Surat Howhaw #4: Mengais Dalam Gerimis

Ketapang, 1 Juni 2014


Wa’alaikum salam Hawadis...
Maaf dengan surat kemarin, Dis. Aku menulisnya dengan penuh derai tangis. Ditinggalkan seorang ibu yang selalu menguatkan diri setiap hari, membuatku tak sadar mana perintah Tuhan, mana godaan iblis. Seolah derita satu terasa tak habis-habis. Bahkan mengajakmu dalam perbuatan najis. Sekali lagi maaf, Dis.

Surat Howhaw #3: Begitu Kan, Sil?

Pontianak, 15 Mei 2014


Assalamu’alaikum Sil...
Membaca surat balasanmu, aku malah menganggapmu kecil. Masih suka usil, seperti ketika masih sekolah, terutama pelajaran tentang klorofil. Bersama temanmu, Acil, kamu selalu mengerjai kelompok lain, membuat tulisan nakal di kertas laporan tugas dengan pensil.

Surat Howhaw #2: Begitulah Takdir Menggarisinya

Ketapang, 1 Mei 2014

Wa’alaikum salam Hawa...
Menerima surat darimu, aku sungguh merasa bahagia. Seperti seorang hamba yang berjumpa dengan Tuhannya. Siapa sangka akhirnya kamu menghubungiku juga. Ah iya, suratmu itu semua kalimatnya berakhiran ‘A’. Apa karena kau selalu ingat akhir dari Cinta? Atau akhir kisah kita?

Surat Howhaw #1: Terlahir dan Berakhir Sebagai A

Pontianak, 14 April 2014

Assalamu’alaikum Silvia...
Sudah lama kita tidak saling sapa. Menjauh setelah sekian lama berharap cinta. Kau pergi ke luar kota tanpa meninggalkan jejak berita. Sampai-sampai aku harus mengetuk tiap pintu rumah tetangga. Ya, hanya untuk tahu alamatmu saja. Terkadang aku merasa ingin kembali ke masa lama. Ke masa saat aku belum tahu kenyataan tentang keberadaanku di dunia. Masa saat kita masih bercanda tertawa dengan akrabnya.