Fiksi Kilat: Terapi Hipnotis Tidur

“Lupakan semua kejadian yang membuatmu tidak tenang. Lupakan! Lupakan!” ucapku pelan kepada lelaki yang sedang kuterapi dengan hipnotis tidur. Pekerjaan hipnotis tidur ini aku lakukan setiap akhir pekan yang berakhir hingga larut malam.

“Lupakan dan tidurlah lebih dalam. Lupakan! Lupakan!”

Lelaki yang sedang kuhipnotis tidur tersebut mengaku sedang mengalami masalah rumah tangga. Istrinya sudah mengetahui hubungan gelapnya dengan wanita lain. Mereka kemudian bertengkar. Aku terus memberinya sugesti agar dia lebih tenang dan bisa melupakan kejadian tersebut.

“Tenang dan lupakan semuanya. Lupakan! Lupakan!”

Semakin banyak aku mengucapakan kata "lupakan", lelaki tersebut semakin tenang. Namun, malah aku yang semakin gelisah. Tiap kata "lupakan" yang aku ucapkan, semakin membuatku teringat. Iya, teringat dengan kejadian minggu lalu.

"Lupakan! Lupakan! Dan tidurlah semakin dalam!"

Ingatanku semakin jelas. Lelaki inilah yang kulihat keluar dari rumahku minggu lalu ketika pulang.

"Lupakan! Lupakan!"

Semua ingatan tentang malam itu semakin terang. Kasur yang berantakan. Entah dasi siapa di sudut kamar. Serta pertanyaan istriku yang sedikit gemetar, "Tumben kamu pulangnya lebih cepat, Sayang?"

"... ..."

Aku berhenti memberinya sugesti untuk melupakan. Lalu aku pergi meninggalkannya sendirian. Aku tak bisa melawan semua ingatan yang bermunculan. Tak mungkin semua itu terlupakan. Satu-satunya yang aku lupakan hanyalah pisau yang baru kutikamkan.

*****

Tulisan ini dibuat dalam rangka #memfiksikan dengan tema “Lupakan”. Mohon kritik dan sarannya, kalo nggak mau juga nggak apa-apa. Lupakan!



howhaw

“Tak ada yang nyata saat ini. Karena semua hanyalah fiksi.”








Previous Post
Next Post

Oleh:

Terima kasih telah membaca artikel yang berjudul Fiksi Kilat: Terapi Hipnotis Tidur Apabila ada pertanyaan atau keperluan kerja sama, hubungi saya melalui kontak di menu bar, atau melalui surel: how.hawadis@gmail.com

23 comments:

  1. Istrinya jahat juga ternyata :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tak ada kata jahat dalam cinta dan kesenangan. :p

      Delete
  2. Wah, Haw. Bisa aje ini idenya. Gue nggak ikutan memfiksikan dulu. Krisis kuota. Hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha... bukan gegara nelpon lupa didaptarin paket itu kan? =)D

      Delete
  3. Wa wa wa ., perselingkuhan itu . . harusnya jngan dibunuh ,. dibakar aja bang ,, wawawa . , Luapkan . , mksudnya Lupakan!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. woi... wa wa wa itu gayaku, jangan dipake. :p

      Delete
  4. jadi, si penghipnotis menghipnotis laki-laki yang selingkuh sama istrinya, bro haw?
    ya kan...

    ReplyDelete
  5. Jadi si penghipnotis menghipnotis cowok yang ketahuan selingkuh sama istrinya dan ternyata cewek yang diselingkuhin itu istrinya si penghipnotis... akhirnya emosi terus dibunuh deh tuh orang :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih, Bang, udah dijelasin. :D

      Delete
  6. ibarat kata seorang sastrawan, u generasi penerusnya Agus Noor, keren beeuud

    ReplyDelete
    Replies
    1. O_o gak sampe segitunya juga sih. Tapi aku aminin, Mbak.

      Delete
  7. keren banget, saya suka cerita fiksi :)

    ReplyDelete
  8. Yah.. Kok cumak ditikam sih, Haw? Kenapa ngga dibakar aja.. :(

    ReplyDelete
  9. itu dasi siapa dipojok kamar?

    "LUPAKAN HAW LUPAKAN!!"

    ReplyDelete
    Replies
    1. lupakan aku~ kembali padanya~ aku bukan siapa-siapa untukmu~

      Delete
  10. Jadi, hikmah yang bisa diambil dari cerita fiksi ini adalah: belum tentu tukang hipnotis bisa menghipnotis dirinya sendiri #halah
    Anyway, aku selalu suka sama gaya bercerita seperti ini, yang selalu bikin syok di ending-nya. Kece!

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha... kejadiannya mungkin kaya dukun, belom tentu bisa nyembur mukanya sendiri.

      Delete

--Berkomentarlah dengan baik, sopan, nyambung dan pengertian. Kan, lumayan bisa diajak jadian~