Howhaw #114: Pendidikan Kita Tidak Sepenuhnya Salah ~ Production Haws

Howhaw #114: Pendidikan Kita Tidak Sepenuhnya Salah

Assalamu’alaikum...

Beberapa minggu ini topik tentang dunia pendidikan semakin meroket. Anehnya, informasi yang diberikan dan disebarkan semuanya tentang kebobrokan dunia pendidikan kita. Tidak ada yang menyebarkan tentang kebaikan yang telah dicapai. Terlebih lagi tentang ujian nasional. Masa ampun, berita penolakannya sampe seantero dunia maya dan nyata. Ada juga yang menolak menerima banyak pelajaran, karena tidak sesuai dengan passion anak didik. Mereka bilangnya, bagaimana mungkin gajah dan ikan disuruh memanjat pohon. Itu mustahil.

Oke, karena ikut merayakan hari pendidikan, saya juga akan ikutan membahas dunia pendidikan, dengan pikiran howhaw tentunya. Tapi sebelumnya, kenapa ya hari pendidikan itu tanggal 2 Mei? Kenapa ga disamain dengan hari buruh saja yang 1 Mei, ya biar buruhnya terdidik gitu.

Tentang Passion

“Ujian itu harusnya tidak disamaratakan, mereka punya passionnya sendiri”

Jadi mereka mau belajar pelajaran yang hanya disukai. Pffttt. Seolah mereka sudah mengetahui apa yang akan menghampiri mereka. Berdasarkan pengalaman yang ada, banyak orang yang mendalami passionnya sejak dini, tapi di kemudian hari malah berhasil di bidang yang lain. Itu karena mereka senantiasa mempelajari hal baru. Ga melulu tentang yang disukainya saja. Passion memang penting untuk memotivasi diri tapi tidak dengan diiringi membenci pelajaran lain. Semua itu perlu.

hawadis howhaw

Ga perlu lah, buat apa juga belajar matematika ribet, ga dipake di keseharian kok, masa’ iya beli siomay pake ngitung deret quantum dulu?”

Maaf, orang yang bilang begitu, bukan karena ilmu matematika tinggi yang ga bisa dipake, tapi otaknya yang ga dipake. Kalo otaknya dipake, tentu dia akan menggunakan ilmunya sesuai keadaannya. Beli siomay mah pake hitungan sederhana juga beres. Otak kalo ga dipake, ilmu yang harusnya bermanfaat, malah jadi rongsokan. Betulin motor pake ilmu bikin bakwan. Ya nggak bisa. Kecuali kamu bayar montir pake kue bakwan. Itu pun kalo montirnya mau.

Bukan ilmunya yang ga dipake di keseharian, tapi kamunya yang ga bisa menerapkan dengan baik di keseharian. Inti dasar dari kebencian seseorang terhadap pelajaran adalah karena tidak bisa menguasai pelajaran tersebut. Tidak bisa => Benci. Coba jika mereka bisa, pasti bakalan suka. Karena ketidaksukaan mereka tersebut, mereka menuduh orang lain yang bisa menguasai banyak pelajaran dengan ‘bakat alam’, passion sejak lahir. Pffttt. Mereka ga tau apa, untuk menguasai banyak pelajaran tersebut, mereka belajar sedikit demi sedikit hingga akhirnya bisa dan suka. Tentang pentingnya mempelajari banyak ilmu, saya sudah pernah menuliskannya di sini.

Ingatlah, passion itu merupakan hal yang kita sukai, mendalaminya dengan banyak latihan, sedangkan pelajaran di sekolah itu adalah pengetahuan, mendalaminya dengan metode pendidikan. Makanya orang yang mendalami passion menjadi orang terlatih, dan orang yang mendalami pelajaran jadi orang terdidik. Hati-hatilah jika jadi orang yang hanya terlatih tapi tidak terdidik, karena akibatnya seperti di atas. Sering menyalahkan pendidikan dan membenci yang tidak disukainya, sok menjadi yang paling hebat, paling benar, paling jago dan paling dahsyat. *lalu lagu Sherina kecil mengalun*

Tentang Sistem Pendidikan dan UN

Sistem pendidikan kita bobrok, nasib 3 tahun ditentukan hanya 3 hari.”

Jadi maunya, ujiannya juga dibuat tiga tahun? Atau mau sekolahnya hanya tiga hari? Oke. Sebenarnya kenapa sih kalian membenci UN tiga hari yang menguji pemahaman 3 tahun? Kenapa kalian ga membenci kelulusan? Kelulusan kan memisahkan kebersamaan pertemanan kalian selama tiga tahun hanya dalam waktu 1 hari. Kenapa? #iyakali

Saya ngerasa aneh dengan orang-orang di negeri ini. Mereka sering kali meributkan sesuatu yang baru direncanakan akan dilakukan. Mereka sibuk memperdebatkan sistem yang terus berubah, tanpa sempat mereka lakukan. Itu tuh sama kayak memperdebatkan mau makan apa hari ini, sedangkan anak-anak mereka sudah mati kelaparan.

Mereka suka sekali membandingkan ideologi negeri kita dengan ideologi negeri tetangga. Sistem pendidikan kita dengan sistem pendidikan mereka. “Sistem mereka bagus, cocok untuk pelajar,” katanya. Pffttt. Kalo mereka selalu percaya dengan istilah rumput tetangga terlihat lebih hijau, kenapa mereka malah tertarik dengan sistem pendidikan tetangga yang terlihat lebih hijau?

“UN ini salah, buktinya tak ada peningkatan signifikan dalam pendidikan kita”

Ayolah, mana ada siswa yang mau belajar kalo ga ada UN. Mungkin kalian nganggep ukapan saya hanya kepesimisan belaka. Tapi nyatanya, dengan kalian sok memberi data yang ga signifikan itu, kalianlah yang pesimis. Padahal itu hanya data, yang dikumpulkan juga ga semuanya. Yang nyata itu, mereka belajar hanya saat ada ujian dan ulangan, kecuali yang memang menggunakan otaknya. Itu nyata lho.

Jangan jadi sok humanis deh dengan peduli kemajuan pendidikan manusia kalo kenyataan yang dihadapi tidak pantas disebut manusia. Mencontek itu jelas perbuatan salah, tapi kalian memaklumi karena soalnya susah dikerjakan. Pfftttt. Kalian setuju dengan pencurian motor karena pagar parkiran yang susah dipanjat? Tukang parkirnya (para guru) mendukung lagi. Itu sih bukan sistemnya yang rusak, tapi kita yang tidak bisa melaksanakan sistem yang ada. Dengan sistem sederhana saja kita tidak bisa, sok berharap dengan sistem yang lebih rumit. Pfftttt.

hawadis howhaw

Itulah UN itu menimbulkan kecurangan, harus dihapus.”

Eh, kalo kuku kalian panjang dan bikin luka saat menggaruk pantat, yang kalian lakukan apa? Memotong jarinya? Pfftttt.

Aneh memang, mereka menyalahkan sistem pendidikan yang katanya menciptakan generasi anjrit, padahal mereka sendiri dibentuk dengan sistem yang sama. Oh, mungkin mereka ingin mengubah sistem agar tidak melahirkan orang-orang seperti mereka, yang hanya sibuk menelan mentah berita dan menyorakkan kekesalan dengan meniadakan pendidikan yang melahirkannya. Kalo mereka yang bersorak merasa pintar dan benar, sedangkan generasi sekarang salah, berarti kan bukan sistemnya yang gagal, tapi generasi sekarang yang tidak bisa melaksanakan sistem.

Tapi menyalahkan sistem memang lebih enak sih daripada menyalahkan diri karena gagal melaksanakan. Anjrit memang. Sudahlah, kita laksanakn sistem yang ada dengan BENAR. Kalo menanak nasi saja kita tidak bisa dan tidak pernah mencoba melakukannya tapi selalu mengeluhkannya, jangan harap deh kita bisa makan nasi goreng spesial yang karetnya dua. *eh, kalo UN dihapus, yang lulusnya dari jalur UN jadi ditarik kelulusannya ya?*

Yang kita perlukan hanya stabilitas. Jangan dengan mudahnya mengganti sistem tanpa pertimbangan yang matang. Jangan terlalu terburu-buru mengatakan sistem ini itu gagal dan langsung diganti, kita lihat perkembangan dan esensinya. Kayak sistem pendidikan yang saya tempuh waktu SMA, KBK. Itu bagus, mendidik dengan mempraktikkan ilmunya langsung di lapangan. Tapi hanya dalam waktu 1 tahun, sistem sudah berubah lagi. Yaelah, pohon durian juga belum berbuah pak kalo miaranya sesingkat itu.

Kalo kata temen saya yang anak manajemen, kegagalan itu disebabkan 2 hal: strategi dan pelaksanaan. Yang terjadi di negeri kita mah, gagal melaksanakan, tapi selalu meributkan strateginya. Pfffttt. Maunya digantiii mulu strateginya. Bahkan beramai-ramai menolak UN. Hati-hati saja ya, kalo dalam dunia perpacaran, mantan itu akan terlihat lebih cakep. Jangan nyesel aja kalo nanti UN terlihat lebih baik dari penggantinya. Soalnya dulu ada demo mahasiswa yang meminta skripsi diganti ujian lho.

UN juga ga begitu banyak punya salah, dia memang ditugaskan untuk mengukur sejauh mana peserta didik di seluruh Indonesia memperoleh ilmu. Kalo ada wilayah yang hasil UN-nya rendah, kan bisa dipantau lebih dekat dan diberikan fasilitas lebih agar mutunya meningkat. Masalahnya, standar UN itu yang seolah tak masuk akal, kalo memang untuk nasional, harusnya standarnya berdasarkan rata-rata keseluruhan, bukan hanya yang tertinggi. Itu sih membunuh yang belajar dipelosokan.

Buatlah standar yang rasional, bukan yang paling tinggi, tapi menengah. Karena kalo standarnya sangat tinggi, kita hanya akan menemukan kekurangan. Tapi lihatlah jika standarnya menengah, akan terlihat kelebihan-kelebihan di dalamnya. Tapi bukan berarti UN-nya yang salah, cuma diperbaiki lagi kurangnya di mana. Perbaiki lho ya, bukan dihapus. Apalagi main ganti-ganti aja sistem pendidikan. Telaah, tambah, yang tertinggal berikan hibah. Kan tujuannya agar merata dan pantas ke jenjang selanjutnya.

Tentang Filosofi Panjat Pohon

Setiap orang berbeda, tidak bisa dinilai sama, mustahil mengajar gajah dan ikan memanjat pohon seperti monyet.”

Iya, kalo kata beberapa orang, itu nyebutnya merusak fitrah “nature”. Fitrahnya kan ikan berenang, gajah berjalan, musang melompat dan jungkir balik. *kok kayak nyanyiannya kera sakti sih* Setuju sih, kalo setiap anak itu memiliki keunikan natural dan tidak bisa dipaksakan. Tapi yang perlu diketahui, manusia itu memiliki banyak potensi. Menjuruskannya sejak dini (SD-SMP) itu melanggar asasi, kebebasan diri. Bahkan ada negara (Finlandia) yang mengilegalkannya, karena mengajarkan anak hanya satu bidang ilmu saja, sama dengan mengurungnya dari berbagai ilmu yang ada. Justru itu yang merusak fitrah. Fitrahnya mereka bisa mengembangkan dan menerima banyak pengetahuan, ilmu, tapi kok malah dijuruskan sejak kecil.

Kamu gajah, kerjaannya hanya ngangkut barang berat. Kamu monyet, kerjaannya hanya menyalahkan pemerintah. (eh?). Kamu, iya kamu. Kamu hanya kuli, kerjaan kamu hanya jadi tukang pikul. Kan nggak. Siapa pun mereka, mereka berhak mendapatkan ilmu, tapi tentunya dengan metode yang BENAR.

Kalo pendidikan kita dikatakan merusak fitrah karena tidak menyesuaikan passion anak, itu salah. Fitrahnya mungkin rusak, tapi itu karena pilihannya sendiri. Sistem pendidikan itu sudah dibuat sedemikian rupa. Waktu saya bertanya pada guru dan dosen saya, tugas seorang pengajar itu adalah menghasilkan output yang sama walaupun inputnya berbeda. Walaupun tidak sama persis, tapi standar kualifikasinya sama.

Singkatnya, kalian anak pejabat, ada juga anak sopir, ada juga anak pelacur, kalian sama-sama masuk SMK jurusan gambar bangunan. Ya, outputnya adalah menghasilkan ahli gambar dengan standarnya. Masa iya harus dibedakan berdasarkan latar belakang keluarganya. Lagian yang mendaftar ke jurusan itu kan mereka sendiri. Jadi kalo merasa merusak nature, ya itu kesalahan sendiri.

Kalo di dunia binatang, gajah itu kan belajarnya ngangkat barang berat, sedangkan monyet manjat pohon. Dan karena semuanya memiliki kebebasan, ya terserah individunya, mau hidup di lingkungan monyet, atau lingkungan gajah. Ketiika seekor gajah masuk ke lingkungan monyet, pilihannya ada 2, pertama kembali ke lingkungan gajah dan kedua tetap di lingkungan monyet tapi harus bisa memanjat. Jika gajah milih yang kedua, apakah sistemnya salah dan merusak passion tadi? Atau malah gajah kesenengan manjat pohon dan lupa passionnya? Atau mungkin gajahnya ga bisa manjat dan menyalahkan sistemnya? Terserah.

Kalo saya sih tidak begitu minat dengan ilmu yang ditekuni sekarang. Bukan passion saya. Saya lebih suka dunia sastra, mendaki gunung, lewati lembah, main ke hutan lalu belok ke pantai sehabis pergi ke pasar dan mecahkan gelas biar ramai, dibandingkan seharian harus menghitung luas bangunan dan membuat visualisasi gambar kerja yang tak ada habisnya. Namun passion itu bukan alasan untuk tidak bertanggung jawab dengan apa yang sudah saya pilih. Mungkin saat ini saya seperti gajah yang disuruh memanjat pohon karena pilihannya sendiri.

Apa lantas sistem yang saya arungi ini salah? Nggak. Saya gajah yang bermimpi punya rumah teduh di atas pohon. Makanya saya masuk lingkungan monyet, belajar manjat. Ga pantas saya bicara, ”Hei, saya gajah bukan monyet,” saat diajar manjat pohon demi mewujudkan mimpi. Saya hanya perlu bersabar dan melaksanakan sistemnya dengan BENAR.

hawadis howhaw

Jadi jangan sok menyalahkan pemerintah, mereka juga sudah memikirkan semuanya dengan baik-baik. Tapi ketika target mereka tidak tepat, bukan berarti mereka salah. Yang wajib melaksanakan sistem negara tidak hanya mereka, tapi kita juga. Sama seperti ada aturan menaati lampu lalu lintas, apakah yang wajib melaksanakannya hanya polisi? Kan nggak. Semua lapisan masyarakat harus patuh, agar tidak terjadi kecelakaan.

KITA lah yang bertanggung jawab untuk berubah. Meski menteri pendidikan itu diganti pak menteri terhebat sekali pun, tapi kalo KITA tidak mau melaksanakan sistemnya dan selalu melanggar, ya nggak akan jadi apa-apa. Udahan ah, udah panjang begini artikelnya.

Pendidikan itu membuat orang terdidik, tidak hanya terlatih. Passion itu memang penting, tapi bukan berarti bisa dijadikan alasan untuk melepas tanggung jawab yang sudah kita pilih. Mari kita laksanakan sistem, tak hanya berdebat yang mana hitam, yang mana putih. Optimis dan jauhi perilaku curang tapi mengharap lebih. Jangan jadi orang yang menyebarkan celaan dan hinaan, tapi jadilah orang yang menyebarkan kasih. Berhati bersih walau pahit selalu didendangkan mereka yang berucap buruk dengan fasih. Melaksanakan sistem dengan selalu mengevaluasi dan meningkatkan kualitas diri meski harus tertatih.

____________________________________
Referensi:
“Catatan Bangsa Yang Aneh” oleh Khusni Mustaqim


Previous
Next Post »

46 comments

Click here for comments
7 May 2014 at 02:19 ×

hai mban!
ikut komen soal UN boleh ya? hehehe
ane termasuk orang yang menolak standarisasi sistem evaluasi nasional, yah kalo di kita dikasih nama UN
banyak sekolah di pinggiran (termasuk sekolah dasar saya) yang sarana dan pra sarananya,, gurunya (banyak yg blm sarjana) jauh tertinggal.
beda dengan sekolah sekolah yang ada di kota yang standar fasilitas dan gurunya udah nasional bahkan internasional
aku keberatan aja sih ketika siswa sudah dikasih kewajiban sebegitu tanpa terpenuhi hak hak mereka sebagai siswa

Reply
avatar
How Haw
admin
7 May 2014 at 03:10 ×

itu tujuan UN sebenarnya, meratakan dan menyempurnakan kebijakan dalam pendidikan. Kalo sekolahnya tidak mencukupi standar, maka akan dipantau dan diberi tunjangan untuk memenuhi satndar. diberi hibah istilahnya. sehingga pendidikannya bisa sama, kota maupun desa, ga bergantug pada fasilitas teknologinya. lagipula, saya juga dari desa kok, kurang rusak apa coba sekolah saya, perpus ga pernah dibuka, pengajar banyak yg udah tua, sekalinya muda, baru lulusan SMA, komputer? satu, itu pun punya TU. tapi kami tetap menghormati hak penyelenggara. jangan posisisakn diri sebagai pihak penderita, itu virus bahaya. UN itu dibuat agar yg di desa dan di kota dapat soal yg sama sehingga saat dijenjang berikutnya kita sudah siap dan setara. Masalah yang standar Internasional, itu pengecualian, itu seharusnya belum ada. kalo tentang itu, saya juga ga setuju. kalo kita kelulusannya nanti berdasarkan standar sekolah, kita bisa jauh tertinggal lho, ama mereka yg serba wah. Ini bukan salah UN nya, tapi pelaksanaannya yang tidak sesuai. mau pake sistem apapun kalo pelaksanaannya ga sesuai, ya bakal kacau semua.

Eh iya, buat para guru, lihat nih, ada anak murid yg menginginkan kalian menemaninya belajar di plosok pedalaman. Kalo kalian para guru ngaku peduli pendidikan, jadikan mengajar sebagai bentuk terima kasih dan kepedulian dong, jgn dijadikan bisnis apalagi pekerjaan yg menghasilkan.

Reply
avatar
Tutia Rahmi
admin
7 May 2014 at 06:09 ×

aku termasuk orang-orang yg gak setuju UN dihapuskan. "sekolah 3 tahun ditentukan 3 hari?" masa iya jawab soal kayak gitu aja gak bisa.. 3 tahun sekolah ngapain aja? mikir!!! :)

Reply
avatar
Ali Arsa
admin
7 May 2014 at 07:39 ×

pelajar jaman sekarang kalau mau ulangan/ujian aja baru belajar.. :D belajarnya pun paling cuman dibaca doank gak dicermati, atau kalau disuruh mencermati dia malah menghafal kalimat yang mau dicermati -_-

Reply
avatar
Mr. Bomb
admin
7 May 2014 at 12:39 ×

Setuju kalo passion diandalkan untuk membenci pelajaran lainnya, jalan tengahnya sih lebih ke kalo kamu gak suka pelajarannya, ya udah belajar aja. Santai aja gitu. Yang passion, matengin terus.

Bill Gates bilang, kalo temen2nya bisa semua pelajaran dia paling pol sampe manager doang. Sedangkan dia yang bisa beberapa pelajaran aja sekarang CEO :))

Reply
avatar
doctornjoh
admin
7 May 2014 at 21:33 ×

Sebenernya asal kualitas gurunya baik,, semua pasti ikut baik bagaimana pun kurikulumnya,, Sadar gak sih kita tuh bisa semangat belajar sama guru2 yg inspiratif, asik terlebih bisa membimbing dengan baik? sedangkan guru2 kita kualitasnya masih dibilang rendah,, Liat aja negara asalnya boyband westlife, untuk jadi guru disana kualifikasinya ketat, makanya kualitas lulusannya juga ikut baik, krg dididik oleh orang2 terbaik

Reply
avatar
How Haw
admin
8 May 2014 at 01:37 ×

iya, kalo kelulusannya berdasarkan standar sekolah masing-masing, tidak secara nasional, nanti bakal ada sekolah yg majunya berlebih dan ketinggalannya juga berlebih, tergantung fasilitas. Makanya kontrol nasional itu perlu, bisa-bisa saat mlanjytkan ke jenjang berikutnya, banyak sekolah yg menolak murid dari Sekolah lain karena standar sekolah sebelumnya sangat kecil.

*komentar ini disponsori oleh otak saya yg howhaw*

Reply
avatar
How Haw
admin
8 May 2014 at 02:12 ×

Ya, apa yang salah UN? nggak kan. Kita lah yg harus merubah paradigma sendiri. Kalo kitanya ga bisa berubah, ya mau diganti sistem apapun akan sama saja.

Reply
avatar
How Haw
admin
8 May 2014 at 02:26 ×

-__- Bil Gates kan yg dikagumi, bukan sistem pendidikan Amerikanya. Berarti ya kita mulai dari tiap individu untuk berubah, bukan dengan menyalahkan.

Tapi ga harus jadi Bill Gates juga, banyak orang yg pintar di berbagai bidang yang jadi petinggi hebat, cuma ga terkenal. Tapijuga kebanyakan dari mereka memilih jd pengajar karena peduli agar generasi berikutnya bisa pintar, mereka ga mentingin diri sendiri, ga mentingin perut sendiri. Kalo sampai mereka yg pintar berbuat untuk diri sendiri, habislah dunia pendidikan kita. Hormati para guru juga donk. jangan sok mencontoh org yg pendidikan rendah tapi berhasil. Kalo mentalnya tidak terdidik dengan baik, berhasilnya ga akan datang-datang.

Reply
avatar
How Haw
admin
8 May 2014 at 02:33 ×

Itu maksudnya Dok. Makanya sedang digalakkan pendidikan dan pelatihan guru, yang apa namanya itu. Ya agar pelajar bisa betah dalam menerima pelajaran. Tapi ada juga yg menggunakan teknik pengalamannya dalam mengajar. Mereka sok garang, padahal hanya agar siswa hormat saja.

Jadi jangan sok ngehina para guru deh, "Pintar berIPK tinggi cuma jadi guru, DO jadi CEO" plis deh ya, kalo yg pintar mengambil jalan mementingkan diri sendiri dan tidak memilih mengabdi dan peduli, generasi kita siapa yg ngajar? mereka yg ilmunya cuma 1 yg disebut passion? hah?

pesan Tuhan, pesan Petinggi negara, pesan orang tua, pesan ulama, semuanya untuk menuntut ilmu yang tinggi. Selain untuk membuat hidup mudah dan mudah mengais rizki, juga untuk mengangkat derajat diri dan generasi nanti. Masa iya kita mau membuang semua ilmu dalam pelajaran hanya karena tidak disukai. Anjrit itu.

Reply
avatar
8 May 2014 at 03:13 ×

hohoo aku jelasin sekali lagi salah nangkep keknya hahaha
aku sepakat UN sob, aku sepakat standarisasi evaluasi belajar siswa Nasional melalui UN
tapi ga sekarang
pemerintah harusnya membenahi dulu dan menstandarkan sarana dan prasarana siswa, dengan sarana dan prasarana yang sangat timpang, dengan kemampuan guru yang sangat timpang pula evaluasi nasional bakal jadi momok buat siswa yang ada di pinggiran
sama kan ama ini "UN itu dibuat agar yg di desa dan di kota dapat soal yg sama sehingga saat dijenjang berikutnya kita sudah siap dan setara"
hehehe
aku juga pengen kesetaraan sob
tapi bukan dengan bahan evaluasinya dulu

Reply
avatar
How Haw
admin
8 May 2014 at 04:35 ×

*Sesama ga nangkep*
justru dengan UN mereka belajar membenahi, dilihat dari hasil UN, mereka mendata wilayah dan sekolah mana yang kurang, trus diperhatikan dan diimprove. Makanya ada program guru untuk mengajar di pelosok, karena hasil UN yg di plosok lebih rendah, permasalahannya, masih sedikit guru yg peduli dan malah mementingkan diri.

langkahnya begini: sekolah > UN > hasil > dibina

makanya meski ada yg tidak lulus UN, pemerintah masih memberi keringanan melalui ujian paket. Ya karena mempertimbangkan kekurangan fasilitas tersebut, tanpa perlu menunggu pembinaan yang akan dilakukan agar tidak merugikan siswa.

kalo nunggu nanti-nanti saat semuanya udah sama, ga akan pernah terjadi, karena setiap sekolah tentu berkembang dengan berbeda, apalagi yg di kota. ya kesetaraan yg diinginkan ga akan tercapai.

Reply
avatar
8 May 2014 at 06:55 ×

Well, pendapat yang bagus.
Gue adalah salah satu orang yang gak suka sama sistem pemerintahan di Indonesia. Akar kejelekan pemerintahan di sini jelas dari sistem pendidikannya juga. Nah, pendidikan di sini benar-benar beda sama di luar. Pffth...
Tugas kita adalah untuk jadi produk perubahan bukan hanya sekadar untuk berkoar mengajak orang lain untuk berubah, kan?
SemangART!

Reply
avatar
8 May 2014 at 10:01 ×

sebetulnya UN nasional juga ada baiknya, karena dengan UN standar nilai akan sama rata. sekarang masalahnya masih banyak yang mengeluhkan tentang fasilitas penunjangnya, kayak masih banyak di temui sekolah-sekolah yang tidak mempunyai sarana yang memadai.
aku anggap ini hanya sebagia dari proses, tinggal sekarang ada komunikasi dan kerjasama dari pemerintah dan masyarakatnya.

Reply
avatar
inndah furi
admin
8 May 2014 at 18:47 ×

kenapa ribet banget sih komen-komennya??
oh iya, ngomong2 UN nih.. kemarin UN gua yg ketiga sejak SD, gua mah kagak nolak ama yg namanya UN, toh soal2nya gak jauh2 ama tryout. ini mah cuma soal "bisa karena terbiasa*

Reply
avatar
How Haw
admin
9 May 2014 at 01:08 ×

Komentar yang menarik.
Gak suka sistem pemerintahan? ya, antara ga suka sistemnya atau orang tak bertanggung jawab yg duduk di sistemnya sih. Untuk suka pada sistem kan harus mengenal sistemnya dulu. Sistem itu merupakan satu kesatuan dari banyak hal. Kalo sistem pemerintahan itu terdiri dari sistem pendidikan, sistem sosial, sistem ekonomi, sistem hub antarnegara, sistem keamanan dan banyak lagi. Kalo membenci sistem pemerintahan, artinya membenci semua sistem yg ada tersebut. Karena sistem pemerintahan adalah akar dari semua sistem di negeri ini, termasuk pendidikan. Jd bukan sistem pendidikan yg memengaruhi sistem pemerintahan. Memang org2 yg duduk di pemerintahan, dibentuk dari sistem pendidikan, tp ketika mereka duduk di pemerintahan, mereka punya pilihan: tetap jadi org terdidik atau membuang pendidikannya demi dirinya.

Dan setiap negera memiliki permasalahan sistem pendidikannya masing-masing, tak terkecuali negara paling maju sekali pun. Kita tidak bisa begitu saja mencomot sistem mereka, harus menyesuaikan budaya, adab, kesopanan, hukum, bahkan rasa prikemanusiaan yg akhir-akhir ini diserukan.

Berkoar untuk mengajak diri menjadi lebih baik itu lebih penting dibanding menjadi produk itu sendiri. Di bidang apa pun. Bahkan ekonomi dengan trik mengajaknya, bisa meningkatkan pendapat berlebihan, MLM juga melakukan cara yg sama. Agama juga disebarkan dengan mengajak, ga ada yg nunggu masuk surga dulu baru mengajak. Bahkan dikatakan oleh pemuka, ketika orang sudah tidak mau mengajak dan mengingatkan kebaikan, kehancuranlah yang akan ditemui. Karena esensi mengajak adalah bertindak bersama agar hasilnya lebih baik dan agar ada yang meneruskan tujuan utamanya jika yg memiliki ide utama termakan usia.

XGRA AXY

Reply
avatar
How Haw
admin
9 May 2014 at 01:28 ×

Iya, mengurus semua sekolah di seluruh pelosok negeri tidak mudah, mungkin banyak yg berpikiran tinggal berikan dana ke sekolahnya, beres. Tapi prosesnya tidak begitu, ada faktor alam dan kebiasaan yg menghalangi. Seperti pelosok yg tidak terjangkau internet, tidak mungkin begitu saja memberikan seperangkat alat internet. Harus bertahap dalam menangani masalah internet tersebut. Fasilitas penunjang pendidikan awalnya hanya tempat, pengajar, bahan bacaan dan alat praktikum. Namun seiring perkembangan zaman, penunjang tersebut juga semakin berkembang, tempat yg lebih nyaman, alat praktikum yg lebih baik, pengajar yang lebih profesional. Namun, untuk memenuhi penunjang yg berkembang tersebut tidak bisa dengan mudah dipenuhi. selain dari sisi pemerintahan, juga dari sisi penunjang sendiri. Ada pengajar profesional yg tidak mau ke plosok, ada alat praktikum yg tidak bisa diterapkan di wilayah tertentu, dan hal lain. Itu semua butuh proses dan harus disesuaikan dengan keadaan tempat atau wilayahnya. Dengan UN itu, mereka mencoba sekolah mana yg jauh tertinggal, sehingga tempat tersebut lebih diutamakan. Sialnya, malah UN dianggap momok menakutkan. Org pemerintahnnya pun mulai tidak stabil dan mengikuti begitu saja masukan instan, hasilnya sistem pendidikannya berubah beberapa kali, padahal evaluasi sistem tersebut tidak bisa dilihat secepat itu, perlu waktu puluhan tahun sistem tersebut terlihat hasilnya. Dan hasilnya pun tidak hanya melulu di kota, tapi juga di semua wilayah. Mungkin yg di kota tidak merasakan manfaat kemajuan sistemnya, tapi tidak dengan wilayah lain yg semakin tinggi kemajuannya.

Reply
avatar
How Haw
admin
9 May 2014 at 01:32 ×

Ya karena ini menyangkut prinsip dan sikap.
Kayak kamu yang bersikap biasa dengan UN, tapi tidak dengan mereka yg ketakutan menghadapinya.

Reply
avatar
9 May 2014 at 05:43 ×

Emang sih, di Indonesia masih perlu menyempurkanakan pendidikan. Berhubung say masih sekolah, saya juga setuju kalau misalkan UN dicabut..

Reply
avatar
9 May 2014 at 05:45 ×

.. dan diganti skripsi. Amin.

Reply
avatar
9 May 2014 at 12:10 ×

saya setuju sekali sama quotes yang ini "passion itu merupakan hal yang kita sukai, mendalaminya dengan banyak latihan. Sedangkan pelajaran disekolah itu adalah pengetahuan, mendalaminya dengan pendidikan." Ya passion kadang malah digeluti dengan cara otodidak, nggak perlu pendidikan disekolah kan?

Reply
avatar
9 May 2014 at 13:45 ×

Lingkungan adalah cerminan diri kita, kalau kita nganggep sistem yg ada itu busuk, maka begitulah diri kita.
Kalau untuk membaca dan menghitung itu ga perlu sekolah, bisa diajarin di rumah. Tapi sekolah itu untuk mendidik perasaan, pikiran, dan mental kita. Dan UN itu tentang ujian kejujuran.

Reply
avatar
10 May 2014 at 05:01 ×

Passion dan pelajaran harus berjalan beriringan, ga boleh memilih salah satunya apalagi dijadikan alasan nmembenci yg lain. Sekolah itu tempat menimba pengetahauan dasar, bersosialisasi, bertanggung jawab, belajar moral, kalo sudah lepas dari sekolah, ya tinggal pilih, apakah mau memegang pengetahuan itu atau tidak. Tapi jangan sampai kita menghina orang yg tetap mengabdikan diri pada pengetahuan dengan nada ejekan karena merasa lebih berhasil. "Guru? hahaha, gajinya kecil kan. Nih gue yg sering remidial, jadi bos" Jangan, karena jika mereka yg berkompeten dalam mengajar pengetahuan juga memilih jalan mementingkan diri, yang ngajar di sekolah siapa? ga mau kan anaknya diajar org yg bodoh. Ujung-ujungnya nanti bilangnya pendidikan kita ga maju. Kalo cara berpikirnya yg penting kaya tanpa berpendidikan, ya gimana bisa maju.

Reply
avatar
10 May 2014 at 05:14 ×

Iya, kayaknya kita sekarang menganut faham: enak > sukses. itu saja, semua maunya instan dan mudah. Pake sok nyalahkan pemerintah dan membodoh-bodohkan mereka. Kalo masalah UN, itu tergantung pribadi, mau nganggepnya tujuan akhir atau sekadar ulangan yang dilakukan serentak. Berhasil ujian berarti kita sudah menguasai DASARnya. yg artinya kita siap ke tahap selanjutnya. Bukankah untuk ke tahap berikutnya juga perlu tes, apakah pantas atau tidak. jangan-jangan entar SNMPTN juga bakal ditolak, karena tes masuknya ga sesuai passion.

Reply
avatar
10 May 2014 at 10:11 ×

Yap, saya setuju UN tidak dihapus.
Jujur aja deh dengan diadakannya UN yang sistemnya seperti kemarin (murni), benar-benar menjadikan semua siswa-siswi termasuk yang malas *contohnya saya* belajar dengan tekun, rajin, giat. Bukan itu aja, karena ilmunya masih pada narep kitapun belajar kembali mempersiapkan buat sbmptn.
Coba deh kalo UN dihapus, terus kelulusan dari nilai raport atau UAS aja, mungkin ada beberapa siswa yang malas melanjutkan kuliah karena harus tes dulu. Yap, memang sih meski ada UN juga ga menjamin siswa mau melanjutkan kuliah, tapi pasti mereka sangat menyayangkan kesempatan itu, Kenapa? karena tes masuk perguruan tinggi (semacam sbmptn, um) itu rata-rata mengujikan mata pelajaran yang di UN kan. Naaah mumpung materi masih narep kenapa ga ikut tes aja?
Itu aja sih menurut pendapat saya, maaf kalo ada salah kata atau kata yang tidak berkenan :D

Reply
avatar
10 May 2014 at 11:18 ×

gua setuju sih haw sama lo..
dulu gua takut banget yang namanya UN karena pas zamannya gua adalah yang pertama kali nyobain UN. sampe kunci jawaban nyebar dimana2 gara2 saking takutnya ngga lulus..
tapi pas gua UN, biasa aja tuh.. ternyata cuma media dan orang2 sekitar yang nakut2in soal UN.. cuma gua rasa pemerintah perlu untuk agak memperbaiki lagi sistemnya.. dan media pun jangan nakut2in banget lah.. mereka malah bikin parno..

Reply
avatar
10 May 2014 at 18:38 ×

Setuju juga nih.
Mungkin sih sistemnya nggak salah sebenernya. Cuma butuh kerja sama dari berbagai pihak aja. Tapi tetep harus dibenahi juga sih, biar lebih baik gitu :)

Reply
avatar
11 May 2014 at 01:13 ×

yah, tergantung anggapan masing-masing sih... cuma jangan sampai terprovokasi dengan media informasi (termasuk artikel ini), tanpa sepenuhnya tau proses dan tujuan dibalik suatu sistem pendidikan.

Reply
avatar
11 May 2014 at 01:17 ×

Namanya juga hidup Dis, ada aja hal yg membuatnya seram. Bahkan yg baik ditolak, yang salah dibela. Tapi keputusannya tetap pada diri sendiri. Mau ikut-ikutan, atau menentukan sikap.

Reply
avatar
11 May 2014 at 01:21 ×

iya, banyak kekurangan di sana sini. Banyak yang curang di sana sini. Banyak yang ini itu di sana sini. Namanya juga sistem, pasti ada bagiannya yang rusak. Tinggal pilih, memperbaikinya, atau membuat sistem baru, yang nanti juga akan mengalami kejadian sama, kerusakan.

pesan saja sih, kalo mau ladang padinya bebas tikus, mencabut padi bukanlah solusi.

Reply
avatar
11 May 2014 at 21:16 ×

diperhatikan, di improve itu real ga?
kalo cuman harapan ya sama aja, aku juga sedang berharap
hehehe
kalo guru yang keplosok emang udah ada walau dikit (kuota serta peminat)

ijazah hasil ujian paket ga sama bobotnya ama ijazah UN, buat lamar dimanapun termasuk di pemerintah yang bikin sistem kejar paket

hahaha
ga harus setara bro
minim standar fasilitas dan standar gurunya di penuhi dulu
baru ngejar standar evaluasi (UN)

Reply
avatar
12 May 2014 at 01:25 ×

Kalo dilihat dari sekolah daerah saya sih, kemajuan dan improvisasinya ada... hanya guru-gurunya saja yang kurang... makanya saya bilang, orang banyak yg peduli kemajuan pendidikan, tapi untuk ke plosok, mereka paling muka.

Nah itu, kalo sekolah ditetapkan berdasarkan keputusan sekolah yg notabene memiliki standar beda (yg di kota pasti lebih maju daripada daerah), nanti kalo kamu melamar kerja pake jazah sekolah daerah, malah ga bakal dianggep. Ya karena standar sekolah daerah lebih kecil.

Itu yang seharusnya kita ubah, kenapa kalian meminta fasilitas dulu baru mau melaksanakan sistem dengan baik? Bagaimana seorang karyawan menuntut bosnya agar diberi gaji tinggi baru mau bekerja keras. haahhhh.. kalian ngaku benci dengan DPR yg bangun gedung mewah agar kerjanya rajin, tapi kalian malah berkelakuan sama. Yang salah bukan ini itu dalam sistem, tapi orang-orangnya yang tidak mau sepenuh hati melaksanakan sistem.

Reply
avatar
13 May 2014 at 00:29 ×

nah itu faham kalo standar kita belum sama
dengan standar belum sama, mengerjakan soal yang sama tinggian mana hasilnya?
sama aja kan hasilnya? kalo orientasinya untuk ndaftar kerja

kayane analogi boss dan karyawan kurang tepat
dari mana tau kalo saya menolak pembangunan gedung baru DPR?

yaa minimal finlandia udah nunjukin ke kita gimana pemerhatian sarana dan prasarana serta guru dapat membuat pendidikan lebih berhasil bahkan tanpa standarisasi sistem evaluasi sekalipun
susah memang diterapin di Indonesia yang negaranya kelewat luas

Reply
avatar
13 May 2014 at 00:48 ×

*malah dibalikin ke awal lagi* makanya UN dibuat secara global, sama. Dengan hasil pendidikan sama. Agar kalo pikirannya cuma mau ngelamar kerja, kelulusannya bisa dianggap sama dengan sekolah lain. Kalo berdasarkan sekolah, nanti akan ada sekolah yg dianggap tinggi dan ada sekolah yang diang.. *ga dianggap tepatnya* karena kualitas sekolahnya beda jauh. Kalo diratakan dengan hasil standar sama, maka orang akan melihat individunya, bukan sekolahnya. "Oh Amin, ini bagus nih" "hah, SMA desa pojok? ga usah dipilih, itu kualitasnya jelek, walaupun ngakunya siswa berprestasi." begitu.

sama. Orang yang berpikir difasilitasi dulu baru bekerja, ga ubahnya dengan mereka. Yang dipentingkan itu kualitas pengajarnya dulu, ini malah pengajarnya yang minta difasilitasi biar rajin. hah?

Untuk menjelekkan sistem, kita harus tau dulu tentangnya, jangan asal ini bagus itu buruk. Apalagi tentang mutu pendidikan, secara berurutan yg penting itu 1. kualitas guru, 2. kurikulum, 3. sarana dan prasarana

Finlandia. Itu selalu yg jadi alesan. Dimana-mana, informasi negara itu selalu yang dikeluarkan yang baik-baik, agar negaranya terpandang. Telaah dulu, karena setiap negara memiliki sistem berbeda yang sesuai budaya, moral, dan kebiasaan bangsanya, serta memiliki permasalahan sendiri dalam sistem pendidikannya. Kalo memang sistem Finlandia itu bisa diterapkan semua bangsa, maka negara lain akan menganutnya (tercatat paling baik sistemnya). Tapi lihat, ga semuanya kan begitu, itu karena mereka harus mempertimbangkan semuanya. Ga asal ini bagus. Lagian ya, seperti yg saya tulis di atas, sebaik apa pun sistemnya, kalo pelaksananya tidak mau mengikuti, tetap aja bakal ga jadi apa-apa.

Reply
avatar
Puja Putri
admin
13 May 2014 at 07:54 ×

Nice blog^^
Thank you for following ;)
#SalamBlogger

Reply
avatar
13 May 2014 at 21:04 ×

gua selalu suka main ke blog lo haw. selalu memandang dari persepsi yang berbeda. keren deh.
gua sebenarnya kurang mendukung UN juga sih. karena terlalu multifungsi. seharusnya cukup menjadi parameter keberhasilan pendidikan. ini malah jadi penentu kelulusan, syarat masuk sekolah favorit, syarat masuk PTN. itu aja sih

Reply
avatar
13 May 2014 at 22:40 ×

Kalo melihat sistem pendidikan secara keseluruhan, bukan cuman UN, gue lebih tertarik sama sistem kelas akselerasi. Di mana kebanyakan sekolah yang bikin kelas akselerasi ini belum memahami betul apa tujuan dari sistem itu sendiri. Kasian kadang sama anak aksel yang harus dijejali ilmu dari pagi sampai sore atau bahkan ada yang sampai malam. Padahal, mereka (anak aksel/IQ ekstrem kanan/gifted) juga punya bakat di luar akademik itu.
Ini kasusnya lagi ramai diperbincangkan. Seru mungkin kalo dibahas lebih lanjut di blog ini hehe

Reply
avatar
How Haw
admin
14 May 2014 at 03:17 ×

Dam kamu paling ngerti isi postingannya. Iya, tujuan awalnya sebagai parameter dan sebagai pemerataan penilaian jika akan dijadikan lampiran cari kerja, tapi makin ke sini malah makin ga jelas, UN jd penentu segalanya. Itu sih yg gue sorot dengan ga sepenuhnya salah. Masalah kelulusan sih, nilai dr sekolah jg dinilai lo di sekolah saya, karena ada temen saya yg lulus UN tp ujian sekolah dia ga lulus. Mau ga mau dia harus melakukan ujian sekolah ulang. Ga tau deh di sekolah lain.

Tapi untuk menghilangkan UN harus jelas urutannya, karena penentu lulus dikembalikan ke sekolah, maka hal utama yg wajib ditingkatkan adalah guru atau pendidiknya, agar tidak ada sekolah yg dipandang rendah oleh instansi lain, karena mereka telah dididik oleh pengajar yg berkualitas. Itu maksudnya.

Reply
avatar
How Haw
admin
14 May 2014 at 03:26 ×

Untuk menolak suatu sistem, atau mendukungnya, kita harus tau seluk beluk semua tentang sistem tersebut. Saya juga ga sepenuhnya setuju dengan sistem di Indonesia, juga ga berarti membenci, karena sistem tersebut dirancang oleh orang berkompeten di bidangnya yg terlebih dulu dilakukan penelitian bersama. Makanya saya bilang ga sepenuhnya salah :p

masalah akselerasi, itu tergantung keputusan sekolah, karena sistem tersebut lebih diserahkan kepada pihak sekolah. saya sendiri merupakan siswa yg pernah mengikuti program akselerasi. cuma di sekolah saya ga ada penjejalan materi pelajaran, smeua tergantung kepada saya, saya hanya diberikan soal dan pertanyaan lisan, juga dicoba beberapa minggu di kelas atas, jika bisa mengikuti dengan baik, dari segi materi maupun pergaulan kelas, maka akselerasi saya berhasil. Jadi tergantung sekolah dan individunya juga sih, jujur saja saya ga banyak dituntut untuk lolos program tersebut, saya juga ga ambil pusing, tapi lolos. Cuma ga enaknya, kalo temen sekelas ga nyambung, untunglah waktu itu temen sekelas (kakak kelas dulunya) juga merupakan temen main di lingkungan rumah.

Reply
avatar
Anonymous
admin
15 May 2014 at 12:15 ×

Menurut saya sih ya, sistem pendidikannya yg salah, murid2nya diajarin, di tanemin, di doktrin untuk belajar buat dapet nilai bagus pas ulangan, bukan belajar biar ngerti dan nangkep pelajarannya. Soalnya kalo belajar untuk nilai bagus doang pas ulangan, selesai ulangan udah lupa lg materinya, beda kalo udah nangkep dan ngerti sm materinya, abis ulangan ya tetep aja nyantol. Jadinya pas UN harus belajar lg materi2 yg lupa tadi.
"Harusnya sih diajarin ilmunya untuk apa nanti, manfaatnya apa buat otak kalo mempelajari ilmu2 tersebut, jadi makin cerdas soalnya diajarin untuk berlogika, ngelatih menghafal biar memorinya kuat bukan buat nilai bagus, terus bisa dapet kerjaan duit gede" nih dikutip dari zenius.net, kira2 garis besarnya gitu lupa di artikel yg mana.

Ini cuma pendapat dr seorang murid yg udah mau kelulusan SMA hahaha ^^

Reply
avatar
How Haw
admin
16 May 2014 at 00:48 ×

hahaha, iya. ga tau sih di sekolah kamu. tapi di sekolah saya, ga diajari buat dapet nilai bagus, tapi diajari buat ngerti, kalo waktu ulangan ternyata nilainya jelek, guru saya biasa nanyain lagi, kurang pahamnya dimana, lalu dijelaskan lagi sampai paham. bodo amat dengan nilai.

kurikulumnya juga begitu kok, "tujuan: membuat siswa mengerti tentang proses respirasi dan dapat menentukan tanaman apa saja yang ada di sekitar mereka." "tujuan: mengerti tentang tekanan zat cair dan memraktikkan cara pengukuran suatu zat" begitu kok. ga ditulis "tujuan: nilai siswa tinggi" nggak sama sekali. makanya, kembali pada pelaksananya, udah bener ngelaksakan sistem apa nggak?

iya, coba sekali-kali tanya guru deh tentang sistem pendidikan beserta prosesnya, tujuan dan manfaat yg diinginkan. ga akan ada yg bilang buat ninggiin nilai kok.

Reply
avatar
Anonymous
admin
18 May 2014 at 19:16 ×

Menarik.. :D
Eh tapi menurut gue dibagian awal ada yg terlalu sarkastis menurut gue, yg lo bilang buruh gak terdidik. Yaiyalah.. Kalo mereka mampu mengenyam pendidikan mereka gak mau juga jadi buruh. Jadi menurut gue mereka dipaksa keadaan sehingga tidak mengenyam pendidikan. Tapi mengatakan mereka gak terididik menurut gue terlalu kasar. :)

Kalo soal UN gue sih sepakat aja, asalkan ukuran kelulusan diserahkan ke sekolah masing2, jadi gak harus diratakan secara nasional. Dari hasil itu pemerintah juga bisa melakukan evaluasi. Tanpa harus menerapkan ukuran nilai nasional.

Kalo soal sistem pendidikan, gue juga gak nyalahin sistemnya. Sistem yang dipakai pasti udah dirancang dengan bagus, tapi kurang riset menurut gue, apakah sistem ini bisa dipakai diseluruh sekolah atau hanya sebagian aja. Misalkan tentang pembelajaran komputer, mungkin di kota besar bisa, tapi untuk pedalaman yang komputer aja gak ada bisa jadi masalah. Intinya perlu riset sebelum menerapkan sistem.

Tentang passion gue juga sepakat, gak harus belajar sesuai passion. Toh juga passion kita gampang banget berubah. Tapi ini menjadi PR penting bagi pendidik, kenapa banyak siswa gak menyukai pelajaran matematika dan pelajaran2 lainnya yang menurut mereka gak penting. Selama ini kita hanya diajarkan menghapal padahal bukan itu yang diperlukan, yang harus dilakukan pendidik adalah membuat siswa Minat dengan pelajaran itu. Seperti halnya nama2 pemain sepak bola, itu gak diajarin di sekolah tapi banyak yg tau nama2nya. Itu kan karena mereka minat dengan sepakbola. Jadi yang harus dilakukan pendidik adalah membuat siswa minat dengan pelajarannya. Banyak hal untuk melakukan itu, makanya pendidik juga dituntut harus kreatif dan berani mencoba hal baru.

Reply
avatar
19 May 2014 at 01:04 ×

Gue suka kalo ada orang yg mengoreksi gue, jd gue bisa nyari data dan dapat ilmu baru. :D
Iya, terima kasih. Itu gue lupa ngasih kata 'hahahaha', itu kan bit gue buat bikin materi stand up. Lagian jangan diambil sepotong dong, lengkapi dgn heri peringatannya, jadinya kan ga sarkas langsung ke orangnya.

Nah itu, gue sendiri udah ngerasa sistem pendidikannya udah menuju ke sana, penyerahan ke sekolah. Buktinya ada temen saya yg ga lulus ujian akhir sekolah tapi lulus UN, itu ijazahnya ditahan. Mau ga mau, dia harus melakukan ujian sekolah ulang. Untuk membuat sekolah bisa dipercaya membuat standar sendiri, sekolah tersebut haruslah memiliki pengajar yg bertanggung jawab, dan sistem sekolah yg ga hanya mau dibilang keren karena banyak lulus saja, tapi juga mengedepankan pendidikan yg baik. Ya seperti guru yg kompeten.

Gue ngerasain yg namanya belajar komputer tanpa komputer. Sekolah gue ga punya komputer buat praktik. Tapi kebijakannya, pelajaran komputer ga hanya tentang sistem komputer, tapi juga tentang ilmu komunikasi dan visualisasi, makanya TIK masih bisa diajarkan walau materinya bukan semua tentang komputer, Saat saya mulai tau komputer, saat itu gue bisa bilang "oh, ini yg namanya microsoft word, oh ini yg namanya motherboard," yah, seenggaknya ada dasar ilmu yg bisa dijadikan alasan mengenal lebih jauh lagi. BTW, sekarang TIK udah ditarik dr kurikulum, ga tau deh gimana hasilnya, udah bendanya ga punya, eh pengetahuan tentangnya pun ga diajarin. Makanya, untuk pelajaran yg seperti itu, tidak diajadikan penilaian nasional. Ya, selain riset untuk menerapkan, mereka juga meriset untuk tidak menerapkan berdasarkan kondisi.

Hahaha, termakan bit-nya pandji ini. Benar, minat atau yg katanya passion, memang diperlukan, tapi menimbulkannya ga hanya tentang pendidik, tp juga tentang yg dididik, serta lingkungannya. Misal, waktu kecil, lingkungan kamu banyak bermain layang-layang, kamu dengan sendirinya akan terpengaruh buat main juga. Misal lagi, temen kamu bilang si Erni anak pak Andi cantik, kamu pasti jadi tertarik buat melihat si Erni langsung.

Maksud gue, untuk menciptakan ketertarikan pada sesuatu, jgn membuat sesuatu tersebut jadi jelek, atau menyebarkan kejelekannya. Jangan nyebarin isu matematika susah, biologi ga guna, fisika itu ga asik, jangan! karena secara ga sadar mereka juga akan mempolakan demikian. Buatlah temen kita tertarik juga dengan indahnya pengetahuan. gue lebih suka nyebarin hal positif untuk memberitakan kebagusanya dibandingkan menonjolkan kejelekannya, kayak artikel ini. Gue tau kok keburukan sistem, tapi gue juga tau sisi bagusnya.

Guru juga sudah mencoba berbagai hal untuk menarik minat, masalahnya, ga semua bisa tertarik, perlu pendekatan lebih. Itu juga tugas teman sekelas, teman lingkungan, guru konseling, dan semuanya. Ya kalo menunggu minat datang dari guru, perlu banyak guru dan wkatu yg diperlukan. Gue sendiri awalnya ga minat dengan fisika, kata kakak kelas gue, itu pelajaran paling sulit nantinya, awalnya sih biasa katanya. tapi waktu gue nyari tau tentang fisika, guru gue bilang fisika itu asyik. karena di kampung gue ga ada internet, jadinya gue ke perpus yg dibuka sebulan sekali buat dibersihkan, itu gue ngambil buku tokoh penemu fisika diem-diem dan disembunyiin di balik baju. gue baca di rumah, dan dari situlah gue menjadi tertarik dengan fisika, ga peduli dengan susah soalnya, karena soalnya sendiri juga bisa dikerjakan saat sudah memahami.

intinya, minat tidak boleh menunggu, tapi berusahalah mendapatkanya. bahkan pelajaran yg paling dibenci sekalipun, carilah bagaimana cara meminatinya, bertindaklah dari diri sendiri terlebih dulu. kemudian bertanyalah pada yg ahli dan sudah meminati, jangan tanya yg jelas membenci, itu sih nyari alesan dan temen doang.

bukankah kita percaya guru seorang fasilitator? kok masih ditutuk untuk jadi diktator? mari mulai dengan diri sendiri, dan ajak yg lain. :D

Reply
avatar
tamara desia
admin
29 June 2014 at 23:42 ×

sebagai pelajar yang memikirkan UN itu bikin gemetar, saya setuju kalo UN dihapuskan. tapi setelah membaca ini, saya jadi berfikir, memang kalau UN dihapus akan menghasilkan perubahan yang lebih baik. lah allhamdulillah kalau dapat pengganti UN yang meringankan siswa, lah kalau tambah menyulitkan dan kualitas tambah memburuk. bagaimana?

Reply
avatar
How Haw
admin
30 June 2014 at 09:48 ×

iya, karena UN sebenarnya untuk evaluasi dan pemetaan agar terjadi PEMERATAAN ilmu, bukan penyeragaman, karena kalo gak diratakan, orang yang sekolah di desa akan kesulitan melanjutkan ke kota karena beda standar yang ditetapkan sekolah :D

Reply
avatar

Berkomentarlah dengan baik, sopan, nyambung dan pengertian. Kan, lumayan bisa diajak jadian~ EmoticonEmoticon