Thursday, 23 April 2015

Howhaw #151: Pasangan yang Saling Melengkapi Hanya Ada di Zaman Dulu

Assalamu’alaikum...

Jodoh memang tiada yang tahu. Karena ketidaktahuan tersebut, banyak orang yang mencoba menebak-nebak jodohnya. Mulai dari teori persamaan, hingga teori pelengkap. Misalnya, mereka akan merasa berjodoh jika orang yang disukainya memakai baju yang sama, hobi yang sama dan memiliki ibu yang sama. Atau mungkin ibunya berbeda, tapi mereka menatap ayah yang sama.

Teori pelengkap beda lagi, mereka percaya bahwa orang yang berjodoh dengannya memiliki banyak perbedaan. Misal, sifatnya yang berbeda, makanan favoritnya berbeda dan perasaannya berbeda. Atau perasaannya sama, tapi waktu menikahnya yang berbeda.


Namun, namanya juga tiada yang tahu, untuk menilai mana yang benar dan mana yang salah juga tidak bisa dilakukan. Terserah masing-masing saja. Masalahnya, yang mengatakan teori pelengkap atau saling melengkapi, lama kelamaan makin ‘menjadi’. Mereka mengatakan, semakin jauh perbedaan mereka, takdir berjodohnya semakin besar.

Yang satu lembut yang satu kasar = jodoh?
Saya pernah membaca artikel yang berisi kalimat tersebut. Pasangan yang sempurna adalah pasangan yang saling melengkapi. Tapi masa’ iya sampai segitunya?

howhaw
Kutipan dari artikel di sini
Katanya, jodoh sempurna itu yang perempuan berhati lembut sedangkan lakinya kasar, suka marah-marah dan membentak. Hah? Iya, sempurna. Tapi kalo dijadiin sinetron. Yang biasanya si laki akan berakhir dengan kematian di tangan anaknya.

Saling melengkapi bukanlah penyatuan hal yang bertentangan
Saling melengkapi memang identik dengan perbedaan. Namun, bukan berarti harus memaksakan. Tidak semua yang berbeda dan bertentangan bisa dikatakan saling melengkapi dan akan menjadi indah saat bersatu. Lihat saja pesona laut yang bersih, jika dia bersatu dengan sampah yang kotor, apakah bisa disebut indah?

howhaw

Perbedaan memang akan terlihat indah, tapi bukan dengan bersatu. Lebih tepatnya bersama. Saling menghargai dan menghormati. Tak perlu memaksa untuk menyatukan, cukup berdampingan. Lagi pula, pasangan yang saling melengkapi itu hanya ada di zaman dulu.

Saling melengkapi bisa dikatakan berbeda tapi tak terpisahkan. Menjadi tak berarti jika pasangannya tidak ada. Seperti sebuah pertanyaan yang memerlukan jawaban. Kalo diperhatikan berdasarkan kebiasaan, orang zaman dulu lebih mengedepankan untuk bersikap melengkapi.

Lihat saja kalimat sapaannya
Orang zaman dulu kalo mau menyapa bilangnya “sampurasun”. Orang yang disapa akan membalasnya dengan “rampes”. Atau ada juga yang bilang “ghlenun” dengan jawaban “yatoreh”. Sepasang, saling melengkapi.

Coba sekarang. Orang-orang menyapa berdasarkan waktu. Misalnya “selamat pagi” di waktu pagi hari. Tapi apa jawaban orang yang disapa? “Selamat pagi juga”. Itu kan bukan melengkapi, malah lebih tepat disebut dengan “nambahi”.

Kenapa? Mau bilang yang sebelumnya itu bahasa daerah? Baiklah, kita ingat kembali sapaan bahasa pemersatu kita. Orang zaman dulu kalo bilang “permisi”, bakal dijawab dengan “silakan”.

Tapi orang zaman sekarang, tiap mendengar orang bilang “permisi”, bakal ditanggapi dengan kata “iya”. Siapa yang menanyakan iya atau tidak? Kalo tidak percaya, coba saja mengetuk beberapa pintu rumah orang lain sambil berkata “permisi”, pasti orang yang keluar bakal menjawab “iya”. Atau bisa juga dicoba ketika berada di keramaian, saat mau meninggalkan antrean, misalnya. Mereka gak bakal bilang “silakan”, paling cuma ditatap doang.

Atau kalimat rayuannya
Orang zaman dulu punya pakem “melengkapi” dalam merayu. Misal, “kalo kau jadi bunga, aku yang jadi kumbangnya”. Atau “kalo kau jadi laut, aku yang akan jadi pantainya”. Sepasang, saling melengkapi.

howhaw

Coba rayuan orang sekarang. “Bapak kamu jualan kipas ya? Karena kamu telah menyejukkan hatiku”. Tunjukkan pada saya, bagian mana yang saling melengkapi. Lagian, memangnya kipas selalu bikin sejuk? Pasti belum baca artikel ini.

Saling melengkapi atau saling menjugai?
Kebiasaan orang di zaman sekarang, ucapan selamat pagi, dibalas selamat pagi juga. Aku cinta kamu, aku cinta kamu juga. Aku sayang kamu, aku sayang kamu juga. Aku rindu kamu, aku rindu kamu juga. Cuma ditambahi kata “juga”.

Saling melengkapi itu kan berbeda tapi sama-sama membutuhkan. Seperti mur dan baut. Coba kalo saling menjugai. Aku baut, aku baut juga. Aku laki, aku laki juga. Apanya yang saling melengkapi?


Sekarang, coba pikirkan lagi. Apa iya kalian itu pasangan yang saling melengkapi? Atau saling menjugai? Dan lakukan percobaan dengan cara memutuskan hubungan kalian.

Jika memang saling melengkapi, dia akan merasa tidak berarti. Namun, jika dia bisa melanjutkan ceritanya sendiri, baginya, kamu hanya jadi pelengkap yang sebenarnya tidak memiliki arti. Yang didekati karena dia tidak mau diledek “selalu sendiri”.


Sumber Gambar Sebelum Diedit:
https://cintanyunyut.wordpress.com/perbedaan-saling-melengkapi/
https://duniaaya.wordpress.com/2012/11/03/kajian-kebijakan-pengendalian-pencemaran-dan-perusakan-lingkungan-hidup-terhadap-permasalahan-pencemaran-akibat-kegiatan-pariwisata-di-provinsi-bali/
https://www.pixoto.com/images-photography/animals/insects-and-spiders/kumbang-bukan-seekor-bunga-bukan-sekuntum-70552848
https://motor.otomotifnet.com/read/2011/08/11/322349/128/8/DKW-Hilfsmotor-Jerman
https://groundrod.indonetwork.co.id/2134813/mur-baut-stainless-steel.htm

Previous Post
Next Post

Oleh:

Terima kasih telah membaca artikel yang berjudul Howhaw #151: Pasangan yang Saling Melengkapi Hanya Ada di Zaman Dulu Apabila ada pertanyaan atau keperluan kerja sama, hubungi saya melalui kontak di menu bar, atau melalui surel: how.hawadis@gmail.com

60 comments:

  1. Kern ulasan ringanmu ini mas, :-)

    ReplyDelete
  2. Weeeee. Ini postingan keren banget, Bikin mikir, terus ngangguk-ngangguk. Bener juga ya. Cerdas bikin ulasannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bikin mikir. *Aku kok ngebahas ginian yah?* @@,

      Delete
  3. Bukan how haw namanya kalo posting ga pake teorema..
    analoginya dapet banget dah
    uda pantes jadi pakar cinta

    ReplyDelete
    Replies
    1. (((PAKAR CINTA)))

      Punya orang baru yang bisa dicintai aja nggak. ._.

      Delete
  4. saling melengkapi tidak mesti berbeda, yang penting nyaman dan saling membutuhkan

    ReplyDelete
  5. bikin ngangguk-ngagguk nge iyahin nih..

    ReplyDelete
  6. nah iya..mur dan baut pas banget...

    garwo, sigarane nyowo, jadi mesti bersatu dalam keserasian :)

    ReplyDelete
  7. Iya, sih~
    Jodohhh....? Gimana, yaaa~
    Kalau dalam islam, jodohmu adalah cerminan dari dirimu sendiri. Ehh, tapi gimana, ya? Ahh, pokoknya, siapapun jodohku, ialah yang terbaik. Pilihan Allah SWT yg bisa menjadi imamku, membimbingku spya bisa hidup kekal di dalam surga bersamanya.

    *ehhh, jadi curhat. Hahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perlu dinyanyiin lagunya Anang Ashanty yang "Jodohku" nggak, Nur? @@,

      Delete
  8. Wa'alaikumsalam.
    Lalu, setelah baca ini gue bakalan jomlo. Haw bangkek! XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perlu diaminin nggak, Yog?

      hahaha... itu niatan dan harapan tersembunyinya sih. penjombloan massal =D

      Delete
  9. Tapi bang, kalau kamu bilang "Assalamu'alaikum", aku gak mungkin bales "Assalamu'alaikum juga"... Pasti balesnya "Wa'alaikumsalam"... Lah ini gimana? :/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Aku nggak ngebahas itu biar nggak SARA aja. Takut entar dikira judulnya jadi, "..hanya di Islam saja".

      Delete
    2. Islam kan rahmatan lil alamin, bang :')

      Assalamu'alaikum artinya "keselamatan untukmu"; sedangkan wa'alaikumussalam artinya "keselamatan untukmu juga".
      Kedua salam ini menurutku udah sempurna banget.
      Walaupun cuma ditambahin "juga" pada akhir kalimat, tapi tetap aja kesannya saling melengkapi...

      Hmmm gimana, ya. Menurutku kata "juga" tuh digunakan untuk mempertegas kalimat sebelumnya. Jadi, saat seseorang udah gak tau lagi mau bilang apa karena dia pun merasakan hal yang sama dengan orang yang bilangin itu ke dia, ya penambahan "juga" di akhir kalimat bisa dianggap saling melengkapi.

      Misalnya:
      "Aku sudah lama mencari kamu..."
      "Aku pun begitu. Sudah lama mencari kamu juga..."

      Nah, menurutku itu udah saling melengkapi, bang. Yang satu mencari. Yang satunya lagi juga mencari. Saling mencari. Ketemu. Lengkap.

      Kalau yang satunya mencari, trus satunya lagi menunggu... Itu udah saling melengkapi belum, sih? Kok lama-lama jadi pusing ya mikirinnya xD

      Eh ini kok jadi panjang banget komen disini, wkwkwk.

      Delete
    3. *wah, aku didebat nih*

      Iya, Dara. Assalamu'alaikum dan wa'alaikum itu sepasang, saling melengkapi. Nggak dibahas, biar nggak ada unsur SARA aja. Lagian, inti artikel ini bukan untuk membahas hal itu.

      Bayangkan kalo dibahas juga, bakal ada orang yang menafsirkan "jadi menurut lo, salam yang saling melengkapi itu cuma salamnya orang islam?" lalu timbullah hal yg tak diinginkan. Padahal mah, mau saling melengkapi atau menjugai, nggak ada pengaruhnya. Itu yang ingin dihindari.

      Yang perlu digarisbawahi, nggak ada yang menyalahkan penggunaan kata "juga". Toh tiap hari pasti dipakai. Di sini cuma menekankan bahwa kalimat "saling melengkapi" itu bermakna saling membutuhkan, sedangkan saling melengkapi di zaman sekarang itu diartikan "berbeda dan bertentangan" tak peduli itu saling membutuhkan atau nggak.

      Delete
    4. Wa wa wa... Padahal gak niat nge-debat :p

      Delete
    5. Wa wa wa... komennya pake wa wa wa...

      Delete
  10. Wkwkwkw berarti kalau ada yang bilang "Selamat malam" terus dijawab "selamat malam" mengartikan kalau orientasinya sejenis gitu ya :D

    Ah gue nya yang ngaco ini sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... gak sampe gitu juga, Bang. :D tapi bisa jadi sih.

      Delete
  11. Ah puciiiing.. Yang penting aku sayang sama Febri. Ayeeee! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi saya bundar. Bundar tapi saya, Kak.

      Delete
    2. Mananya kamu yang bundar? ._.

      Delete
    3. Kurasakan..bundar dalam hatiku~
      Rasa cinta yang ada untuk diriku~
      Aku lelah...dengan semua yang ada~
      Inginku..lepas..semuaaaa~

      Delete
    4. Keliatan banget jomblonya.. Rasa cinta yang ada untuk diri ku.. Bruakakakakk! :D

      Delete
    5. Kalo kalimat akhrinya pake -mu, entar bisa disalahartikan~

      Delete
  12. kalo seandainya saya mutusin pacar pasti bakal ngerasa kehilangan karena tidak ada orang yang bisa mengisi kekosongan saya sebaik dia

    ReplyDelete
    Replies
    1. *eng.......

      kan cuma saran, boleh diikuti boleh nggak.

      Delete
  13. Bacanya keingetan kalo cewek dipuji cantik suka bales 'Ah kamu juga'
    ahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa iya yah. Mestinya ada poin yang membahas dari segi "pujian". :-d

      Delete
  14. hahaaa harus bener-bener seksama baca nya

    btw, yg bagian bahasa jawa nya, saya kurang mengerti om :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha...maaf. Kayaknya entaran mesti bikin postingan yang nggak kaku bahasanya.

      Gak usah dingertiin, Kak. Biarin aja. Biar nggak manja.

      Delete
  15. Buset ujungnya suruh putusin -__- kampret ah.
    Baca ginian kudu diulang 2x tiap kalimatnya. Sukses dah lu bikin gue angguk angguk. Keren mz :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biar samaan statusnya ama yang nulis, Lam.

      Duh, maap.

      Delete
  16. Wanjiiiiir keren banget lu bang, analoginya p A S.
    Bikin gue jadi pengen cepet-cepet cari jodoh haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagian mananya coba yang memengaruhi buat cepet-cepetan? Banyakin "ngecek ig kita ya, Sist" aja dulu, kali aja entar ada jodoh yang gak sengaja nyamperin.

      Delete
  17. bagus nih buat di baca orang pacaran. biar pada putus semua...
    tapi perbedaan itu emang indah sih, untuk bersama.
    karena... kata orang bijak... pelangi indah karena warnanya yang berbeda. dan pelangi nggak akan indah kalu warnanya sama semua..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, indah karena bersama, berdampingan, kan? Bukan karena bersatu.

      Delete
  18. Hahahahahaha. Bagus, bagus. Tulisannya dapet banget, Haw. Soal jodoh memang sulit kalau mau diteori dan elaborasikan lebih jauh. Kalau saya kayaknya penganut paham Jodoh itu Persamaan deh. Semakin banyak persamaan, semakin mudah hubungan itu dibangun. Coba misalnya, kalau kita baru kenalan sama orang, yang akan dicari adalah persamaan dan akan lebih gampang nyambung. Kalau soal rayu-rayuan dulu vs sekarang saya tidak bisa berkomentar banyak soalnya saya hidupnya di jaman sekarang. Kurang tahu kalau dulu muda-mudi saling merayunya bagaimana, pakai pantun? Entahlah. Kau bisa menjelaskannya lebih baik dari saya sebab kaulah yang merasakan.
    Adityar - Konsultan AntiMoveON.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mau samaan kek, mau bedaan kek. Terserah. Gak ada masalah. Asal kalo mau beralasan, pake logika yang bener aja. Masa gegara dia orang beriman nyarinya yang bejat, biar saling melengkapi. :|

      Hahaha... halus banget ledekannya, Tyar. ngeyutup dong. atau ngedengerin lagu lawas gitu. ini zaman modern. segala yang ngetren di masa lalu bisa diketahui. :D

      Delete
    2. Hahaha. Saya jadi ingat kutipan dari Bernard Batubara - Yang ada di langit akan mencintai yang ada di langit pula. Yang baik akan mencintai yang baik pula. *asik asik*

      Aduh, kalau di yutup saya selalu nyasar di segmen dangdut hot.

      Delete
    3. Wih, mantep kutipannya. Baru tahu aku yang itu. :-d

      Itu mah dibukmark namanya. :p eh, tapi segmen itu keknya menarik. nyoba nyasar ke situ ah.

      Delete
    4. Haha. Mari ramaikan segmen Dangdut Hot agar tetap hidup

      Delete
    5. Hayuk. Baru tahu, ternyata segmennya keren. :-d

      Delete
  19. O jadi karna inilah Bokap dan Nyokap gue bersatu .. ternyata mereka saling melengkapi .. yea yea ..
    Dan karna itulah gue jomblo sampe sekarang, gue memaksakan diri untuk nyari orang yg bisa nglengkapi gue .. hmmm .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Curhat, Ka?

      Mungkin jodohmu bukan yang melengkapi, Ka. Tapi yang menjugai. "juga mencintaimu" ;)

      Delete
  20. Jodoh emang datang untuk saling melengkapi. Berarti pantai yang indah dengan sampah kotor itu jdoh dong

    ReplyDelete
  21. Gimana pun orang punya teori buat masalah jodoh, tetep aja terbaik pakai teori dari yg berkuasa nulis skenario kita *maafgaje
    Yg baik pasti akan mendapat yg baik juga ya hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, karena jodoh nggak ada yang tahu. Yang baik dijanjikan akan mendapatkan yang baik pula. Yang tidak kita tahu, apanya yang baik dan sebaik apa? Karen akebaikan orang pun kita tak bisa menilainya dengan pasti.

      Delete
  22. Jadi, di jaman sekarang ini aku gak bisa nemuin pasangan yang bisa melengkapi hidupku, begitu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah ketemu aku belom, Kak? Coba dulu deh.

      Delete

--Berkomentarlah dengan baik, sopan, nyambung dan pengertian. Kan, lumayan bisa diajak jadian~