Review: Ember Plastik Bekas Wadah Cat Tembok

Assalamu’alaikum…

Ember, berasal dari bahasa Belanda yaitu emmer, merupakan alat yang kedap air dengan bentuk silinder. Bagian bawahnya datar, sedangkan bagian atasnya terbuka dan biasanya dilengkapi pegangan berbentuk setengah lingkaran. Di kehidupan sehari-hari, ember lebih banyak digunakan untuk mangangkut atau menampung air. Walau tak sedikit pula yang menggunakannya untuk mengangkut pasir dan bahan makanan.

Di dalam bahasa pergaulan, ember juga sering sekali digunakan untuk mempertegas kalimat pernyataan. Misal,

“Foto di Instagram kalo di-tap dua kali ternyata jadi ke-love, ya?”

“Embeeeeerrr.”

Dalam hal tersebut, ember artinya memang, yang sering juga dianggap sebagai kependekan dari ‘emang bener’. Di pergaulan orang asing, ember juga sering digunakan, loh. Untuk merayu tepatnya. Pernah itu ada yang bales-balesan mention di media sosial yang bilang begini, “Your love is glowing like an ember in my soul.” Ternyata di luar negeri, ember bisa romantis juga, gak cuma bisa bocor.
review
Ember bekas wadah cat tembok
Dalam artikel kali ini, saya akan me-review ember plastik bekas wadah cat tembok. Kenapa harus ember itu yang dibahas? Karena ember itulah yang saya punya dan sering saya gunakan. Kan, kalo review itu lebih afdol kalo objeknya memang sudah lama kita tahu/kenal, sudah kita gunakan atau sudah kita miliki. Masa iya nge-review bilang baik, pengertian, tapi kenal dan saling bicara aja nggak. Yekan?

“Embeeeeerrr.”

Untuk merek catnya sendiri, saya sudah lupa. Gambar dan tulisannya sudah pudar. Tahunya ember plastik bekas wadah cat tembok doang. Karena bentuk dan bahannya rata-rata sama, jadi ember plastik bekas wadah cat tembok dengan merek cat apa aja bebas, ya. Asal bukan yang cat-calling. Itu meresahkan warga.

Dibanding ember dengan merek terkenal, ember plastik bekas wadah cat tembok ternyata lebih kokoh. Ketika bersamaan mendapatkan kedua jenis ember (beli ember langsung di pasar dan ember bekas wadah cat, yang sama-sama terbuat dari bahan plastik) dan digunakan dengan kapasitas sama, diletakkan di tempat dengan sinar matahari yang sama, ternyata, setelah hampir setahun, ember yang beli di pasar sudah bocor dan rapuh. Sedangkan ember bekas wadah cat masih terlihat bagus.

Di rumah teman saya, juga terdapat ember plastik bekas wadah cat tembok. Sama-sama digunakan untuk menampung air untuk mencuci. Selain ember tersebut, terdapat juga ember lain yang dibeli di pasar. Di rumahnya, ada bibinya yang bernama Mak Emi. Beliau biasanya yang melakukan pekerjaan mencuci pakaian dan selalu menggunakan kedua ember tersebut, selain menggunakan bak cuci yang warna hitam. Beliau memiliki dua orang anak lelaki yang usianya sekitar enam dan tujuh tahun. Kedua anaknya sangat nakal dan sering berantem.
review
Ember plastik yang dibeli di pasar
Suatu hari, kedua anaknya saling memukul dan salah satunya lari menuju emaknya. Ketika itu, emaknya (Mak Emi) sedang mencuci. Melihat perilaku kedua anaknya yang sampai-sampai membuat salah satunya menangis, beliau marah besar. Dengan sigap, beliau mengambil ember plastik yang dibeli di pasar yang belum diisi air. Lalu beliau memukulkan ember tersebut sepenuh tenaga kasih ke bokong kedua anaknya beberapa kali. Dan apa yang terjadi?

Ember plastik yang dibeli di pasar tersebut pecah. Di lain waktu, karena anaknya memang bandel, kejadian tersebut berulang kembali. Kali itu beliau memukul bokong kedua anaknya menggunakan ember plastik bekas wadah cat tembok dengan tenaga kasih yang sama besarnya. Tidak seperti ember plastik yang dibeli di pasar, ember bekas wadah cat tembok tersebut masih kokoh. Nasib anaknya? Saya tidak tahu. Saya terlalu fokus memperhatikan keadaan embernya. Profesionalitas, jadi mesti totalitas. Yekan?

“Embeeeeerrr.”

Nah, dengan uji coba seperti itu, terlihat jelas bahwa ember plastik bekas wadah cat tembok memang sangat kuat. Jika ingin membuktikannya sendiri, anda bisa mencoba duduk di atas ember yang berbeda, yang embernya sudah dibalik (menghadap ke bawah), di depan emak. Dan rasakan omelannya ketika duduk di ember yang dibeli di pasar.

Untuk menampung dan memindahkan, bukan untuk menyimpan

Kekokohan ember tersebut selain karena lebih tebal, juga karena bentuknya yang silinder hampir lurus. Artinya, tidak terlalu mengecil di bawah, yang membuat pembebanan serat plastiknya lebih lurus dan membuat kekuatannya lebih optimal. Berdasarkan ukurannya, ember plastik bekas wadah cat tembok juga lebih besar dibanding ember plastik lain. Hal ini tentunya membuat daya tampungnya lebih besar.
review
Ember bekas wadah cat dilengkapi penutup yang rapat
Yang perlu diingat, ember fungsinya untuk menampung dan memindahkan. Bukan menyimpan. Penggunaannya, barang/air yang ditampung harus segera dipindahkan atau dicurahkan. Jika selesai, langsung dikosongkan. Menggunakan ember sebagai media penyimpanan bukan tidak bisa, hanya saja harus sesuai kondisi dan harus dikondisikan. Misal untuk menyimpan barang yang tidak boleh terkena udara, ember yang digunakan harus dikondisikan memiliki penutup yang sangat rapat. Yekan?

“Embeeeeerrr.”

Kabar baiknya, ember plastik bekas wadah cat tembok ini juga disertai dengan penutup. Bawaan pabrik untuk menyimpan catnya. Jadi bisa digunakan sebagai alternatif tempat menyimpan barang lainnya.

Sama halnya dengan orang yang disebut mulutnya ember

Awalnya saya pikir karena ember mudah bocor, makanya orang yang suka membocorkan rahasia dibilang mulut ember. Ternyata bukan. Terlebih setelah menggunakan ember plastik bekas wadah cat tembok yang tidak gampang bocor. Bukan karena mudah bocornya, melainkan karena secara fungsi, ember memang untuk menampung dan memindahkan. Orang yang mulutnya ember juga awalnya menampung curhatan seseorang, lalu setelahnya langsung memindahkan/mencurahkannya pada orang yang lain lagi. Bawaan pabrik. Ember kan lahirnya di pabrik. Yekan?

“Embeeeeerrr.”

review

Namun, apakah orang yang mulutnya ember tidak bisa dijadikan tempat menyimpan? Bisa. Tapi harus lihat kondisi dan dikondisikan. Kalo curhatan yang mesti disimpan hanya tentang kita, ya bakalan tercurah ke orang lain lagi. Coba lihat kondisi saat akan curhat. Atau dikondisikan agar yang mulutnya ember terlibat langsung dengan risiko jika diketahui banyak orang. Dengan begitu, dia akan pikir-pikir dulu sebelum cerita ke orang lain.

Sialnya, kadang yang mulutnya ember juga nggak kenal malu. Udah kayak ember yang nggak ada penutupnya, eh bocor pula. Nampung nggak bisa, nyimpen apalagi. Kalo orang yang nggak bisa menyimpan rahasia disebut mulut ember, berarti kalo orangnya bisa menyimpan rahasia, bolehlah kita sebut dengan mulut celengan. Kan, celengan untuk menyimpan. Yekan?

“Embeeeeerrr.”


review
Mulut celengan kayak itu, Bang?

Ketika ditumpuk, susah dilepas

Ini merupakan kekurangan yang dimiliki ember plastik bekas wadah cat tembok. Bentuk yang lebih besar dan lebih kokoh juga menyebabkan lebih susah dilepas ketika banyak ember yang sama disimpan dengan cara ditumpuk. Saya pernah harus memutar-mutarnya dengan tenaga besar agar ember tersebut bisa dilepas. Memang berhasil pada akhirnya, tapi tenaga dan waktu yang dibuang terasa berharga hanya untuk melepaskannya. Padahal waktu dan tenaga tersebut mestinya digunakan untuk ngangkut air.

Untuk menyiasati hal tersebut, saya teringat trik pada kursi plastik yang diberi lubang untuk memudahkan pelepasan kursi dari tumpukannya. Akhirnya saya melubangi bagian bawah ember plastik bekas wadah cat tembok tersebut. Dan ketika ditumpuk lalu dilepaskan, tiada kesulitan yang saya temukan. Gampang. Tapi setelahnya, saya nggak bisa menampung dan ngangkut air lagi. Ngapain ember saya lubangi hanya untuk memudahkan pelepasan dari tumpukannya? Mendingan naronya jangan ditumpuk. Bego banget. “Embeeeeerrr”

Woii… belom juga bilang ‘yekan?’

review
Kalo ditumpuk begitu, ngelepasnya susah
Jadi, ya, begitulah. Salah saya, fokus pada masalah sepele tanpa mempertimbangkan hakikat fungsi dari ember tersebut. Gegara terlalu sering ngalamin dan ngeliat orang-orang yang fokus nyari siapa yang salah sambil saling menghina. Tanpa mempertimbangkan hakikat manusia yang saling membutuhkan dan indahnya tinggal bersama dalam kedamaian.

Oke, sekian review tentang ember plastik bekas wadah cat temboknya. Semoga ada manfaatnya dan menjadi pertimbangan kelak ketika akan memilih ember yang akan dijadikan hadiah untuk pasangan atau dijadikan souvenir pernikahan. Kali aja bisa membuat dia bahagia.

“Waaaaa.. ini kan barang yang kokoh, bisa dipakai untuk menampung air ketika aku mencuci dan bisa juga dipakai untuk menyimpan beras. Yekan?”

“Embeeeeerrr.”

Sumber gambar:
http://www.gscmovies.com.my/ghost-coins/
https://www.tokopedia.com/cfs-shop/ember-bekas-cat-ember-hidroponik-365cm
https://indonesian.alibaba.com/product-detail/18liter-printed-plastic-pp-bucket-for-coating-latex-paint-or-other-chemical-products-60153282296.html
http://www.thepicta.com/tag/pantat/J0HV_EBUgAAAF0HV-8woAAAAFhIA
https://www.lazada.co.id/claris-ember-12-l-biru-2519381.html
http://nuramijaya.com/ember-plastik-untuk-menanam-tanaman-air/
Previous Post
Next Post

Oleh:

Terima kasih telah membaca artikel yang berjudul Review: Ember Plastik Bekas Wadah Cat Tembok Apabila ada pertanyaan atau keperluan kerja sama, hubungi saya melalui kontak di menu bar, atau melalui surel: how.hawadis@gmail.com

17 komentar:

  1. Betapa review ini sangat membantu emak-emak di supermarket yang gundah hatinya milih-milih ember.
    Baca review ember sepanjang ini dan mendapatkan pesan moral dalam dua kalimat. すごい (pake tulisan kana biar gak ditanya bahasa inggris atau Jepang)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... ngambil di lokasi proyek aja~

      wooohh... amazing, selebtwit itu kan yak, Wi? @@,

      Hapus
  2. Qhu ingin berqhata embeeeerrrrr 😄

    BalasHapus
  3. sungguh keputusan yang sangat mulia. belom ada orang yang sededikasi itu dalam hidupnya... |o|

    BalasHapus
  4. Q : mak, ember bekas cat yang biasa buat nyuci baju dimana mak?
    A : lah, kagak ada itu di kamar mandi emang?
    Q : kagak mak?
    A : oh iya lupa, kemaren di pinjem sama si haw yg katanya blogger itu, mau buat review-review apa gitu?
    Q : oalah, pantesan ilang. belum dibalikin sampai sekarang mak?
    A : lah, kalau kagak ada di kamar mandi, berati belum tong. emang bener-bener dia...kagak tau adab minjem barang. udah 7 hari belom dibalikin juga. ngeselin, yekan?

    *embeeeer*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Njiiirrrr... gue dapet embernya nyolong di proyekan... :ng

      Hapus
  5. Ember kalo ditumpuk ngelepasnya memang susah bang, tapi lebih susah melepaskan dia dan merelakannya bahagia dengan orang lain sih.

    btw, mau nanya nih bang, kalo ketahanan dari ember gebuk yang dijual abang-abang keliling itu lebih tahan mana ya sama ember plastik bekas wadah cat tembok?
    Maqasy bang.
    (Wulan, dari tadi)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa iyaaa? Kabarnya, mantanmu udah nikah kan, Ul? dan kamu sendiri udah jadian dengan yg lebih baik. Melepaskan nggak sesusah itu~ :-d

      ember gebuk itu yang kayak mana daaaaahhhh? tapi jawabanku tetep, ember bekas cat tembok paling kuat. karena ada kata temboknya. kayak MUKA TEMBOK.

      Hapus
    2. Ka-kamu tau dari mana kalo mantanku udah nikah baaangg?

      Hapus
    3. Bener ya? Nebak, Ul. Kan sekitar dua/tiga tahun lalu kamu pernah cerita di blog kalo udah sampe ketemu orangtua buat serius. Terus dia ngilang ampe dua tahun. Dia sendiri katamu udah dewasa. Kalkulasiin aja, udah dewasa, ngilang lama, padahal udah siap menikah, dan udah lewat beberapa tahun ampe sekarang, berarti kan dia sekarang udah nikah.

      Maaf, Ul, jadi dibahas begini.

      Hapus
  6. Mulut celengan. HAHAHAHAAHAHAHA. Kalau kata Njus, "Cukup lucu!"

    Aku setuju soal definisi mulut ember yang dituliskan di sini, Haw. Makanya kadang iya sih, ada orang yang mau cerita terbuka soal dirinya, kalau kitanya udah cerita terbuka soal diri kita. Jadi sama-sama tau dan sama-sama pikir-pikir dulu sebelum 'memindahkan' cerita itu ke orang lain.

    Btw ini review yang bangkek banget dah. Segala ada catcalling. Sebagai cowok bajingak bertampang anak baik-baik, kamu pasti pernah catcalling kan? Huahahaha. Ku ingin berkata,

    "Embeeerrrrrrrrr."

    *kabur naik buraq*

    *menghindari jawaban jangan-segampang-itu-menilai*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekali-kali kek Njus beneran yg bilang. Masa aku gapernah dicukuplucuin ama Landhiani. @@,

      iya iya, sama-sama megang kendali jadinya yak. :ng

      kagak pernah, Cha. tapi dicatcallingin cewek sering. beneran.

      Hapus
  7. Yak, rumah gue juga pakainya ember bekas cat. Hahaha. Kampretlah. Itu ember emang awet. Dari zaman gue SD sampai sekarang masih setia. :)

    Kalo bencong yang ngomong, "Emberaaan, Cyinnn~"

    Aduh, daripada curhat sama mulut ember bocor, ya sekalian aja curhat di blog. Yekan?

    "EMBER!"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan dengan keawetan begitu, orang2 masih silau dengan warna warni ember pasar yg mudha pecah.

      hahaha.. saya belom pernah denger bencong ngomong emberan begitu.. lu denger di mana daaahhh... :ng

      :-bd :-bd :-bd :-bd :-bd :-bd

      Hapus
  8. Ih ember bekas cat tuh kalau dicat ulang bagian luarnya jadi bagus... Meningkatkan nilai estetikanya. Sama juga gak sih sama mulut ember kalau didandanin?


    Lah ini bahas apa. Efek belum sahur. Wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku sempet mau masukin kalo ember yg udah bocor (Seabis kesalahanku di atas) bisa bermanfaat kalo jadi kerajinan. sama kayak manusia, yg ngurusin dan gosipin semua hal juga disebut "kerajinan/kayak gada kerjaan lain". :-bd tapi entah kenapa gakutulis, ada mempertimbangkan apa kemaren gitu.

      yaudah sahur dulu makanyaaa...

      Hapus

--Berkomentarlah dengan baik, sopan, nyambung dan pengertian. Kan, lumayan bisa diajak jadian~