Tuesday, 12 May 2015

Howhaw #155: [Cerbung] Persil 1 - Kepergian Adit

Hadi terus memacu motornya lebih cepat, menyalip dengan sigap kendaraan di depannya. Dia terus menambah kecepatan, bagaikan seorang mahasiswa yang kesiangan, ngebut agar tidak terlambat. Dan memang, saat itu matahari sedang berada tepat di atasnya dan dirinya sedang terlambat. Debu berterbangan di atas jalan aspal yang rusak berlubang. Sudah banyak orang yang menjadi korban jalan tersebut, karena melepas tangan untuk mengucek matanya yang kelilipan. Namun tetap saja kata ‘terlambat’ terlihat lebih mematikan.

Beberapa saat sebelumnya, Hadi berada di dalam kelas memperhatikan dosennya menjelaskan tugas Studio Perancangan Bangunan Tinggi. Tiba-tiba handphone di saku celananya bergetar. Sebuah pesan dari Aryo, sahabatnya sejak SMA.


Adit meninggal bunuh diri. Aku sedang menuju ke rumahnya. Wira juga akan ke sana.

Tubuh Hadi bergetar membaca pesan singkat tersebut. Tanpa pikir panjang lagi, dia maju ke depan. Berbicara dengan dosennya bahwa kerabat di rumahnya meninggal dan dia minta izin pulang. Dosen tersebut menatapnya sebentar, mengangguk dan mengucapkan kalimat belasungkawa.

Dalam perjalanan menuju rumah Adit, banyak pertanyaan dan dugaan yang menghampirinya. Salah satu pertanyaan yang selalu muncul di kepalanya adalah tentang kematian Adit. Kenapa dia bunuh diri? Padahal selama ini Adit tak pernah memiliki permasalahan yang besar. Bahkan dalam obrolannya suatu hari, Adit mengatakan sangat membenci manusia yang menyerah dalam hidup.

Petanyaan tersebut mengalihkan fokusnya dalam melihat jalan. Kalau saja dia tidak segera sadar, dirinya pasti sudah menabrak mobil yang berjalan lambat di depannya. Siang itu jalanan di ibukota tidak terlihat ramai. Memang beberapa kali Hadi harus melambatkan laju motornya, namun tidak sampai menemui kemacetan. Entah karena kebetulan atau karena Tuhan yang mempermudah dan mempersilakan dirinya untuk melihat dan menguburkan jenazah sahabatnya.

*****
Ketika masih sekolah, Hadi, Aryo, Wira dan Adit adalah anak-anak yang sangat popular. Mereka menamakan kelompoknya Celestial. Tak hanya berkumpul membentuk geng, mereka juga membentuk sebuah band dengan nama yang sama. Diidolakan dan dikirimi surat cinta sudah menjadi keseharian mereka. Sudah sewajarnya, selain wajah yang tampan, mereka juga memiliki pribadi yang baik, berbakat dan rekam akademik yang membanggakan.

Beberapa kali menjadi juara satu perlombaan dan penelitian fisika, bahkan olimpiade fisika tingkat nasional, membuat Hadi selalu disenyumi dan dijadikan sebagai contoh siswa teladan oleh para gurunya. Wira, kapten tim basket, bersama timnya dia sudah menyumbangkan piala juara pertama untuk sekolahnya lebih dari delapan kali. Juara satu lomba melukis dan menulis kaligrafi membuat Adit sering dimintai tolong oleh tetangganya untuk membuatkan kaligrafi yang akan dipasang di dinding masjid. Keahliannya tersebut sering menjadi sarana pendekatan (modus) teman-teman wanita di sekolahnya agar dibuatkan sketsa wajah mereka. Dan terakhir, Aryo, yang namanya sudah tercetak di beberapa kolom puisi dalam banyak surat kabar. Serta pernah bersanding dengan penyair terkenal di beberapa buku antologi puisi.

Meskipun digandrungi temen-teman wanitanya, tak satupun dari mereka yang memilih untuk pacaran. Ketika ditanya kenapa oleh teman-teman sekolahnya, mereka selalu menjawab, “Belum ada yang sreg aja.” Begitulah sikap manusia yang sedang jadi idola. Memutuskan untuk memilih satu pasangan sama saja seperti membuang banyak kasih cinta. Namun, mereka juga tidak bermaksud untuk mendapatkan semua. Hanya saja, di usia SMA, mereka merasa masih belum waktunya.

*****
Motor Hadi berhenti di depan rumah tetangga Adit, diparkirnya di tepi jalan dan bersama anak-anak kecil yang berlarian, dia langsung menuju rumah Adit. Saat memasuki ruang tamu, Hadi melihat Wira dan Aryo sedang membacakan doa di samping tubuh Adit yang terbaring di atas tilam. Hadi lalu melakukan hal yang sama seperti kedua temannya.

Prosesi pemakaman jenazah Adit dilangsungkan beberapa saat setelah itu. Hadi, Aryo dan Wira ikut membantu memikul dan menguburkan. Setelah pemakaman selesai, rumah Adit sudah tidak seramai sebelumnya. Para tetangga dan tamu lainnya telah pulang. Hadi, Aryo dan Wira memutuskan untuk berbincang sebentar dengan keluarga sahabatnya tersebut. Mengucapkan kalimat berduka dan beberapa kali kalimat untuk bersabar.

“Apa Adit terlihat aneh atau memiliki masalah sebelumnya, Bu?” tanya Aryo pada ibunya Adit. Dia menggeleng dan menjelaskan bahwa sikap Adit sama seperti biasanya. Keluarga lainnya pun mengatakan hal yang sama. Hadi, Aryo dan Wira kemudian mohon izin untuk masuk ke kamar Adit. Sekadar mengenang. Atau bila beruntung, mendapatkan petunjuk penyebab kematiannya.

Mereka bertiga kemudian memeriksa tiap sudut kamar. Memandang haru lukisan dan kaligrafi yang dibuat Adit dan dipajang di dinding kamarnya. Indah. Kata itu yang keluar dari mulut mereka. Meskipun sudah beberapa kali melihat lukisan Adit, tapi sejak masuk perguruan tinggi, baru kali ini mereka melihat lukisan Adit yang baru. Jauh lebih baik dari saat masih sekolah.

Saat memeriksa kumpulan buku yang ada di rak, Hadi menemukan sebuah buku harian yang berisi selembar foto perempuan. Wajahnya oval, cerah memancarkan keceriaan, matanya bulat jernih, berhidung mancung dan memiliki rambut lurus terurai.

“Hei...wajahnya sama seperti ketiga lukisan itu,” ucap Wira sambil menunjuk lukisan di dinding yang menghadap tepat ke tempat tidur. Hadi dan Adit menatap lukisan yang ditunjuk Wira, lalu membandingkannya dengan foto tersebut.

“Jika tidur di sini, ketika bangun, lukisan-lukisan itu adalah yang pertama kali dilihat. Berarti perempuan ini amatlah spesial,” ucap Hadi.

Mereka kemudian membuka tiap lembar buku harian tersebut. Dan benar, perempuan itu amatlah spesial bagi Adit. Dari catatan dan puisi yang tertulis di dalamnya, mereka memastikan bahwa Adit sangat mencintai perempuan di foto tersebut. Perempuan itu sepertinya juga menaruh hati kepada Adit. Terlihat dari catatan yang ada di bagian tengah buku yang menceritakan mereka berdua sering jalan berdua dan saling memberi hadiah. Tapi, ketika rasa cinta Adit sudah membuncah dan minta diutarakan, ternyata cintanya tidak berbalas.

“Perempuan ini sudah ­nge-PHP­­-in Adit,” Wira menyimpulkan. Hadi dan Aryo juga berpikiran sama.

Mereka bertiga kemudian mohon diri untuk pulang dan meminta untuk membawa buku catatan harian Adit tersebut. Ibunya mengiyakan. Setelah meninggalkan rumah Adit, mereka menuju kafe Strawberry, tempat yang sering mereka datangi ketika masih SMA. Mereka bermaksud mengadakan rapat dan membuat rencana.

“Singkatnya, kita harus membalas perbuatan perempuan tersebut tiga kali lipat. Kita buat perempuan ini sangat mencintai kita, lalu ketika cintanya sudah sangat besar, kita tinggalkan dia,” ucap Wira memaparkan rencananya.

“Kita bertiga mendekatinya langsung?” tanya Hadi.

“Kalo dilihat dari catatan Adit tentang sikapnya, kemungkinannya hanya satu dari kita yang akan dia cintai. Itu pun jika kita berhasil membuatnya jatuh cinta pada kita,” ucap Aryo.

Selayaknya kapten tim basket, Wira lalu memaparkan rencananya tersebut. Mereka harus mendekatinya bergantian tapi dalam waktu berdekatan. Pertimbangannya, jika harus menunggu satu orang yang mendekati dan membuatnya patah hati, untuk selanjutnya dia bakal susah didekati. Selain itu, jika dilakukan bergantian dengan rentang waktu yang jauh, dia malah akan menjadi kebal terhadap patah hati. Karena alasan itulah, mereka harus mendekatinya di waktu berdekatan.

“Jika kita bertiga berhasil mendekatinya dan membuat dia menaruh hati pada kita bertiga, saat itu kita tinggalkan. Mula-mula satu orang terdekatnya yang pergi. Dia pasti akan mencari orang kedua terdekat. Saat itu orang kedua yang dituju, yang berarti salah satu dari kita, juga harus menjauh. Tak ada pilihan lain baginya selain mendatangi orang ketiga terdekatnya. Nah, saat dia mendatangi orang ketiga tersebut, misal orang ketiga itu Hadi, maka Hadi harus menerima kehadirannya dan mengajaknya bertemu di suatu tempat. Tapi di tempat tersebut, Hadi harus terlihat sedang bermesraan dengan wanita lain. Bagaimana?” tanya Wira meminta pendapat tentang rencananya.

Hadi berpikir sejenak. Aryo menganggukkan kepalanya pelan-pelan dengan segaris senyum terkembang. Mereka bertiga sepakat.

“Tapi kalo mendekatinya dalam waktu berdekatan begitu, apa dia nggak bakal curiga?” tanya Hadi.

“Kalo kita secara gamblang mendekatinya, dia pasti akan curiga. Karena itu, pertama-tama kita harus menjadi bayangan di sekitarnya. Berkelebat di tiap tempat yang didatanginya. Misalnya, perempuan ini kan sering ke perpustakaan daerah, salah satu dari kita harus pergi ke perpustakaan tersebut. Duduk membaca di sekitarnya. Tapi jangan sampai ketahuan kalo kita memperhatikannya. Jika sudah berselang beberapa waktu, kita buat suatu keadaan tidak sengaja yang membuat dia dan kita harus berbicara. Kalo di FTV biasanya itu tabrakan badan, air minum nggak sengaja tumpah ketika makan bakso dan lain-lainnya. Saat itulah, kita mulai memasuki dunianya lebih dalam,” jelas Wira. Hadi dan Aryo tersenyum seperti seorang pemenang.

“Perempuan ini namanya Berlian Felisia, dipanggil ‘Liyan’. Mahasiswi Komunikasi Universitas Pancasila. Aryo, kamu yang pertama mendekati dia, ya!” pinta Wira.

“Oke, akan kubuat dia tergila-gila dengan puisi-puisiku.”


Bersambung.....

*****
Haloha, kali ini teman-teman #memfiksikan mengajak bermain sambung cerita. Jadi, cerita yang saya buat ini akan disambung oleh teman yang lain. Tantangannya, kita nggak bakal tahu akhirnya bakal seperti apa dan kejadian apa yang akan ditulis oleh teman yang lain. Melatih kreativitas gitu lah.

Ketika mau mem-publish cerita ini, baru nyadar kalo ceritanya pendek. Padahal waktu diketik di Microsoft udah lumayan panjang. Emangnya ada pengaruhnya, ya, ngetik dengan font 24? Tapi nggak apa-apa deh, semoga cerita pengantar ini bisa menjadi pembuka cerita yang baik. Kalo nggak baik, bilang, ya! Mau saya masukin pesantren.

memfiksikan

Karena ceritanya disambung oleh teman yang lain, berarti lanjutan cerita ini bakal nongol di blognya dia. Jika tertarik dengan lanjutan cerita ini, ya pantau-pantaulah blog teman-teman #memfiksikan. Bakal diupdate di sini juga kok. Atau kalo mau ikutan nyambung cerita, hubungi admin @memfiksikan atau @prtiwiyuliana, ya!

Previous Post
Next Post

Oleh:

Terima kasih telah membaca artikel yang berjudul Howhaw #155: [Cerbung] Persil 1 - Kepergian Adit Apabila ada pertanyaan atau keperluan kerja sama, hubungi saya melalui kontak di menu bar, atau melalui surel: how.hawadis@gmail.com

36 comments:

  1. Jadi ini merupakan cerbung, dan antara penulis cerita pertama dan lanjutannya gak terikat outline? Hmmm... Iya sih, melatih kreatifitas. Tapi gak tau lah, ntar lihat sambungannya aja gimana jadinya :)

    Itu si Adit pasti bukan anak teknik kan? Soalnya aku pernah ngelayat temenku yang anak teknik dan pelayatnya gak abis-abis. Anak teknik rame banget yang ikutan melayat. Pokoknya mereka solid banget dah. Kekeluargaannya erat. Salut!

    Eh ini kenapa pula jadi ngomentarin anak teknik ._.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Kemarin juga sempet ngebahas outline, tapi lebih sepakat gak pake outline aja. Ditunggu aja, Dar. temen-temen #memfiksikan jago-jago banget kalo bikin cerita.

      Padahal gak semua anak teknik sama kayak teknik di Untan. Di kampus lain kan kegiatan ospeknya per prodi, gak sekaligus sefakultas.

      Delete
  2. aduhhh lagi bunuh diri karena cinta .. jahat amat yak cinta ..?? mmm

    gue kira bakal lo lanjutin sendri bang cerbungnya ..??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak lah, ini kan cerita bersama/berantai, awalnya mau kutulis certai (cerita berantai) di keterangan judulnya, tapi nyebutnya gak enak. :v

      Delete
  3. aku dulu sering bikin cerita berantai gini, sempat dibukukan juga hihihihi..ditunggu lanjutannya yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa wa wa... bisa smape dibukukan begitu O_o semoga cerita ini bisa mengalami nasib yang sama.

      Delete
  4. kenapa boleh diizinin sama dosennya ya? Tapi keren ceritanya, sayangnya dilanjutkan diblog lain, padahal ceritanya bagus nih ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengalaman soalnya, untuk kelas arsitektur di kampus saya, penjelasan tugas itu berarti ngomongin tentang tugas yang akan diberikan (belum masuk tugas), ditambah lagi kalo ada tugas kelasnya jadi studio, ngapain aja boleh asal tugasnya selesai. Ada beberapa kampus yang bersistem sama, ada juga yang beda.

      Lah, kan maish tetap bisa dibaca. entar juga bakal aku update kok linknya.

      Delete
  5. Anjirrrrr. Ini ide yang lu bilang pas di Twitter, kan? WAKAKAKAKAKAK. Gue merasa ini 4 orang adalah lu, gue, Agung dan Arman. Yang udah mati siapa, nih? XD
    Taeeeee bener.

    Gue nggak mau melanjutkan. Kuota gue krisis. *kabur*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. yang waktu itu. eeee.... padahal aku gak bermaksud ke situ, e tapi iya juga ya. kita lakinya berempat.

      entar lu juga bakal dapet giliran, Yog. hahaha...

      Delete
  6. Mantap deh, jujur aku nggak bisa buat tulisan seperti ini :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan aku juga nggak bisa bikin tulisan traveling seperti Bang Nas. :v

      Delete
  7. Wah, cerita bersambung yang ditulis banyak penulis secara bergantian, seru nih kayaknya, jadi pengen ikut :D

    Ini kenapa malah pengen balas dendam sih, kan mereka pas SMA kesannya baik gitu, kok malah langsung berpikiran jahat gitu ketika temennya meninggal dan malah ingin balas dendam, apa gunanya prestasi yang seabrek kelakuannya bobrok ._.

    Oh iya, itu berapa kali menang olimpiade fisika tingkat nasional? Kalau kagak salah sih, kalau udah pernah juara, kagak boleh ikut lagi dah :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ikutan aja~ yuk~

      Haha..itu pertanyaan yang mesti dijawab di cerita-cerita sambungannya. biarkan teman lain yang menjelaskan kenapa. hahahaha...

      Iya, itu kesalahan saya. aku edit lagi deh. terima kasih, Bang. *suka banget dapat komentar begini*

      Delete
  8. Kirain tadinya tadinya mau menyelidiki ala-ala detektif gitu, ternyata balas dendam. Etapi belum tau juga endingnya kayak gimana. Hawadis selalu penuh kejutan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Nggo. Belum ketahuan sepenuhnya. Lagian, ini juga masih cerita awal.

      Delete
  9. ngeri ngeri sedap klo ada kejadian bunuh diri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apanya yang sedap coba dari orang yang bunuh diri?

      Delete
  10. Kok mikirnya si Liyan yang PHP-in Adit? Bisa aja kan kebalikannya, trus Adit merasa nyesel trus bunuh diri? :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha... lihat entar aja di sambungannya. Masih banyak juga yg belom terkuak kok. Itu si Liyan kan tertulis sering jalan bersama, berarti akrab, tapi kenapa nggak datang pas si Adit meninggal?

      *tuh, masih banyak kan...*

      Delete
    2. APA KEMUNGKINAN LIYAN BUNUH DIRI JUGAAAAK??? T_T *mulai baper*

      Delete
    3. Tau tuh, Liyan kemana. Kalo bunuh diri jugak, ceritanya bakal langsung tamat ini. :v

      *ini yang laen gak mau ngelanjutin apa...*

      Delete
    4. Yang laen mungkin sudah menyerah.. :(

      Delete
    5. kusedih. kayaknya bakal aku lanjutin sendiri deh @@,

      Delete
  11. Font 24 itu udah lumayan gede lo bang haw, apalagi pake font kaya arial

    Ini aku malah mikir kayak teka-teki gitu, jadi disuruh menyelidiki kenapa si adit ini bisa bunub diri. Penasaran nih, lanjutannya kapan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha...iya sih.

      Itu salah satunya. Liat entar temen nyambungnya begimana deh.

      Delete
  12. Kamu kalau bikin cerita emang bikin tanda tanya sis How. Paling nggak bisa bikin yang baca tambah penasaran. Penasaran sama certinya lho buka penulisnya.
    Jadi kelanjutannya akan di update di blog ini atau kayak gimana ni?

    Yang ngelanjutinnya udah mikir keras nih, biar ceritanya nyambung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, pak guru. ceritanya yang bikin penasaran, orangnya mah pasaran.
      Kesepakatannya sih bakal dilanjut di blog temen, linknya aja yang bakal dicantumin.

      hahaha, aku mah nyorakin doang. sapa suruh gak mau yang pertama. :ng

      Delete
  13. Mas how.. ceritanya bikin kepo.
    AYO CEPEET LANJUTIN

    *gak sabar

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak apa-apa kepo doang kan. asal jangan kumpul kepo aja. entar ditangkep polisi.


      *perhatian: Tiw, Man, Yog, Rim, Gung...lanjutin buruan!*

      Delete
    2. itu kebo mas, KEBO
      K E B O

      *ayo semangat, Tiwi, Oman, Yogi, Rima, Agung
      (nebak) :ng

      Delete
    3. Gak ada bedanya, kok. Karena P adalah B yang sedang hamil.

      Oman...hahaha.. Arman dan Yoga, Kak. Lainnya sih bener. :-d

      Delete
    4. HAHAAAA gak nyangka deh bisa bener. tiwi,rima sm agungnya.
      Saya terharuuu..hikss..

      eeh ma How, itu Yoga maksudnya Yoga akbar sholihin itu?
      Itu loh, Yoga yg jomblo itu, yg gak ada pacar.


      *maap yog, keceplosan

      Delete
    5. xD Ini mereka malah nyuruh lanjutin sendiri. parah!

      Iya, dia. jomblonya karena baru putus. beda denganku, jomblonya karena belom pernah jadian. :|

      Delete
  14. kayaknya cerbung ini lebih baik elu yang terusin deh. gua yang baca aja jadi penasaran. gimana mau ikutan nulis. hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini ide elu. Gue setting yang jago puisi buat ngelanjutin pertama (Tiwi atau Agung). hahahaha...

      pokoknya kalo udah ada lanjutan dari Tiwi, elu mesti ikutan nyambung.

      Delete

--Berkomentarlah dengan baik, sopan, nyambung dan pengertian. Kan, lumayan bisa diajak jadian~