Thursday, 11 June 2015

Howhaw #159: Lebih Baik Menjadi Orang yang Munafik

Assalamu’alaikum...

Menjadi orang yang baik merupakan hal yang diinginkan dan dianjurkan oleh banyak orang. Namun, ketika seseorang malah melakukan tindakan yang tidak baik, dia malah mencari pembenaran dan menyalahkan orang lain. Padahal sikap tersebut malah semakin menjauhkan dari keinginannya semula.

Misalnya, ketahuan ngambil duit di kotak amal, dia bakal nyari objek lain buat disalah-salahin. “Itu pejabat ngambil uang rakyat kenapa kalian diamkan?” Atau mungkin ketahuan sedang bermain raba-raba, dia bakal berkilah, “Jangan sok suci deh, Lo. Kayak yang nggak pernah aja, jangan muna, deh.” Tiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, namun menggunakan alasan tersebut sebagai pembelaan diri agar dibebaskan dari kesalahan, merupakan tindakan yang salah. 

Tak hanya tentang melakukan kesalahan, saat melihat orang lain—yang dikenal bejat—melakukan dan mengajak berbuat baik, banyak orang yang mencibirnya. “Ngajak dan nyuruh orang berbuat baik, dia sendiri aja kelakuannya begitu.” Kenapa mesti dicibir? Salahkah kalo maling menyuruh jangan mencuri?

Banyak yang membenci orang munafik
Orang munafik adalah orang yang ucapannya tidak sesuai dengan tindakannya. Misal, ngakunya nggak cinta, padahal ngarep luar biasa. Dasar diriku. Di pergaulan sehari-hari, orang yang dianggap munafik adalah orang yang—di depan—ucapannya mengandung banyak kebaikan, tetapi—di belakang—tindakannya melahirkan umpatan. Atau yang penampilannya alim, tapi kelakuannya zalim.

howhaw
Yakin?
Seperti punya teman yang alim dalam keseharian. Suka ngasih nasihat-nasihat untuk berbuat baik. Tapi, ternyata tiap malem kerjaannya mabuk-mabukan. Maka si teman ini akan dicap munafik, dan jika menyampaikan kebaikan lagi, nggak bakal ada yang mau mendengarkan.

Karena hal tersebut, banyak orang yang kemudian memilih terang-terangan aja mengaku kalo dirinya nggak baik. Kemudian makin banyak yang ikutan, lama-lama mereka semakin bangga dengan perbuatan tidak baiknya. “Yang penting tidak munafik”, begitu kilahnya.

Padahal jadi orang munafik itu lebih baik
Ini pendapat pribadi saya aja sih. Kalo berbicara tentang munafik dan bangga maksiat, saya lebih menyukai orang munafik. Karena orang munafik adalah orang yang masih punya rasa malu. Dia suka bermaksiat, namun karena malu, dia memilih untuk bermuka dua.

Kalo kita punya aib, malu nggak jika ketahuan orang? Saya bakal malu, sih. Dan bakal menjaga agar orang lain tidak sampai mengetahuinya. Selain karena harga diri, juga agar nggak makin banyak yang ikutan.

Tapi ada loh orang yang dengan bangganya memamerkan aibnya. Misal, dengan bangganya mengatakan dirinya sudah melakukan hubungan di luar nikah. Memang dia nggak munafik, namun ketidakmunafikannya bisa merusak moral banyak orang. Kita pasti tahu, udah banyak orang yang melakukan perbuatan sepertinya. Namun, masih malu-malu untuk mengakui.

howhaw

Dengan adanya orang yang membanggakan aibnya tersebut, semakin banyak orang yang kemudian merasa banyak temannya. Karena banyak temannya, dia bakal terus melakukan. Yang sebelumnya tidak mau melakukan pun bakal jadi tertarik ikutan. Perasaan memiliki banyak teman memang bisa mendatangkan rasa aman. Namun, kalo merasa banyak teman dalam hal begituan, @MUWIMRAMIREZ bakalan sedih.

Coba kalo dia munafik, dia bakal merahasiakannya. Menutup aibnya dengan rapat. Nggak bakal merusak lebih banyak orang.

Dibanding yang membanggakan aib, bukankah munafik lebih baik?
Berdasarkan ajaran moral dan agama, melakukan perbuatan maksiat udah pasti berdosa. Berbuat baik yang dibangga-banggakan juga dianggap perbuatan tercela. Jadi, jika membanggakan perbuatan maksiat. Dosanya triple. Maksiatnya, sikap membangga-banggakan dirinya dan perbuatan orang lain yang ikutan karenanya.



Baca juga: Walo Kata Seleb Jangan Mikirin Bagus Jelek, Dalam Berkarya Harus Mikirin Akibatnya

Saya pernah dan masih punya teman seorang perokok, pemabuk, pemakai dan yang pernah ‘berhubungan’ bebas. Ketika kami ngumpul bareng, sikapnya biasa. Menganjurkan untuk menjaga ibadah dan melakukan perbuatan baik lainnya. Seolah saya dan teman lainnya nggak tahu perbuatannya kalo sedang tidak bersama. Iya, munafik.

Suatu kali, saya pernah menyindirnya tentang perbuatan buruknya tersebut, lalu mengandaikan bagaimana kalo saya juga ikutan. Dia sadar kalo kami tahu. Lalu dia berkata, “Aku tahu buruknya barang itu. Teman macam apa yang mau menjerumuskan teman baiknya untuk melakukan kesalahan yang sama?”

howhaw
Begitu pikir saya

Dia memang teman yang munafik. Menyuruh orang untuk berbuat baik, padahal dia sendiri berkelakuan buruk. Tapi saya menyukai orang sepertinya. Kalo saja dia tidak munafik, mungkin kami semua sudah ikutan karena ajakannya. Dan sepertinya saya lebih munafik. Mengaku teman baiknya, tapi membiarkan dia tetap melakukan perbuatan tercela.

Jadi, kalian lebih suka jadi orang yang membanggakan aib, atau menjadi orang yang munafik? 


NB: Ini hanya permainan kalimat dengan rumus perbandingan aja, kok. Karena yang lebih baik adalah jadi orang yang tidak membanggakan aib diri dan juga tidak munafik. Ketika ada dua hal buruk yang dibandingkan, salah satunya pasti akan terlihat baik. Dan jika ada dua hal baik yang dibandingkan, salah satunya akan dianggap buruk. Padahal sama baiknya. Seperti lebih baik mana antara menghafal atau memahami. Jadi, jangan suka membanding-bandingkan, ya.



Sumber gambar:
https://ask.fm/achiisumirat/best 
https://berandamadina.wordpress.com/category/al-milal-wan-nihal-akidah-aliran-pemikiran-dan-ideologi/page/2/
https://katarayuan.com/2014/10/21/kata-kata-sindiran-buat-cowo-pemabuk/
Previous Post
Next Post

Oleh:

Terima kasih telah membaca artikel yang berjudul Howhaw #159: Lebih Baik Menjadi Orang yang Munafik Apabila ada pertanyaan atau keperluan kerja sama, hubungi saya melalui kontak di menu bar, atau melalui surel: how.hawadis@gmail.com

57 comments:

  1. Tapi yang munafik bikin kecele kan, awal kenal udah ekspektasi baik, eh setelah tau aslinya ternyata begitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trus ditinggalkan... tanpa mencoba mengubahnya. :(

      Delete
  2. Bener deh mas How. Aku dulu punya temen, cewek. Dia preman banget. Kami semua tau kalo dia hobi merokok. Tapi pas ada temen cewek yg juga ikutan ngerokok, dia langsung marah sambil bilang, '' cukup aku aja yg bejat. Kalian gak usah ikutan aku. Jangan niru2 nakalnya aku. Aku gak mau kalian kayak aku ''
    Gitu mas How. Baik banget yak. Dia munafik didepan kami semua supaya kami gak terpengaruh nakalnya dia.

    Bener apa yg dijelaskan tadi :)

    ReplyDelete
  3. Susah memang orang yang hobi berpikiran kritis. Postingannya pas dibaca, selalu bikin aku ngelepas headset.

    Inti dari postingan ini adalah kalau mau berbuat dosa cukup berbuat dosa sendiri, gak perlu diumbar bahkan sampe ngajak orang untuk ikutan berbuat dosa juga. Bener kah Haw?

    Jujur aku suka ngomong kasar macam what the fuck, bajingan, dan semacamnya, dengan maksud bercanda aja sih. Aku gak maksa orang buat nerima gaya bercandaanku itu, bahkan ngikutin bercandaanku. Pikirku, jangan lah mulutnya 'sekotor' aku kalau ngomong. Nggg Haw, ini termasuk munafik atau pamer aib sih? :/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bikin ngelepas headset..ini baca postingan apa ngadepin user~

      Iya, begitu. kalo nggak bisa mendatangkan kebaikan buat orang lain, jangan mengajaknya untuk melakukan keburukan.

      wa... nggak tahu, coba kasi kontak Nanda dulu biar entar aku sampein melalui dia. :-bd

      Delete
    2. Hahahahaha. Bawa-bawa kerjaan ane. Ngadepin postingan yang harus diseriusin kayak user, lebih tepatnya.

      Jadi sama aja kayak kalau kita gak bisa nyuruh orang buat tidur aja gak usah begadang, jangan mengajaknya untuk tidur bareng ya, Haw?

      Perasaan udah aku kasih deh........

      Delete
    3. Kan kalo ngadepin use mesti lepas headset juga~ postingannya aja nih yang diseriusin? orangnya nggak diseriusin juga ama adeknya :v

      Iyah, sakarepmu... hahahah...

      apaan, kontak makanan cepet ngaji...

      Delete
  4. udah lama gak baca tulisan tulisan lu haw, makin keren aja nih. Pemikiran lu tuh asik banget, cara penyampaiannya juga gampang dipahami aaaaak keyen.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku dikomentarin begini ama yang udah seminar.... :)

      Delete
  5. aduh, jadi hilang fokus gara-gara percakapan di atas ^ (,")?

    ya lebih baik jadi munafik kalau begitu. Harus ada rasa malu kalo melakukan hal buruk, malu abis melakukan hal buruk, kan lama-lama malu buat melakukannya, jadi tobat deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hilang...mau aku cariin, kak?

      Iya. Karena malu merupakan sebagian dari iman. Namun sekarang, banyak manusia yang sudah kehilangan rasa malunya. Dalam berbagai hal. :(

      Delete
  6. Cara nulismu itu kadang bikin gimana ya haaaa.. Pokoknya kena aja dah -D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... cuma memutar-mutar dan membalik-balik logika aja, bang...

      Delete
  7. Ciri khas lu kayaknya udah keren banget, ya. Nggak ada yang bisa ngikutin. Ciyee gitu. :)

    Gue juga munafik dong soal urusan cinta. Memendam perasaan mulu, kalo ditanya temen nggak mau ngaku. Hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal aku sendiri nggak tahu tulisanku ciri khasnya begimana... Arman aja bilang tulisanku berubah, berarti ciri khasnya berganti dong... @@,

      hahaha.... eh, masa iya? seorang Yoga juga bisa begitu?

      Delete
    2. Selalu ada teori-teori fisika gitulah. Terus ya, nggak tau. Udah keseringan baca tulisan lu, jadi hafal aja. :D

      Inget soal Yuni? Dulu gue kan nggak pernah berani ngomong sama dia. :)

      Delete
    3. Aku juga sempat ngerasain gaya tulisan Bang Haw yang berubah... Kalo gak salah sih di postingan tentang OSPEK itu deh, bang. Ga tau kenapa, kayaknya tulisannya gak terlalu hawhaw. Eh, howhaw maksudku.

      Aku juga masih ingat loh sama si Yuni, Yog. Yang hijaban, putih, dan nemenin kamu ke taman BSD itu kan? Huahaha. Gapapa Yog, jangan bilang suka kalo belum siap. Ntar aja, langsung nemuin orang tuanya :))

      Delete
    4. Padahal aku sedang mencai jati diri bentuk tulisan, makanya nyoba macem-macem.

      Padahal mention-mentionannya kemaren itu udah brrrave banget. kalo nggak salah ada kalimat, "emang kamu bakal bahagia kalo aku jadian ama orang lain?" gitu kata yuni. dan lu jawab apa, ya.... lupa.

      Iya, Dar, aku sendiri ngerasa kaku banget di postingan itu, entar aku coba yang lebih kaku lagi.

      Delete
    5. Mau lebih kaku lagi, bang? Sini aku siramin formalin.

      Delete
    6. Oh... FORMALin bisa bikin kaku rupanya...
      pantes kalo di acara-acara formal, aku ngerasa kaku gitu...

      Delete
  8. mantep nih haw bahasan nya.

    temen saya termasuk apa nih, dia suka mabuk, kadang ngelinting (tapi alhamdulillah sekarang udah engga). Dia bilang gini pas awal pertama saya temenan sama mereka dan ikut kumpul.
    "kamu minum? kamu suka ini? (nunjukin lintingan)
    saya bilang, enggak. karena emang enggak.
    "Saya cuma ngerokok sama minum kopi" saya bilang gitu.
    "bagus" dia bilang.
    terus dia jelasin ini itu dan ga baiknya buat saya yang belum pernah kayak gitu dan jangan sampai dan bla blabla.

    itu termasuk ? termasuk baik kali ya, haw ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu mah jujur sedari awal.... gak bangga juga.. cuma mungkin udah kecanduan. :(

      Delete
  9. Betul, betul. Jadilah orang baik dan tidak munafik. Biar pas ngajak temen berbuat baik, gak diceramahin balik. Siap. Postingan yang sangat bermoral.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Dan nggak perlu jadi makhluk smepurna dulu kalo mau ngajak kebaikan. Langsung aja. :-d

      Delete
  10. Kalo baca ini jadi munafik masuk akal sih... Tapi kayaknya ada satu poin yang nggak dijelaskan kenapa kita harus nggak boleh jadi munafik :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... kalo itu mah udah diajarin sedari kecil ama guru dan ustaz.

      Delete
  11. Iya tapi yang dimaksudkan "munafik" disini hanyalah seruan dari orang yang tidak mau disalahkan ya mas... Saya mah cuma bisa menunjukan kelebihan saja, Tapi tidak dengan ucapan...

    Biarkan orang menilai apa, Tapi pada dasarnya jika orang menilai kita munafik, berarti kita sangat diperhatikan. Sosweet banget kan...

    Dunia sudah kebalik , aib saja diumbar, itu urat malunya udah putus kali yah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bisa jadi begitu, karena yang menyombongkan aib juga seruan dari orang yg nggak mau disalahkan.

      soswit.... hahaha...

      namanya juga hidup, trus berputar.

      Delete
  12. iya ya mas, saat ini banyak para koruptor yang tidak malu ketika mereka telah nyata berbuat korupsi, bahkan ada tu yang melambaikan tangan ketika disorot kamera, memang dunia ini sudah edan ya heehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu dia maksudnya, udah sedikit yang punya rasa malu/ :-d

      Delete
  13. yaaa.... emm, entahlah. apa munafik itu lebih baik atau enggak. sebenernya gue rada benci sama temen2 gue yang munafik, kebanyakan temen cewek sih kalau munafik. pingin gue injek2 rasanya. tapi.. membanggakan aib juga bukan sesuatu yg baik. nanti dikecam sama orang2 sekitar juga. gue jadi bingung. entah harus jujur apa adanya, atau melakukan pencitraan dan bermain aman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. dua-duanya nggak baik, kok, Jev. ini artikel cuma sebagai pertunjukan bahwa dengan membandingkan, kita bisa mengubah keburukan menjadi telihat mulia.

      berusaha jadi orang baik itu tetep wajib.

      Delete
  14. oke. ini mind-blowing banget. gua gak tau harus ngomong apa. soalnya udah tertanam pikirian kalau munafik itu gak baik. haha. tapi kalau gini, kok malah kebalik ya.
    ternyata ada untungnya juga jadi munafik. mari menjadi generasi munafik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ilmu perbandingan, Man, penyebabnya. kita bisa leluasa mengubah keburukan menjadi kebaikan. makanya aku nggak setiap ada perbandingan dua hal. *kecuali dalam pelajaran*

      Jangaaaaaannnnn.....

      Delete
  15. Akhirnya nyampe juga di kolom komentar yang ini, setelah melewati komen-komen rusuh di atas haha.

    Sebenernya, ada banyak hal yang mau aku debat dari artikel ini. Tapi kata Bu Ustadzah berdebat itu gak baik. Yaudah, gak jadi aja ngedebatnya.

    Itu, pertanyaan yang "Jadi, kalian lebih suka jadi orang yang membanggakan aib, atau menjadi orang yang munafik?". Kalau ini soal SBMPTN, gak bakal aku jawab. Gak ada yang bener pilihannya. Sama kayak pertanyaan "Jadi kamu mau masuk surga tapi gak di-ridhoi, atau masuk neraka tapi di-ridhoi?". Pertanyaannya ngejebak :/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Blogmu mau dirusuhin juga, nggak, Dar? pay per komen, tapi.

      Debat aja. aku nggak bakal ngebales kalo tentang ini. aku udah sengaja nggak pake ilmunya pak ustaz, karena kalo dipake, pas ngetik kalimat pertama tentang munafik aja udah langsung selesai. munafik itu sifat tercela, bahkan jadi peringatan khusus dalam surah sendiri, al munafiqun.

      lagian, inti pembahasanku bukan dari judulnya, kok, aku cuma mau menunjukkan kalo sikap membanding-bandingkan itu berbahaya. bisa mengubah hal buruk terlihat mulia.

      Delete
    2. Dirusuhin gratisan aja aku ogah, ini malah ditawarin pay per komen~ Emangnya tarif per komennya berapa sih? Sini aku bayar.

      Iya bang. Aku ngeh sama inti tulisannya. Cuma yang aku kurang sreg itu penggunaan kata munafik disini. Kalau munafik di al-munafiqun kan ada keterangannya kalau mereka menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Nah kalau yang kamu contohin ini terkesan seseorang yang gak mau ngejerumusin orang lain. Biarin aja diri dia sendiri yang ancur, asal orang lain enggak. Gitu.

      Eh ini aku enggak ngedebat koook. Percaya deh :))

      Oh iya... Itu... Judul berita "Bangga hilang dara" dapat dari koran paan sih bang? Malaysia?
      Degel eh judulnye xD

      Delete
    3. Yang gak berminat dilarang nanya harga!

      Itu dia poinnya. Dengan permainan kalimat perbandingan, munafik aja jadi kayak baik banget. Nggak ngejerumusin. Padahal kenyataannya.... "yang penting gue selamat, yang lain bodo amat"

      Eh, iye ye.... mirip ama namamu, Dar. Berarti kau degel juak, Dar... =)D

      Delete
    4. Apenye yang degel tok, bang eh? Si an ade juak~

      Nyak am, kula madah tih, bang. Kalau poin dari tulisan tuk sih kula setuju. Jaman tuk dah banyak urang dah putus urat malu ah. Ngapai bah, nok? Mada tereti kula :/

      *Ya Alloh, aku ngetik komentar apa ini. Nyampur-nyampur gitu bahasanya*

      Delete
    5. "sian ade"? hahahaha....

      udah takdirnya kali, i. @@,

      Delete
    6. Eh?!? "Sian ade"? Ya Alloh, berantakan banget grammar aku. Harus kursus dulu nih nampaknye.

      Maapkanlah biak Pontianak tok i, maseh sering tesilap kate~

      Delete
    7. Iya, maap juga lah kalo ade kaki telajak ke muke~

      Delete
  16. tapi membandingkan itu sangat sulit di hindari. pasti aja ada. entah itu untuk memotipasi atau lain2.
    tp membandingkan itu ada ajah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mang. sulit, tapi bisa dikurangi. disatu sisi memotivasi, tapi disisi lain pada yang dibandingkan juga terdapat merendahkan. biasanya sih gitu.

      Delete
  17. kalo bisamah baik semuanya aja begituh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. "kita memang bukan makhluk sempurna, namun bukan berarti harus selalu berdebu"

      Delete
  18. bang haw haw emang ya ada aja teorinya :-bd

    ReplyDelete
    Replies
    1. Teori hawhaw (bodo) tepatnya. hahahahaw...

      Delete
  19. Bang lu makan apa, sih?
    Kok teorinya keren" bgt. Cerdas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. @DarmaKusumah: Makannya nasi jagung~ Lalapnya lalap kangkung~ wek wek kung~

      Delete
  20. Jadi orang munafik? Kenapa ngga jadian aja, Haw? :3

    ReplyDelete
  21. Lama-lama gue suka sama blog ini. -_-

    ReplyDelete
  22. Di sini aku nggak mau ngomentarin soal munafik. Menurutku, setiap orang punya argumen masing-masing, nggak ada yang salah kalau argumennya benar. Yang pasti, aku salut sama sudut pandang ente dalam melihat munafik ini. keren..

    ReplyDelete
  23. Kok malah fokus di komen si Wulan sama Chisana ya... Hahaha

    Jadi intinya kalo berbuat dosa jangan diumbar, karena itu membuka aib, cukup diri sendiri aja yang tau...

    ReplyDelete

--Berkomentarlah dengan baik, sopan, nyambung dan pengertian. Kan, lumayan bisa diajak jadian~