Tuesday, 10 June 2014

Surat Howhaw #4: Mengais Dalam Gerimis

Ketapang, 1 Juni 2014


Wa’alaikum salam Hawadis...
Maaf dengan surat kemarin, Dis. Aku menulisnya dengan penuh derai tangis. Ditinggalkan seorang ibu yang selalu menguatkan diri setiap hari, membuatku tak sadar mana perintah Tuhan, mana godaan iblis. Seolah derita satu terasa tak habis-habis. Bahkan mengajakmu dalam perbuatan najis. Sekali lagi maaf, Dis.

Eh iya, terima kasih atas kiriman yang kau berikan buat anakku, meski belum bisa berkata, tapi dia selalu meminta dipakaikan, bahkan sampai menangis. Mungkin rasa sukanya dengan baju itu, seperti rasa sukaku pada hujan gerimis. Saat suasana seperti itulah, aku bisa menitipkan bait-bait rindu padamu dari balik teralis. Dan kadang juga aku menangis saat gerimis tak kunjung datang, sehingga bait-bait itu tersedu dengan air tangis yang meringis.

Waktu kita menukil cinta, di luar juga sedang hujan gerimis. Membaca dan mengeja makna cinta yang tertera dalam kertas tipis, membuat semuanya terasa romantis. Padahal kala itu, kita sedang diburu waktu untuk mencari referensi tugas drama sekolah ‘Pengemis Matrepolis’. Saat itu kita sepakat, bahwa cinta merupakan kebahagiaan, dan mencintai berarti membahagiakan, begitu kan, Dis?

Makanya dalam surat itu kamu menyiratkan untuk sabar dan tetap mencintai tanpa pernah habis. Karena sebagai seorang istri sekaligus seorang ibu, aku harus membahagiakan suami dan anak-anakku agar mereka tidak meminta cinta dari gadis lain bak seorang pengemis. Memang kadang aku seperti orang lain, yang merasa tidak cocok dengan suami, tapi percayalah, aku masih memegang janji kita, Dis.

Tentang Alfianda, aku hanya seorang gadis yang dikhitbahnya serta disetujui kedua orangtua dan disahkan dalam majelis. Kalau aku remaja sekarang, pasti orang menganggap pernikahan kami kurang afdol, bahkan mungkin akan ada yang berkomentar tidak sah kan, Dis? Haha, tapi karena janji kita itu, meski aku tidak cinta pada awalnya, tapi dengan mencintainya, berusaha mencintainya, aku bisa menjalani keseharian kami dengan harmonis. Karena memang, cinta itu kata kerja, yang tidak hanya diucapkan tapi juga diusahakan, walau pun harus menangis dan terus mengais.

Jadi, Dis, bagaimana denganmu tentang pasangan hidup yang bisa memberi bahagia dan tangis? Ya, tangis bahagia seperti saat kita semua  mendengar senandung Sulis.  Tentu kamu juga sudah memiliki istri yang bisa menghilangkan kata ‘miris’ kan, Dis?

Haha, aku jadi ingat dengan kelakarmu dulu tentang sikapmu dalam memilih gadis. Apa itu? “Semua gadis manis pasti mendambakan pasangan humoris, romantis, agamis dan Hawadis.” Dan setiap kali aku bilang tidak mendamba seperti itu, kamu berkilah, “Berarti kamu bukan gadis manis.” Lalu, apa istrimu merupakan gadis yang manis?

Masih belum jelas kabar tentangmu mengenai sudah menikah apa masih sendiri meringis. Haha, tapi yang perlu diingat loh, Dis, mencari pasangan hidup tidak melulu tentang wajah yang manis. Tapi juga tentang saling mengusap tangis, saling memberi tawa penghilang bengis dan saling menguatkan dalam menghadapi kehidupan yang sadis. Lagipula, kebanyakan gadis sekarang itu seksi dan cantik, bukan manis. Ada sih yang manis, tapi sudah tidak gadis.

Ah, aku jadi ingin mendengar kisahmu dalam mencari gadis yang manis. Ceritakanlah itu di suratmu nanti ya, Dis. Apakah pertemuan kalian dramatis atau malah penuh trik analisis? Mungkin bisa membuatku terkejut sambil mengangkat alis. Atau mungkin malah membuatku cemburu dan mengerutkan kening berlapis-lapis. Kalau perlu, kirimkan aku fotonya ya, Dis.


Pengagummu dengan jiwa terkikis 








Yang terlalu kagum dan
membuang Tuhan seperti Atheis

Previous Post
Next Post

Oleh:

Terima kasih telah membaca artikel yang berjudul Surat Howhaw #4: Mengais Dalam Gerimis Apabila ada pertanyaan atau keperluan kerja sama, hubungi saya melalui kontak di menu bar, atau melalui surel: how.hawadis@gmail.com

16 comments:

  1. tragis, ada teralis.. tapi itu teralis ..rumah ya dis?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, rumah yang punya jendela teralis, dulu kan jendela begitu lagi laris...

      Delete
  2. Paragraf kedua kayak ending Mata Najwa ya... Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masa sih? ga pernah nonton soalnya... :D

      Delete
  3. Loh Bang, manggilnya udah gak Hawa, berubah jadi Dis.
    Tapi tetep aja, suratnya masih manis. Kisahnya sadis.. kadang bikin imajinasi jadi miris...

    ReplyDelete
  4. Paragraf terakhir itu ada trik analisis, gak ngerti gue Dis -,-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ditungguin aja Li balesannya si hawadis. Mungkin dia mau ngasih tau apa itu trik analisis.

      Delete
  5. bagus banget *standing apllause*
    :O

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang udah baca semua suratnya? kalo cuma baca satu ini bisa kagak paham lo... :p

      Delete
  6. ayooo, ditunggu kelanjutannya :D

    ReplyDelete
  7. Wah, ketinggalan nih kisah surat menyuratnya silvia sama hawadis yg dramatis... Semoga dia bisa dpt istri yg manis dan suka tersenyum sinis (?)

    ReplyDelete
  8. "Semua gadis manis pasti mendambakan pasangan humoris, romantis, agamis dan Hawadis." I wonder, sudah berapa gadis yang kau goda dengan kata-kata itu, atau tidak pernah? Haha, maaf.
    Sampaikan salam manis dariku untuk Silvia ya, kak Dis :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak pernaaahhh. Cuma di tulisan ini doang kok.

      Gimana nyampeinnya? itu kan tokoh fiksi. Apa salamnya buat aku aja ya, Kak?

      Delete

--Berkomentarlah dengan baik, sopan, nyambung dan pengertian. Kan, lumayan bisa diajak jadian~