Surat Howhaw #4: Mengais Dalam Gerimis ~ Production Haws

Surat Howhaw #4: Mengais Dalam Gerimis

Ketapang, 1 Juni 2014


Wa’alaikum salam Hawadis...
Maaf dengan surat kemarin, Dis. Aku menulisnya dengan penuh derai tangis. Ditinggalkan seorang ibu yang selalu menguatkan diri setiap hari, membuatku tak sadar mana perintah Tuhan, mana godaan iblis. Seolah derita satu terasa tak habis-habis. Bahkan mengajakmu dalam perbuatan najis. Sekali lagi maaf, Dis.

Eh iya, terima kasih atas kiriman yang kau berikan buat anakku, meski belum bisa berkata, tapi dia selalu meminta dipakaikan, bahkan sampai menangis. Mungkin rasa sukanya dengan baju itu, seperti rasa sukaku pada hujan gerimis. Saat suasana seperti itulah, aku bisa menitipkan bait-bait rindu padamu dari balik teralis. Dan kadang juga aku menangis saat gerimis tak kunjung datang, sehingga bait-bait itu tersedu dengan air tangis yang meringis.

Waktu kita menukil cinta, di luar juga sedang hujan gerimis. Membaca dan mengeja makna cinta yang tertera dalam kertas tipis, membuat semuanya terasa romantis. Padahal kala itu, kita sedang diburu waktu untuk mencari referensi tugas drama sekolah ‘Pengemis Matrepolis’. Saat itu kita sepakat, bahwa cinta merupakan kebahagiaan, dan mencintai berarti membahagiakan, begitu kan, Dis?

Makanya dalam surat itu kamu menyiratkan untuk sabar dan tetap mencintai tanpa pernah habis. Karena sebagai seorang istri sekaligus seorang ibu, aku harus membahagiakan suami dan anak-anakku agar mereka tidak meminta cinta dari gadis lain bak seorang pengemis. Memang kadang aku seperti orang lain, yang merasa tidak cocok dengan suami, tapi percayalah, aku masih memegang janji kita, Dis.

Tentang Alfianda, aku hanya seorang gadis yang dikhitbahnya serta disetujui kedua orangtua dan disahkan dalam majelis. Kalau aku remaja sekarang, pasti orang menganggap pernikahan kami kurang afdol, bahkan mungkin akan ada yang berkomentar tidak sah kan, Dis? Haha, tapi karena janji kita itu, meski aku tidak cinta pada awalnya, tapi dengan mencintainya, berusaha mencintainya, aku bisa menjalani keseharian kami dengan harmonis. Karena memang, cinta itu kata kerja, yang tidak hanya diucapkan tapi juga diusahakan, walau pun harus menangis dan terus mengais.

Jadi, Dis, bagaimana denganmu tentang pasangan hidup yang bisa memberi bahagia dan tangis? Ya, tangis bahagia seperti saat kita semua  mendengar senandung Sulis.  Tentu kamu juga sudah memiliki istri yang bisa menghilangkan kata ‘miris’ kan, Dis?

Haha, aku jadi ingat dengan kelakarmu dulu tentang sikapmu dalam memilih gadis. Apa itu? “Semua gadis manis pasti mendambakan pasangan humoris, romantis, agamis dan Hawadis.” Dan setiap kali aku bilang tidak mendamba seperti itu, kamu berkilah, “Berarti kamu bukan gadis manis.” Lalu, apa istrimu merupakan gadis yang manis?

Masih belum jelas kabar tentangmu mengenai sudah menikah apa masih sendiri meringis. Haha, tapi yang perlu diingat loh, Dis, mencari pasangan hidup tidak melulu tentang wajah yang manis. Tapi juga tentang saling mengusap tangis, saling memberi tawa penghilang bengis dan saling menguatkan dalam menghadapi kehidupan yang sadis. Lagipula, kebanyakan gadis sekarang itu seksi dan cantik, bukan manis. Ada sih yang manis, tapi sudah tidak gadis.

Ah, aku jadi ingin mendengar kisahmu dalam mencari gadis yang manis. Ceritakanlah itu di suratmu nanti ya, Dis. Apakah pertemuan kalian dramatis atau malah penuh trik analisis? Mungkin bisa membuatku terkejut sambil mengangkat alis. Atau mungkin malah membuatku cemburu dan mengerutkan kening berlapis-lapis. Kalau perlu, kirimkan aku fotonya ya, Dis.


Pengagummu dengan jiwa terkikis 








Yang terlalu kagum dan
membuang Tuhan seperti Atheis

Previous
Next Post »

16 comments

Click here for comments
wery febri
admin
10 June 2014 at 05:31 ×

tragis, ada teralis.. tapi itu teralis ..rumah ya dis?

Reply
avatar
Iqbal Fauzan
admin
10 June 2014 at 05:31 ×

Paragraf kedua kayak ending Mata Najwa ya... Hahaha

Reply
avatar
inndah furi
admin
10 June 2014 at 13:35 ×

Loh Bang, manggilnya udah gak Hawa, berubah jadi Dis.
Tapi tetep aja, suratnya masih manis. Kisahnya sadis.. kadang bikin imajinasi jadi miris...

Reply
avatar
How Haw
admin
11 June 2014 at 01:16 ×

Iya, rumah yang punya jendela teralis, dulu kan jendela begitu lagi laris...

Reply
avatar
How Haw
admin
11 June 2014 at 01:16 ×

Masa sih? ga pernah nonton soalnya... :D

Reply
avatar
How Haw
admin
11 June 2014 at 01:17 ×

Ga tahu, dibalesnya begitu.... :D

Reply
avatar
Ali Arsa
admin
11 June 2014 at 21:47 ×

Paragraf terakhir itu ada trik analisis, gak ngerti gue Dis -,-

Reply
avatar
How Haw
admin
12 June 2014 at 01:02 ×

Ditungguin aja Li balesannya si hawadis. Mungkin dia mau ngasih tau apa itu trik analisis.

Reply
avatar
Anonymous
admin
13 June 2014 at 15:02 ×

bagus banget *standing apllause*
:O

Reply
avatar
How Haw
admin
14 June 2014 at 00:11 ×

Emang udah baca semua suratnya? kalo cuma baca satu ini bisa kagak paham lo... :p

Reply
avatar
lilis rusmia
admin
21 June 2014 at 21:46 ×

ayooo, ditunggu kelanjutannya :D

Reply
avatar
How Haw
admin
22 June 2014 at 00:08 ×

Minggu update kok ^-^

Reply
avatar
Anonymous
admin
2 July 2014 at 14:46 ×

Wah, ketinggalan nih kisah surat menyuratnya silvia sama hawadis yg dramatis... Semoga dia bisa dpt istri yg manis dan suka tersenyum sinis (?)

Reply
avatar
How Haw
admin
14 July 2014 at 00:28 ×

sinis??? eehhhh....

Reply
avatar
Dwi Nanoki
admin
17 April 2015 at 06:56 ×

"Semua gadis manis pasti mendambakan pasangan humoris, romantis, agamis dan Hawadis." I wonder, sudah berapa gadis yang kau goda dengan kata-kata itu, atau tidak pernah? Haha, maaf.
Sampaikan salam manis dariku untuk Silvia ya, kak Dis :')

Reply
avatar
How Haw
admin
18 April 2015 at 01:18 ×

Nggak pernaaahhh. Cuma di tulisan ini doang kok.

Gimana nyampeinnya? itu kan tokoh fiksi. Apa salamnya buat aku aja ya, Kak?

Reply
avatar

Berkomentarlah dengan baik, sopan, nyambung dan pengertian. Kan, lumayan bisa diajak jadian~ EmoticonEmoticon