dalam sekali tamparan, maka kita perlu mencari kecepatan tamparan yang seharusnya agar daging ayamnya matang. 

1/2 mv^2=mcT 

0,5 . 0,4 kg . v^2 = 544000 J 

0,2 v^2 = 544000 

v^2 = 544000/0,2 = 2720000 

v = √2720000 ≈ 1649 m/s 

Jadi, agar daging ayamnya bisa matang, kita perlu menamparnya dengan kecepatan 1649 meter per detik atau 5936,4 kilometer per jam. Setara dengan kecepatan rotasi bumi. 

Nggak bisa, dong, berarti? 

Iya. Selain kita nggak bisa mencapai kecepatan tamparan sebesar itu, keadaan daging ayamnya juga pasti mengenaskan. Daging, bertumbukan dengan benda secepat 1649 meter per detik, hancur yang ada. Eh, entah dagingnya masih ada apa lenyap berhamburan. 

Belom lagi nasib tangan kita yang menamparnya. Ayam dan tangan kita itu kurang lebih sama. Sama-sama tulang dan daging berbalut kulit. Kalo kita menampar daging ayam dengan kecepatan ribuan meter per detik, yang matang nggak cuma daging ayamnya. 

Namun, memasak ayam dengan api atau pemanas lain, kan, juga nggak langsung matang. Perlu rentang waktu tertentu. Yang artinya, panasnya berlangsung kontinyu atau terus menerus meski apinya kecil. Bukankah jadi kepikiran? Tamparan menghasilkan panas, daging ayamnya pasti juga bisa dipanaskan jika panas yang dihasilkan tamparan ini berlangsung lebih lama. 

Bagaimana kalo tamparannya dilakukan terus menerus? 

Karena ini melibatkan gesekan atau tumbukan, cara tersebut tetap sulit dilakukan. Sebab, setelah tamparan pertama, tentu ada jeda untuk tamparan berikutnya. Pada waktu jeda tersebut, akan terjadi proses pendinginan. Artinya, panas yang dihasilkan dari tamparan pertama akan berkurang. Mau nggak mau menaikkan kecepatan juga. Belum lagi dikurangi temperatur lingkungan sekitarnya. 
ayamnya-hancur
3) Ayamnya hancur
Namun, yang tetap jadi persoalan utama dalam memasak daging ayam dengan cara menamparnya adalah keutuhan dagingnya. Batu yang dipukul terus menerus saja hancur lebur. Ini daging. 

Jika masih penasaran, silakan coba sendiri. Bikin alat penampar sederhana, yang penting ada penampang untuk memukul daging ayamnya dan penampang tersebut berputar terus menerus. Kalo mematok kecepatan rata-rata tamparan manusia, seharusnya hanya memerlukan sekitar 200 °C : 0,0089 °C = 22471 kali tamparan agar dagingnya matang. 

Selamat menampar~ 


Sumber gambar: 
1) Channel Youtube Because Science (https://www.youtube.com/watch?app=desktop&v=2CmOsrdXl0E)
2) https://www.mamacoopskitchen.co.uk/how-to-cook-a-chicken-in-the-slow-cooker/
3) Channel Youtube Louis Weisz (https://www.youtube.com/watch?v=68L6JA_CnmU)
Previous Post
Next Post

Oleh:

Terima kasih telah membaca artikel yang berjudul Jika Energi Kinetik Bisa Menghasilkan Panas, Bisakah Kita Memasak Ayam Dengan Cara Menamparnya? Apabila ada pertanyaan atau keperluan kerja sama, hubungi saya melalui kontak di menu bar, atau melalui surel: how.hawadis@gmail.com

4 komentar:

  1. Sejujurnya, Haw, saya saat membaca tulisan modelan begini sering berkata dalam hati: Ini kenapa Haw kurang kerjaan banget, sih? Enggak jelas banget memikirkan hal yang sudah pasti enggak akan diterapkan di kenyataan. Meski begitu, di lain sisi ada rasa takjub karena kok bisa-bisanya berpikir sejauh ini, menjadikannya lelucon yang menghibur.

    Saya masih membayangkan masak ayam dengan ditampar, saya jadikan samsak atas kegagalan hidup, khususnya cinta. Haha. Tailah. XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngikut otak aja saya mah, Yog. otak lagi seneng bikin beginian ya turutin, kesian dipake mikir sedih mulu sedari lama. ahahaha

      mending ayamnya dijual, Yog. dapet duit, duitnya buat apa? beli ayam lagi dan dijadiin samsak.

      Hapus
  2. cara ngitung 0,0089 celcius gimana mas haw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu bukan saya yg ngitung, melainkan dari referensi tentang jumlah kalor yg tercipta saat orang kena tampar rata2nya segitu, sambi cari2 aja di gugel, kayaknya saya lupa memasukkannya di artikel.

      Hapus

--Berkomentarlah dengan baik, sopan, nyambung dan pengertian. Kan, lumayan bisa diajak jadian~