Thursday, 30 November 2017

Howaw #197: Stasiun Yang Membuat Teringat Dengan Kenangan

Assalamu’alaikum…

Di beberapa kisah romansa atau update-an sosial media, untuk menunjukkan keromantisan atau membangkitkan kenangan mereka selalu saja menyebut kopi, senja dan hujan. Selalu saja ketiga hal tersebut yang ditunjuk. Sampai-sampai saya bosan dan jengah tiap kali melihat atau mendengar tulisan atau bendanya secara langsung. Saking jengahnya, tiap ke kafe atau warung kopi, saya mesennya es susu atau nutrisari mangga.

Monday, 20 November 2017

Howhaw #196: Hubungan Pacaran Selalu Diawali Kecurangan

Assalamu’alaikum…

Sudah sejak lama mantan menjadi bahasan yang selalu diperbincangkan sebagai objek bersalah. Mantan itu awalnya berstatus sebagai pacar. Namun, karena ada tindakan dia yang dianggap menyimpang, curang dan salah, akhirnya hubungannya dikandaskan. Menurut saya, seorang pacar yang berbuat curang atau kesalahan itu merupakan perbuatan wajar. Kenapa? Karena sedari awal jadian, emang dimulai dengan kecurangan.

nembak

Begini, ingat nggak apa yang kita lakukan saat akan masuk perguruan tinggi? Mengikuti tes. Kita harus belajar lebih keras dan harus banyak menjawab benar soal-soal yang diberikan. Sehingga kita bisa diterima atau lolos masuk di perguruan tinggi yang kita targetkan.

Lalu, pernahkah kalian mendengar saat orang mau menjadi polisi? Mereka harus melalui tes terlebih dulu. Ada tes fisik, tes kesehatan dan tes tertulis. Porsi tes tertulisnya biasanya lebih sedikit, sih. Jadi jangan heran kalo polisi banyak yang hebat dalam adu otot dan lemah dalam berlogika.

Serta juga saat kita mau membuat surat izin mengemudi. Kita juga diharuskan mengikuti tes. Ada tes drive (mengemudi) dan tes pengetahuan peraturan berlalu lintas.

Hubungannya apa dengan pacar atau mantan yang melakukan kecurangan?
Kalo tidak yakin akan lolos saat mau masuk perguruan tinggi, atau saat akan masuk polisi, atau saat akan membuat SIM, apa yang kebanyakan orang lakukan? NEMBAK. Iya, kan? Kalo kita nembak, maka sudah bisa dipastikan perjalanan masuk kita menjadi lancar dan SIM mudah didapatkan. Namun, tentu saja itu perbuatan curang.

nembak

Nah, saat akan jadian, apa proses yang kalian lakukan? Nembak. Mengatakan “aku cinta kamu”, ditanggapi “aku juga cinta kamu”, baru deh jadian. Hei… itu sebuah kecurangan. Sejak awal hubungan kalian sudah dibangun dengan proses curang. Jadi jangan heran atau kesal kalo ujung-ujungnya akan ada kecurangan-kecurangan lainnya.

Mestinya gimana?
Kembali pada saat akan masuk perguruan tinggi. Dikatakan nembak atau curang kalo kita membayar dulu (di luar biaya tes, aka nyogok), ikut tes sebagai formalitas, lalu diterima. Sedangkan kalo yang nggak curang, biasanya ikut tes, diterima, lalu kalo mau ngasih bayaran ama siapa juga, ya, silakan. Karena bayarannya itu akan dianggap sumbangan, malah dianggap dermawan.

Begitu pun dalam percintaan. Harusnya setelah berbagai pertimbangan, jangan nembak dulu. Namun, ajak jadian. Maksudnya, jangan katakan “aku mencintaimu” terlebih dulu, tapi ajak  “pacaran, yuk”. Kalo udah diterima, baru deh katakan ungkapan perasaanya. Kalimat cintanya itu nggak bakal jadi kecurangan, malah diperlukan untuk terus memperkuat hubungan.

Nembak = Bilang i love you

Registrasi = Ngajak jadian 
         *   orang banyak yang ketuker 
         **  dan banyak yang nembak saat registrasi
         ***hanya berlaku sebelum jadian

Ini belom jadian udah ngaku cinta-cinta aja. Belum juga diterima perguruan tinggi, udah bayar-bayar aja. Curang dan merugikan.

Orang bilang, mengungkapkan perasaan sebelum jadian itu penting, sebagai pengakuan
Padahal pengakuan itu tidak diperlukan. Yang lebih penting itu bukti dan kesaksian. Karena pengakuan kebanyakan bertentangan dengan apa yang diungkapkan. Misalnya, orang yang mengaku teman, tahu-tahunya malah musuh yang bertopeng aja. Di belakang selalu menggunjingkan kita dengan keburukan.

Nah, dari itulah, Malin Kundang bukanlah anak durhaka. Dia nggak mengaku sebagai anak ibunya bukan karena dia tinggi hati. Ibunya saja yang nggak peka dan kurang mengerti.

Kalian tentu pernah mendengar ungkapan ini:

“Orang baik nggak akan mengaku baik”, atau

“Nggak ada maling yang ngaku maling”.

Atau mungkin kalian pernah melihat Instagram seseorang yang membuat caption “Ih, gemuknya aku” padahal di foto itu badannya kurus banget. Juga banyak yang mengaku cinta tapi aslinya mendua. Itu artinya apa? Dalam pengakuan, orang justru mengatakan hal sebaliknya. Makanya diperlukan adanya bukti dan kesaksian. Yaitu orang lain di luar pihak utama, yang bersaksi mengatakan yang sebenarnya.

nembak

Maling nggak akan ngaku maling. Tapi dengan adanya bukti dan saksi, maka bisa disimpulkan apa benar dia maling atau bukan.

Begitu pun Malin. Nggak akan mengaku Malin. Karena kalo mengaku, nanti orang malah nggak percaya. Makanya dia bilang bukan. Eh, malah dikutuk. Sungguh ibu dan warga yang kurang peka. Malang sekali nasibmu, Malin.

Bagitu pun denganku. Aku tidak pernah mengaku mencintaimu, tapi terbukti dari tindakanku dan keterangan temanku kalo aku melakukan hal sebaliknya. Bukan hanya karena aku mengerti hukum tentang “pengakuan”, tapi aku juga tidak mau melakukan kecurangan. Aku tidak mau hubungan kita diawali dengan tindakan ilegal, karena bisa jadi berujung kehancuran. Akan kuungkapkan semuanya kalo kita sudah resmi jadian.

Jadi, bersediakah kau jika kita berada dalam satu ikatan?






Hoeks… jijik w ngetiknya.




Sumber gambar:
1) http://fbcoverocean.blogspot.co.id/2012/09/cute-couple.html
2) https://musik.kapanlagi.com/jukebox/aksi-cara-cowok-nembak-ini-bikin-cewek-klepek-klepek-eab324.html
3) https://www.youtube.com/watch?v=x9NZC4XedsI