Saturday, 29 November 2014

Flash Fiction: Jangan Bunuh Diri

"Kamu pasti mampu kok, Dis,” perlahan aku mendekati Disa yang termenung memandang sarapannya di atas kasur.

“Sudah, jangan terlalu kamu pikirkan! Kelulusan hanya formalitas. Sejatinya, kamu selalu berada di rangking pertama tiap semester,” aku mencoba berargumen. Namun Disa tetap diam.

Sejak pengumuman kelulusan ujian nasional tiga hari lalu, Disa terlihat depresi. Bahkan kemarin dia mencoba bunuh diri, mencoba gantung diri di kamarnya.

“Disa, ujian kemarin itu bisa diulang meski nilai akhir sudah diumumkan. Tapi hidupmu, tak akan pernah kembali kalau kamu akhiri,” aku mengambil sepotong roti sarapannya dan langsung memakannya, “seperti roti ini, meski aku habiskan sendiri, kamu tetap bisa mendapatkannya lagi.”

Perlahan Disa mengangkat wajahnya, menatapku seolah tak rela sarapannya aku embat. Langkah awalku berhasil. Perlahan aku menunjukkan foto yang telah kusiapkan.

“Kamu lihat foto keluargamu ini! Lihatlah!” Disa memperhatikan foto tersebut dan matanya mulai berkaca. Kemarin, setelah percobaan bunuh dirinya, ibunda Disa mendadak sakit dan kini terbaring lemah di kamarnya.

“Kalau kamu pergi, pikirkanlah! Apa yang akan terjadi pada senyum mereka?” kalimat dari film 3Idiots tersebut sepertinya ampuh. Disa kini terisak. Berdiri dan berbicara.

“Aku tak akan mencoba bunuh diri lagi. Tak akan. Tak akan pernah lagi! Aku sayang ibu dan ayah. Aku tak akan mencoba bunuh diri lagi. Aku tak akan makan roti yang sudah kuolesi racun ini. Tak akan!” teriaknya, dan langsung berlari menuju kamar ibunya. Meninggalkan aku yang melihat foto keluarganya berubah menjadi foto keluargaku.


*)232 kata
Diikutsertakan dalam Flash Fiction Pipet





Previous Post
Next Post

Oleh:

Terima kasih telah membaca artikel yang berjudul Flash Fiction: Jangan Bunuh Diri Apabila ada pertanyaan atau keperluan kerja sama, hubungi saya melalui kontak di menu bar, atau melalui surel: how.hawadis@gmail.com

18 comments:

  1. Jadi rotinya udah dikasih racun sama Disa? bukannya tadi dimakan...berarti.... Ah, drama banget gue :D
    kalo berkenan mampir balik yuk!

    ReplyDelete
  2. wah mati dong makan racun.. hahahaha :D
    kereen! pecah nih..

    ReplyDelete
  3. cukup bikin bengong di paragraf terakhir.. bagaimana hanya dengan 8 paragraf bisa menjadi cerita utuh yang to the point ._. *feeling hopeless*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti kamu sedang menjiwai saat membacanya :p

      Delete
  4. pesan amanat yang bisa ambil jangan asal embat roti milik orang lain, haha..

    ReplyDelete
  5. kampreeettt. bagus banget twistnya. ah keren lah pokoknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kampret emang. Lagi bijak-bijak nasihatin, malah diracun. @@,

      Delete
  6. Haw.. Bikin buku lah.. Flash Fictionmu selalu menarik. Mulai dari pesan yang disampaikan dan cara penyampaiannya yang kocak. *eh, emang kalo mati itu kocak, ya?*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Didoain aja Mbak. Gak tahu kocak apa nggak, yang jelas, banyak film komedi yang berhubungan dengan mati.

      Delete
  7. Keren. Lanjutkan :)

    ReplyDelete
  8. gatau kenapa.. isha membayangkan si disa di sini badannya gemuk.. hmm, gmn gantung dirinya pake tali kalau badannya gemuk ya? :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, aku juga ngebayanginnya dia gendut, bulet. *lirik kiri-kanan*
      Tapi masa iya gantung diri gak bisa kalo badannya gemuk? jangan diskriminasi gitu dong. kan bisa pake tali galangan kapal. :ng

      Delete
  9. Keren berhasil bgt bikin kejutan cerita ini

    ReplyDelete

--Berkomentarlah dengan baik, sopan, nyambung dan pengertian. Kan, lumayan bisa diajak jadian~