Howhaw #170: Anak Kecil yang Hebat Adalah Anak yang Bisa Melakukan Apa yang Orang Dewasa Nggak Bisa ~ Production Haws

Howhaw #170: Anak Kecil yang Hebat Adalah Anak yang Bisa Melakukan Apa yang Orang Dewasa Nggak Bisa

Assalamu’alaikum...

Keindahan masa kecil selalu menjadi memori yang menyenangkan. Saking menyenangkannya, banyak orang yang ingin kembali ke masa-masa ketika mereka masih kecil. Bermain ke sana ke mari. Udah gede, tetep ke sana ke mari juga, sih, mencari alamat..*teng teng*. Namun, karena kemajuan zaman, menjadi anak kecil di masa sekarang itu sulit banget. Penuh persaingan yang mematikan.

Maksud mematikan tadi bukanlah tentang kehilangan nyawa, melainkan tentang matinya mental, keberanian, pertemanan, bahkan logika. Hal tersebut tak lain terjadi karena dipicu oleh kelakuan orang dewasa di sekitar mereka.

Pintar itu baik

Anak pintar adalah anak yang suka bertanya. Itu kalimat baik yang berlaku di zaman saya waktu kecil. Di zaman sekarang, kalimat itu udah nggak berlaku lagi, karena saat ini, anak yang pintar adalah anak yang bisa ngejawab.

“Satu tambah satu berapa, Dek?”

“Dua.”

“Ih, pintarnya~”

“Iya, kakak aja yang bego. Gitu aja nggak tau.”

howhaw
Saya tau
Menjawab pertanyaan seperti penjumlahan sederhana, nama sendiri atau nama binatang, merupakan hal yang biasa bagi orang dewasa. Tapi, jika yang menjawabnya adalah anak kecil, dia akan dianggap sebagai anak yang pintar. Apalagi jika anaknya bisa menjawab pertanyaan yang nggak bisa dijawab oleh orang dewasa. Beh, pasti dianggap jenius. Kayak pertanyaan,

“Pah, ini celana dalem siapa? Prasaan mamah nggak punya yang kayak begini.”

Papa: “Nggak tau, Mah. Mungkin mamah lupa pas belinya kali~”

Anaknya yang masih kecil: “Punya tante sebelah, Mah. Tadi malem nginep di sini.”

Gitu. Jadi, anak yang pintar di masa kini adalah anak yang bisa menjawab pertanyaan yang semestinya orang dewasa yang bisa menjawabnya.

Jago manjat tebing

Ada seorang balita yang namanya tercatat di buku rekor dunia karena hobinya yang suka memanjat tembok latihan panjat tebing. Yang tentunya tembok tersebut memiliki ukuran dan pijakan yang menyesuaikan. Padahal, Panjat tebing ini merupakan kegiatan ekstrim yang dilakukan orang dewasa. Menahan dan bertumpu pada pijakan perlu kekuatan. Dan anak balita mestinya belum sekuat itu untuk memanjat.

howhaw
Pemanjat
Tapi anak balita tersebut bisa, sehingga disebut sebagai anak yang hebat. Ajaib. Padahal urusan panjat-memanjat ini tidak semua orang dewasa bisa. Memanjat pohon kelapa aja masih pake tangga. Berarti, menjadi anak jago di masa sekarang adalah anak yang bisa melakukan apa yang orang dewasa nggak bisa.


howhaw
Takut Ketinggian

Lihai bernyanyi dan main alat musik

Sampe dibuat ajang pencarian bakat sendiri untuk anak-anak. Padahal sebelum-sebelumnya, ajang tersebut diadakan untuk orang dewasa. Di zaman dulu, untuk menjadi penyanyi, anak-anak nggak perlu suaranya pake efek yang macem-macem. Cukup bisa bersuara lantang, nggak gugup kamera, udah. Kayak Kiki yang lagunya “Berhitung”. Dia Cuma nyebutin “Ini satu, ini dua, ini tiga, berhitung berhitung berhitung” walo terbata. Tapi udah cukup jadi penyanyi anak-anak.

howhaw

Zaman sekarang, beh, suaranya mesti tinggi, pandai menari centil, dan waktu melengking kayak ada vibratornya. Biar keren. Itu loh, vibrator, yang kayak suara Rihanna lagi nyanyi. Padahal nggak semua orang dewasa bisa pake vibrator saat bernyanyi. xD

Bermain alat musik juga sama, asal yang mainnya anak kecil dan bagus pasti dibilang hebat. Kalo orang dewasa yang maininnya, dianggep biasa aja. Wajar, katanya. Misal yang kemaren masuk nominasi award itu, fokusnya apa? Masih kecil main pianonya jago banget. Penekanannya di “masih kecil”. Berarti kan sama kayak sebelumnya, di masa sekarang, anak kecil akan dibilang hebat kalo bisa memainkan alat musik selayaknya atau melebihi orang dewasa.

Pemberani

Ini berita terbaru yang ada anak kecil menghadang pengendara motor yang mengambil jatah pejalan kaki di trotoar. Komentar orang-orang seantero Indonesia apa? ‘Berani banget, padahal masih kecil’. Kata penekanannya itu di “masih kecil”-nya lagi. Terlebih, nggak ada orang dewasa yang berani, padahal mestinya orang dewasalah yang bisa melakukan hal tersebut. Jadi, anak kecil dianggap pemberani ketika dia bisa melakukan apa yang orang dewasa ragu-ragu atau takut-takut melakukannya.

howhaw
Pemberani

Maksud ngasih contoh hal-hal tersebut buat apa?

Untuk menunjukkan apa yang terjadi dengan dunia anak-anak saat ini. Karena mereka sering mendengar ucapan dari orang dewasa—termasuk orangtuanya—tentang anak yang hebat, tentunya mereka juga mau menjadi hebat. Tidak mau pun tetep akan dipaksa untuk mau. Demi membanggakan keluarga, katanya. Dari inilah hal yang mematikan itu berasal.

Matinya mental anak-anak ketika dirinya tidak bisa sepintar anak-anak lain dan terus dipaksa oleh orangtuanya untuk menjadi pintar. Dibanding-bandingkan dengan anak lain untuk memotivasi, padahal malah mematikan hati.

Keberaniannya juga bisa mati karena larangan untuk mencoba hal-hal lain. Mereka sejak kecil sudah diatur ke jalan yang satu yang orang dewasa menyebutnya bakat. Mencoba hal lain dikit, langsung dimarahi. Demi mendapatkan anak yang pintar dan membanggakan orangtuanya karena diarahkan sejak dini. Biar bisa menyombong, “Sejak kecil udah kami arahkan.”


howhaw
Nurut kata mamah!
Pertemanan sudah pasti ikutan mati. Persaingan yang besar, terlebih di tingkat sekolah, menciptakan kekhawatiran sendiri bagi para orangtua. Takut anaknya ikut-ikutan nakal seperti anak lain. Takut anaknya menjadi bodoh seperti anak lain. Takut kepintaran anaknya yang hasil kursus diambil secara gratis saat bermain oleh anak lain. Ujungnya malah dikasih gejet. Karena anak kecil yang melek teknologi dianggap pintar, iya, kan?

Logika anak-anak pun ikutan mati. Mereka ingin menjadi hebat. Ingin dipuji oleh orang-orang. Tapi untuk mengikuti kursus yang diperintahkan orangtuanya mereka tidak mampu. Tapi dari banyak hal yang menjadi pujian orang-orang, mereka belajar bahwa “Anak yang hebat adalah anak yang bisa melakukan apa yang orang dewasa tidak bisa lakukan.”

Jadi, jangan heran kalo ada anak kecil yang udah berhubungan suami istri selayaknya orang dewasa. Trus diaplot sendiri ke media sosial. Mereka Cuma mau dibilang hebat, karena bisa melakukan apa yang orang dewasa nggak bisa lakukan. Nggak ada orang dewasa yang berani ngaplotnya sendiri, kan?

Memang berat banget jadi anak zaman sekarang. Kalo anak zaman dulu, nggak ada yang sampe memiliki logika seperti itu. Berhubungan seperti orang dewasa. Trus diaplot ke fesbuk. Nggak ada. Saya udah baca banyak buku sejarah zaman dulu. Kagak ada itu yang mengisahkan: “Di tahun 1545, ada sepasang anak kecil yang berhubungan suami istri dan diaplot ke fesbuk”. Kagak ada. Beneran.


Sumber Gambar:
http://www.kaosdhikr.com/blog/bangga-karna-buah-hati-pintar-bersyukur
http://batam.tribunnews.com/2015/07/01/usia-19-bulan-bocah-ini-mampu-memanjat-tanpa-pengaman
http://www.lindseymaemusic.com/watch/berhitung-kiki-@-lagu-anak-anak/view-video/6968785a3947387578446f.html
https://beritagar.id/artikel/berita/ihwal-aksi-bocah-semarang-mengadang-motor-di-trotoar
http://health.liputan6.com/read/729817/ini-penyebab-anak-suka-tak-dengarkan-omongan-orangtua
Previous
Next Post »

39 comments

Click here for comments
29 April 2016 at 21:54 ×

Anak kecil saking lugunya jadi hebat hahahhahahha

Reply
avatar
khairul Leon
admin
30 April 2016 at 06:51 ×

Beda Zaman beda persepsi ..

Reply
avatar
Wida Zee
admin
30 April 2016 at 08:44 ×

Eh tapi anak kecil jaman sekarang juga udah pintar-pintar nyanyian anak dewasa lho seperti lagu-lagu cinta gitu atau lagu-lagu dangdut, contohnya aja keponakan aku yang hobinya nyanyi dangdut rita sugiarto ya alloh @@,

Reply
avatar
30 April 2016 at 08:52 ×

Mang tahun 1545 udah ada fesbuk ya?

Reply
avatar
30 April 2016 at 09:27 ×

Untung saya tremasuk anak jaman dulu, gak pernah tahu yang namanya uplot video hubungan badan. Itu karena gapteknya kebangetan. Hahahahaha.....
Udah cocok jadi mentri pendidikan.
Mungkin saja kehidupan jaman dulu gak seindah jaman sekarang kali ya, bertopeng yang namanya perkembangan jaman. Harus bisa mengikuti kalau gak jadi ketinggalan. *Katanya...

Reply
avatar
30 April 2016 at 09:49 ×

Setujuuuu bang. Anak kecil hebat adalah anak yg bisa melakukan yg orang dewasa nggak bisa lakukan. Salut dengan anak pemberani yg ngalangin pengendara motor itu. :-bd

Hahahahahaa vibrator yang kayak suara Rihanna maksudnya bang? Hahhahaa entah kenapa kalo ngomongin vibrator, aku jadi teringat Icha. :D Wkakaka *moga kamu ga baca Cha.

Reply
avatar
30 April 2016 at 11:22 ×

Iya, bang... Ada. Ada orang-orang yang terkungkung begitu lama, harus hidup di bawah harapan orang lain. Kasian kan ya :')

Bahkan masalah tentang "masih kecil" ini bukan hanya berlaku buat anak-anak, yak, bang. Wisudawan kan juga ada yang dapet predikat wisadawan termuda, toh? Dan banyak lagi lah predikat predikat lainnya~~~

Reply
avatar
Dwi Nanoki
admin
30 April 2016 at 13:00 ×

entah kenapa aku tetap sangat bersyukur dengan masa kecilku jaman dulu, gak perlu mikir untuk melakukan hal-hal hebat biar dibilang hebat, tapi tetap dapat pujian, sesekali.
Tentang anak yang menghadang pengendara motor di trotoar, harusnya komentarnya gini, 'harusnya kita sebagai orang dewasa memberi contoh yang benar kepada anak kecil, ini malah terbalik'.
Berjuanglah anak-anak jaman sekarang! perjuanganmu berat, nak.

Reply
avatar
30 April 2016 at 18:06 ×

Baca blog ini memang menambah wawasan dan pandangan.

Oia bang tentang anak yang menghentikan pengendara di trotoar bagi gue lebih cocok itu adalah wujud kepedulian, bukan pemberani. Kebanyakan orang dewasa enggan menegur karena enggak peduli karena itu enggak ngefek sama dia. Atau mungkin dia berkaca sebagai pejalan kaki dia juga pernah jalan berlima dipinggie jalan tapi bershaf yang bikin pengendara mengumpat...

Reply
avatar
30 April 2016 at 19:07 ×

Anak kecil yang hebat adalah anak yang sudah bisa melakukan apa yang orang dewasa lakukan, berarti anak kecil bisa bikin anak kecil sendiri dong, eh?

Pernah baca di blog seseorang kalau anak kecil jaman sekarang materialistis, masa pergaulannya udah ditentukan lewat dia diantar pake mobil apa. Kalo mobilnya jelek gak boleh main bareng.

Reply
avatar
30 April 2016 at 20:00 ×

Hwaaaah, hebat banget itu anak kecil bisa manjat tebing. Lah, gue aja nggak berani di ketingggian. :((

Yang berani itu si Daffa. Keren banget deh, bang. Gue aja yang udah mau 17 tahun nggak pernah berani buat negur karena udah kebayang bakal dibentak-bentak sama pelanggar.

Reply
avatar
Heru Arya
admin
30 April 2016 at 21:03 ×

Endingnya agak gimana ya haw? Gue sendiri ya gak akan nemu di zaman 1400-an orang punya facebook. Ya jelas nggak adalah haw.. :D

Oke, logika ini emang bener banget menurut gue dan gue setuju sama semua pandangan lo bahwa anak zaman sekarang itu bebannya berat. Mereka harus jadi hebat. Makanya, jangan harap untuk terlalu heran ya haw, kalo anak kecil bisa melakukan lebih dari yang orang dewasa lakukan.

Sama halnya tentang bakat. Beberapa kali gue kerap nemuin pembahasan tentang mencari jati diri anak sejak dini. Ini lebih tepatnya mengarahkan. Tapi, setelah gue pahami kembali kalimat itu. Sama kek yang lo pikirin. Jadi terkesan maksa.

Seharusnya, di masa anak-anak, mereka dipersilahkan mempelajari apapun. Untuk apa? Supaya mereka tidak bisa melakukan yang orang dewasa bisa lakukan. Jangan batasi arah mereka karena keegoisan pribadi masing-masing.

Soal waktu ya, mau gimana. Tapi, ini jelas kembali lagi ke lingkungan, sih. Karena, itu salah satu faktor supaya pribadi si anak dapat tetap sejalan sesuai dengan usianya.

Reply
avatar
1 May 2016 at 00:36 ×

Ngebandinginnya kejauhan bang haha masa iya ngebandinginnya tahun 1545 ? Itu kan jamannya Kerajaan Demak, bukan fesbuk X) ya ampun..

Haha tapi bener juga ya bang, anak-anak itu melakukan sesuatu yang tak bisa dilakukan oleh orang dewasa karena logika mereka belum terbentuk sepenuhnya. Kalo orang dewasa kan sudah ada logika penolakan, misalnya gini sebelum makan malam pas tengah malam pasti akan berpikiran "Kalo aku makan sekarang, ntar gendut, kalo gendut ntar dia ilfeel sama aku, kalo gendut aku jadi gak cantik/ganteng lagi, tapi kalo gak makan aku kelaperan, tapi kalo makan aku gendut" yang ada jadinya malah ketiduran sampai pagi..

Tapi beda sama anak-anak, jam berapa pun mereka lapar yg pasti dia makan, seolah2 logika mereka menjawab (kalo kasarnya begini) "persetan dengan gendut, perutku lapar. Gendut? bodo amat!"hahaha

Jadi logika anak kecil itu belum terkontaminasi dgn logika-logika yg terlalu banyak pikiran dan pertimbangan, logika anak kecil itu ya HAJAR DULU BLEH!

Reply
avatar
1 May 2016 at 08:10 ×

Hahahahahahahaha. Endingnya nggak nahan buat ngakak. Mood booster deh ini postingan.

Trus jenius banget jawaban dari anak di poin pertama itu, Haw. Itu juga karena anak kecil itu kelewat jujur dan polos gitu ya. Tapi kayaknya Papanya nggak bakal bilang anaknya itu jenius, malah bilang, "Punya anak bego banget sih, jadi ketahuan kan!" Eh Astagfirullah. Kasae banget ya kata-katanya :'D

Jadi ingat sama para ponakanku nih. Pada hobi main gejet. Pada takut nyoba hal-hal baru. Tunggu orangtuanya ngijinin dulu baru deh berani. Ponakanku pada takut salah. Padahal kan seru ya ngelihat anak kecil nyoba segala sesuatu. Nyoba gambar kek misalnya. Ponakanku, Tasya, biasanya nanya ke Mamanya, "Ma, kalau mau gambar atap rumah garisnya sampe mana?" Trus Mamanya kesel karena ditanyain terus. Jadinya malah bilang, "Ini Tasya nggak bakat ngegambar deh."Akhirnya setelah divonis gitu, Tasya jadi nggak mau gambar lagi. Dia takut salah. Eh ini nyambung nggak sih sama postingan ini :(

Reply
avatar
1 May 2016 at 20:17 ×

Sumpah, gue bingung mau komen apaan ini. Udah pada dikomentarin semua.
Nah, kadang pencarian bakat pada anak ini suka bikin minder orang dewasa.

Tahun 1545 aja Mark belum lahir, Haw. :(

Reply
avatar
2 May 2016 at 08:48 ×

Baca ini jadi inget lagunya diatas rata-rata yang Jangan remehkan.

Setiap anak itu hebat, bukan berarti kecil gak bisa apa-apa.
Bahkan kadang bisa lebih daripada orang dewasa.

Reply
avatar
Anjani
admin
2 May 2016 at 15:55 ×

dua jempol deh buat anak kecil hebat-hebat

Reply
avatar
3 May 2016 at 14:48 ×

beda zaman, makin kesini makin hancur

Reply
avatar
How Haw
admin
5 May 2016 at 13:50 ×

Hahahaa....iya, Bang, nas. langsung menyimpulkan begitu saja.

Reply
avatar
How Haw
admin
5 May 2016 at 13:56 ×

Iya, beda kebahagiaan dan beda kesedihananya juga. :D

Reply
avatar
How Haw
admin
5 May 2016 at 14:01 ×

Iyaaaa.... karena lagu-lagu orang dewasa yang paling orang dewasa suka. anak kecil menganggapnya kalo dia bisa menyanyikannya, maka akan disukai orang dewasa. :)

Reply
avatar
How Haw
admin
5 May 2016 at 14:03 ×

Bisa jadi udah ada. mungkin di tahun itu ada fesbuk pertama yang diciptakan, trus fesbuknya minta pasangan, tapi setelah dikasih malah kena hasut setan fesbuk dan diusir dari tahun tersebut.

Reply
avatar
How Haw
admin
5 May 2016 at 14:09 ×

Pak guru kayaknya mesti bekerja lebih keras lagi mendidik anak-anak zaman ini. :o

Iya. begitu. banyak hal-hal yangdipaksakan untuk mengikuti zaman. karena budaya pamer semakin mewabah, Pak.

Reply
avatar
How Haw
admin
5 May 2016 at 14:27 ×

Wkwkwkwk.... salut untuk hal yang baik, sedih untuk hal sebaliknya. :D

Itu suara rihanna kan kayak ada getar-getarnya gitu.
Kayaknya kamu udah terkontaminasi ama pemikiran Icha, Ul...

Reply
avatar
How Haw
admin
5 May 2016 at 14:32 ×

Iya, Dar. Kesiannya lagi, yang mengungkung pun nggak tau kalo lagi mengungkung. :(

Iya. Itu juga, kalo ada predikat muda-nya pasti terlihat lebih wah. Gatau kenapa bisa begitu.

Reply
avatar
How Haw
admin
5 May 2016 at 14:33 ×

Hahaha... masa kecil yang... ... ... gajadi ah. *tetep ngakak*

Iyo, Wi, kan kemaren ada itu yangmraktikin juga,. Ada mbak-mbak di jakarta menghadang beberapa motor. Tapi udah gak keren sih aku ngeliatnya.

Reply
avatar
How Haw
admin
5 May 2016 at 14:35 ×

Iya. Banyak yang peduli, tapi masih takut. Untuk itulah diperlukan keberanian, dan anak kecil itu udah menunjukkan kalo peduli aja nggak cukup.

Hahaha... yang itu nyebelin sih. bersaf-saf gitu kayak sengaja ngalangin jalan. Ada kejadian pengendara kesel dan nabrakin itu saf-saf sih.

Reply
avatar
How Haw
admin
5 May 2016 at 14:38 ×

Iya, itu yang jadi penarikan kesimpulan anak sekarang. kan hebat ya kalo maish kecil udah bisa bikin anak kecil... :(

Wa wa waaa... di deket kampusku ada itu yang begitu. Sampe gamau sekolah dia kalo gak dianterin pake mobil, padahal rumahnya deket sekolahan.

Reply
avatar
How Haw
admin
5 May 2016 at 14:40 ×

Nggak tau sih keren apa nggak. tergantung orang yang ngeliat sih. Ada juga yang ngeliatnya sebagai tindakan gajelas. "ada tangga, kok masih manjat-manjat"

Keren menurutmu,ngeselin buat pemotor. Moga tindakannya dia membuat orang-orang sadar. takutnya malah menimbulkan sosok pahlawan cari tenar lainnya. sok-sokan ngadang motor biar diliput. :(

Reply
avatar
How Haw
admin
5 May 2016 at 14:44 ×

Ya itu..... :D

Iya, yang berhasil bakal berhasil banget, tapi yang tertinggal akan terhina banget. persaingan zaman sekarang keras banget.

Iyo, kalo anak diarahkan sejak dini, itu udah kayak serangga. Lahirnya udah diatur jadi apa. ada yg jadi pekerja, ratu, pejantan, dan gabisa milih. sedih. Paling nggak emang mesti ngenalin ama dunia sampe sekolah tingkat atas, mengenai hobi yang ditekuni itu didukung saja, tapi jangan dipaksakan untuk satu hal tersebut.

Memang itu yang berpengaruh paling besar. anak-anak yang kutulis di atas kan dilatar belakangi karena lingkungannya meminta begitu. meminta anak hebat tanpa jelas menerangkan hebat yang seperti apa.

Reply
avatar
How Haw
admin
5 May 2016 at 14:47 ×

Kali aja di demak ada dinding buat pamer bang, Fan~

Iya bnag Fan.Masih cetek istilahnya, asal ngerasa itu benar ya dilakuin. ga ngeliat aspek lanjutannya lagi.

Hahahaha.... kita semua yang membentuk mereka memiliki sikap begitu. kayak waktu jatuh saat latihan jalan, lantainya yang dipukul, padahal lantainya gak ngelakuin apa-apa.

Reply
avatar
How Haw
admin
5 May 2016 at 14:49 ×

Moodbooster? kamu lagi bimbang, cha? O.O

Hahahaha... mereka hanya ingin menjadi anak hebat dengan memberitahu segala jawaban. masalah dipukul ama bapaknya itu belakangan.

Tuh kaaannn... anaknya langsung ngambek dan gamau gambar lagi. padahal kan masih kecil, baru juga belajar dan berlatih. :(

Reply
avatar
How Haw
admin
5 May 2016 at 14:52 ×

Tumben Yog lu bingung mau komen apaan. Komen-komen aja, bebas mau ngomongin apaan, Yog.

Tapi fesbuk bisa jadi udah ada dalam bentuk prasasti~

Reply
avatar
How Haw
admin
5 May 2016 at 14:56 ×

Wuooohhh...yang Walau badanku tak tinggiii~ Tapi citaku setinggi angkasaaa~

Iya. Tapi kalo dijudge ama orang dewasa secara terus menerus, bisa berakibat fatal. apalagi kalo judge-nya tentang yang gabaik.

Reply
avatar
How Haw
admin
5 May 2016 at 14:56 ×

Kasih uanh jajan merekalebih suka, Mbak. :D

Reply
avatar
How Haw
admin
5 May 2016 at 14:57 ×

Wa wa waaaa... nggak makin hancur juga, cuma lingkungan yang ngajarinnya begitu. :(

Reply
avatar
9 May 2016 at 12:54 ×

Banyak hal yang saya takut jadi orang tua, salah langkah ngedidik anak. Hiks.

Reply
avatar
How Haw
admin
16 May 2016 at 10:52 ×

Jangan takut, Mbak. Nanti malah mendatangkan kekhawatiran lain lagi. Mungkin bisa dicoba untuk mendidik seperti orangtua, Mbak (moralnya) dan untuk pengetahuan umum-sosial, bisa mengikuti kemajuan modern sambil dipantau terus menerus.

Semoga jadi keluarga yang bahagia, ya, Mbak. :D

Reply
avatar

Berkomentarlah dengan baik, sopan, nyambung dan pengertian. Kan, lumayan bisa diajak jadian~ EmoticonEmoticon