Puisi: Melapor

Melapor

“Kau nggak perlu berletih-letih menunggu angkot lagi, Dik.”
Begitu katanya, Pak
Dengan semua tabungan hasil kerja
Ditambah uang hasil menjual tustel kesayangannya
Dia membelikanku sepeda motor

Waktu itu aku sampai menangis, Pak


Padahal tustel itu barang satu-satunya peninggalan ayah
Tak ada tanah maupun rumah
Sejak kami tinggal berdua
Dia yang membiayai semua kebutuhan
Memeras keringat tak peduli lelah
Menabung dan akhirnya membelikan motor
Biar aku nyaman bersekolah

Sepulang dari apotek kemarin malam
Di tikungan dekat pekuburan Hidayah
Nah, di situ...Di situlah, Pak

“Kak, aku tadi dibegal. Motornya diambil.”
Waktu aku bilang begitu, dia kecewa dan marah
Kecewa sekali, Pak
Tak pernah aku melihat tatap mata,
yang penuh kecewa seperti malam itu sebelumnya

Mendadak dia mengambil parang di kamar
Lalu pergi setengah berlari
Pergi ke tempat aku kena begal
Tapi tentu saja pembegalnya tidak ada
Mereka pasti sudah pergi ke penadah
Tapi dia tetap menunggu, ingin memuaskan emosinya
Mungkin saja akan ada pembegal lainnya

Saat menunggu itulah, tiba-tiba banyak warga yang bermunculan
Melihat kakakku memegang parang,
mereka langsung berlari ke arahnya
Bermaksud menangkapnya

Kakakku berontak, berteriak ‘bukan pembegal’
Tapi tak ada yang percaya
Malah langsung menyiraminya dengan bensin dan sulutan api
Menertawai dan meneriakinya dengan serapah
Ada juga yang memotretnya untuk diunggah
Hingga ada banyak yang berkomentar, “RASAKAN BEDEBAH!”

Lalu sekarang,
Bapak cuma bisa memberikan nasihat
'Menghindari begal dengan tidak pulang larut malam?'
HAH?


*****
Ternyata bikin puisi susah. *garuk-garuk kepala* Oh iya, puisi mbeling ini dibuat dalam rangka #memfiksikan yang sudah masuk minggu ketujuh dengan tema “Begal”. Yang mau ikutan, silakan buat cerita fiksi dan share di Twitter dengan tagar #memfiksikan, trus mention @memfiksikan. Lumayan buat belajar.


howhaw


“Tak ada yang nyata tiap hari Jumat di sini, arena semua hanya fiksi”






Previous Post
Next Post

Oleh:

Terima kasih telah membaca artikel yang berjudul Puisi: Melapor Apabila ada pertanyaan atau keperluan kerja sama, hubungi saya melalui kontak di menu bar, atau melalui surel: how.hawadis@gmail.com

18 comments:

  1. Jadi si kakak meninggal? :( *syedih*

    ReplyDelete
  2. Biar gue tebak biar ge tebak . . jadi si kakak disangkain pembegal sama para warga, terus dibunuh gitu kan bang . .??
    Oo berarti begal yang dibakar di tangsel kemaren itu ??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini bukan soal tebakan, Ka.
      Iya gitu.

      Delete
  3. Temanya begal-membegal nih, hehe.
    Iya Haw, bikin puisi itu susah, menurutku. Dan tiap kali baca puisi, aku jadi sedih. Sedih karena nggak ngerti. :/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya kalo bikin puisi, aku lebih ke arah kontemporer apa adanya. Gak mentingin diksi. *kurang kosa kata sih sebenernya*

      Delete
    2. Sedih karena gak ngerti, hahaha
      Iya banget :"

      Delete
    3. Emang mesti belajar mengenal banyak diksi dan susuanan kata dulu kayaknya. Biar bisa menikmati puisi. :-d

      Delete
  4. kayak gini puisi juga ya? hahaha. keren sih. twistnya selalu dapet kalau lo bikin fiksi.
    warganya pada sok tau tuh, begal mana yang gak pake motor? masa berdiri sambil megang parang langsung dibakar. kasian bgt ;(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku nggak tahu, Man. hahaha... meski bukan puisi, aku sebut puisi aja deh. :p

      Iya juga sih. Tapi ada kok yang begitu. mereka pengeksekusi aja, kawannya yang ngasih info dari ujung jalan pake hape kalo ternyata ada mangsa yang empuk. trus 2 personil yang eksekusi tadi langsung menodong menghalangi ke tengah jalan, mengambil motor, lalu kabur.

      Delete
  5. Puisi? Haha. Nggak ada nyawanya, Haw. Gue pikir ini cerita biasa. FF tepatnya. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha. Iya, Yog. Ini puisi Failed kali ya. :ng Mestinya memang dijadiin cerpen aja ini.

      Delete
  6. Puisi? Haha. Nggak ada nyawanya, Haw. Gue pikir ini cerita biasa. FF tepatnya. :))}

    ReplyDelete
  7. Mengenaskan banget. -___-
    Padahal, kan, bukan dia begalnya. :(
    Main hukum sendiri! Dasar masyarakat! :(
    Huh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah, begal mereka semua, Rima. Tusuk lehernya kayak yang kamu lakuin itu.

      Delete
  8. Kayaknya ceritanya lebih cocok buat dijadiin cerpen deh, Bang. Soalnya kalo dijadiin puisi menurutku kurang nyambung ._. Btw, apa jangan-jangan yang di Tangerang itu kejadiannya kayak yang dicerita ini ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, banyak yang nyarananin begitu. Namanya juga nyoba, mungkin kalo secara tulisan emang gak puitis, tapi kalo diperdengarkan (dibaca; dengan intonasi kecewa) bisa jadi puisi kok.

      Semoga aja nggak. semoga.

      Delete

--Berkomentarlah dengan baik, sopan, nyambung dan pengertian. Kan, lumayan bisa diajak jadian~