Hal Buruk Lebih Mudah Terjadi Di Hari Jumat, Sial

Jumat-sial
1) Oh, no! It's Friday.
Assalamu’alaikum…

Mungkin yang mutualan dengan saya di Twitter sudah beberapa kali melihat saya ngeluh tentang sialnya saya tiap Jumat. Keluhan yang saya cuitkan mengenai hari Jumat, yang hampir selalu membawa pengalaman pahit tersebut, sepertinya sudah saya lakukan sejak 2017. Tahun sebelumnya, ya, tetap mengeluhkan hal yang sama, cuma nggak sampai saya tuliskan di media sosial.

Sial di sini maksudnya bukan karena kita tidak mau berusaha lebih, sehingga gagal atau sejenisnya. Melainkan, walo sudah melakukan yang terbaik, melakukan hal yang benar, ada faktor dari luar yang bahkan tidak berhubungan dengan yang diusahakan, yang membuatnya menjadi beban. Seperti sudah siap ke suatu tempat perjanjian, eh, jalannya kena longsor, ojeknya mogok, anggota keluarganya sakit mendadak.

Saya nggak ingat kapan tepatnya mulai menyadari, hanya saja, ketika diingat-ingat tentang hal yang membuat saya kesal, kebanyakan terjadi di hari Jumat. Mengalami kehilangan barang yang berharga, dimarahi walo nggak salah apa-apa, keserempet kendaraan lain, dapat kabar nggak baik, dan banyak hal tidak menyenangkan lainnya.

Setelah merenungi hal tersebut, saya mulai menghindari melakukan hal yang penting tiap Jumat. Mengurangi bertemu atau berkomunikasi dengan banyak orang, serta kalo bisa nggak pergi atau berada di jalanan terlalu lama (walo jarang terlaksana, sih).

Padahal Jumat, kan, bagi sebagian orang dianggap sebagai hari yang suci dan penuh berkah

Iya. Saya juga sering mendengar hal tersebut. Jumat malah dianggap sebagai hari raya mingguan, karena banyak limpahan berkahnya. Makanya umat muslim diminta untuk salat Jumat, kan, agar bisa mendapat berkahnya lebih banyak.

Cuma, kalo mau melihat dari sudut pandang lainnya. Kenapa hari Jumat sampai diberi jadwal ibadah khusus? Di tengah hari pula, saat kegiatannya lagi padat-padatnya. Bukankah itu seolah kita diminta untuk memohon perlindungan lebih di hari tersebut? Karena mungkin saja, hari Jumat membawa banyak hal tidak baik yang tidak kita ketahui.

Namun, itu masih sebatas anggapan saya saja. Makanya, untuk memastikan apakah ada orang lain yang menganggap seperti itu, saya mulai mengetikkan di gugel 'Jumat membawa sial'. Taraaaa… Ternyata cukup banyak orang yang punya penilaian yang sama. Bahkan, anggapan tersebut sudah berlangsung sejak lama.

Katanya, Jumat itu sial karena merupakan hari penyaliban

Manusia yang menebarkan kasih dan menuntun pada kebaikan, disalib pada hari Jumat. Walo sebagian lain mempercayai sebaliknya, sebab kejadian tersebut mendatangkan penebusan dosa umat manusia. Makanya ada Jumat Agung. Satu-satunya Jumat yang tidak dianggap sial.

Nabi Adam memakan buah terlarang dan terusir dari surga juga terjadi pada hari Jumat. Manusia pertama, mengalami hal tidak baik, kemudian terusir dari tempat yang diharapkan oleh semua umat manusia. Terjadinya di hari Jumat, padahal tempat itu dikenal sebagai tempat di mana semua kebaikan berada.

Karena anggapan tersebut sudah terjadi sejak lama, kemudian bertemu dengan sarana hiburan dan informasi yang bisa disaksikan semua (film), makin menyebarlah kepercayaan tentang Jumat yang membawa keburukan.
friday-the-13th
2) Makin menyebarkan keseraman hari Jumat
Kemudain ditambah dengan cerita pengalaman sial masing-masing, yang kebetulan terjadi pada hari Jumat, makin sepakatlah dengan anggapan tersebut. Belum lagi kalo melihat berita kecelakaan dan penipuan yang lebih banyak terjadi tiap Jumat, apa nggak makin meyakinkan itu bahwa Jumat memang membawa keburukan?

Sejak punya anggapan bahwa Jumat membawa sial, meski mengurangi berkomunikasi, saya mulai memperhatikan sekitar lebih banyak. Lebih waspada. Ditambah juga ada yang bersedia membantu/menghibur, biar Jumatnya nggak terasa sial lagi. Hal tersebut berlangsung cukup lama dan membuat saya menyadari bahwa,

Hari Jumat yang membawa kesialan itu, secara logika memang sangat memungkinkan.

Jumatnya secara default memang tidak membawa keburukan apapun, tapi di hari tersebut, tindakan manusianya bisa menyebabkan orang lain mengalami kesialan. Sebab, manusia akan lebih teledor di hari Jumat.

Kita semua tahu, bahwa banyak orang yang tidak menyukai hari Senin karena merupakan hari pertama memulai aktivitas rutin/pekerjaan. Kemudian, di hari Jumat, yang kebanyakan merupakan hari terakhir rutinitas mingguannya, orang-orang akan bersyukur dengan meng-updateThank God, It’s Friday”.

Di hari yang mereka syukuri ini (Jumat), tiap pekerjaan yang mereka lakukan sudah tidak disertai dengan fokus. Di kepala mereka hanya terpikir lekas sore/pulang dan besoknya libur. Akibatnya apa? Kewaspadaan dan motivasi mereka berkurang. Kemungkinan melakukan kesalahan akan lebih besar.

Ini terjadi di setiap lini atau jenis pekerjaan. Orang yang di hari lainnya begitu fokus, di Jumat mulai ogah-ogahan. Bagaimana kalo sikap ogah-ogahan dan gak fokusnya tersebut berhubungan dengan orang lain? Kemungkinan besarnya, urusan orang lain tersebut akan dia hold ke hari senin. Atau malah dikerjakan asal-asalan.

Artinya, orang yang butuh pelayanannya tadi akan mengalami kesialan. Sebab urusannya yang bisa saja sangat penting, jadi tertunda atau berantakan. Karena penting, tapi tertunda/berantakan, mulailah emosi merasuki. Siapa yang akan jadi pelampiasan emosinya? Orang yang lain lagi yang dia temui, yang sebenarnya juga tidak salah-apa-apa. Sial.

Jumat memang dirahmati, tapi hal tersebut malah menambah keteledoran

"Orang yang meninggal di hari Jumat, dia akan langsung masuk surga". Pernah dengar tidak kalian dengan kalimat seperti itu? Saking dimuliakannya hari Jumat, meninggal di hari tersebut pun diceritakan bisa nge-skip perhitungan dosa.

Katanya, hanya orang suci dan benar-benar baik yang meninggalnya hari Jumat. Kalo orangnya jahat, kecelakaan, nggak akan mati. Nunggu ganti ke hari Sabtu dulu.

Udahlah di pikirannya pengin cepat-cepat sore yang bikin nggak fokus, eh, ditambah kepercayaan bahwa meninggal di Jumat langsung masuk surga. Ya, makin teledor. Kalo dia sampai mengendarai kendaraan bermotor, kemungkinan besarnya akan ugal-ugalan.

Buat apa hati-hati? Toh, tujuan manusia adalah surga, dan itu bisa dia dapatkan kalo meninggal di hari Jumat. Meninggal bisa terjadi kalo dia nyetirnya sembarangan.

Nyetir sembarangan di jalan umum, siapa yang bakal kena imbas keteledorannya? Orang lain. Padahal orang lain tersebut nggak salah apa-apa, sudah berada di jalur yang benar pula. Tetap ketabrak. Sial, kan?




Sumber gambar:
1) https://www.bola.com/ragam/read/4487003/40-kata-kata-keren-tentang-hari-jumat-cocok-dibagikan-di-media-sosial
2) https://www.tribunnews.com/seleb/2013/09/13/mengapa-orang-amerika-anggap-hari-jumat-tanggal-13-itu-hari-sial
Previous Post
Next Post

Oleh:

Terima kasih telah membaca artikel yang berjudul Hal Buruk Lebih Mudah Terjadi Di Hari Jumat, Sial Apabila ada pertanyaan atau keperluan kerja sama, hubungi saya melalui kontak di menu bar, atau melalui surel: how.hawadis@gmail.com

0 Comments:

--Berkomentarlah dengan baik, sopan, nyambung dan pengertian. Kan, lumayan bisa diajak jadian~