Fiksi Kilat: Harinya Ayah

Kuletakkan perlahan kue ulang tahun ayah di atas meja dapur. Hari ini aku bermaksud menjadikannya sebuah kejutan. Sudah lima tahun ayah dan ibuku bercerai dan setelah perceraian tersebut, aku belum pernah sekalipun memberinya hadiah ulang tahun tepat pada waktunya. Biasanya, aku menemui ayah dan memberinya hadiah satu hari setelah tanggal ulang tahunnya. Anjuran ibuku.

“Kan nggak ada bedanya mau diberikan kemarin atau sekarang,” begitu ucap ibuku.

Meskipun telah bercerai, hubungan ayah dan ibu tetap harmonis. Tak terlihat ada kebencian dan aura pertengkaran saat mereka bertemu. Makanya aku menyimpulkan, sebenarnya mereka mau rujukan.

“Ini sudah jadi keputusan ibu dan ayah. Apa pun yang terjadi, ibu dan ayah tidak mau rujuk. Ini buat kebaikan kita bersama,” begitu jawab ibu saat kupinta untuk rujukan.

Pagi hari di hari ulang tahunnya, ayah biasanya akan menemui orang yang dipanggilnya ‘guru’ untuk sekadar merayakan selamatan kecil-kecilan. Menjelang pukul dua siang, dia biasanya sudah pulang. Berarti sebentar lagi. Saat merapikan kembali kue ulang tahun yang kusiapkan, telepon genggamku berdering. Telepon dari ibuku.

“Sebenarnya kenapa sih ibu dan ayah bercerai? Juga kenapa kalau mau memberikan hadiah ulang tahun buat ayah, mesti sehari setelahnya? Ceritain dong, Bu! Yana kan udah gede sekarang,” ucapku setelah beberapa obrolan tentang makan apa siang tadi.

“Ayahmu itu sebenarnya baik. Sangat baik malah. Tapi kalo sudah tiba hari ulang tahunnya, terutama setelah selamatan ama gurunya, dia mendadak aneh. Seperti orang kesurupan. Dia seperti tidak mengenali kita lagi...”

Saat ibu bercerita tentang ayah, terdengar suara mobil. Ayah sudah pulang. Aku sigap untuk mengangkat kue yang kusiapkan, sambil mendengarkan cerita ibu.

“...Puncaknya, sepanjang hari di hari ulang tahunnya...”

Ayah sedang membuka pintu depan. Aku berdiri di tengah ruangan untuk menyambutnya.

“...dia selalu berusaha buat ‘meniduri’ kamu. Entah kenapa. Makanya, kamu jangan menemui ayah di hari ulang tahunnya ya!”

*****
Hola. Fiksi singkat ini dibuat dalam rangka #memfiksikan dengan tema “ayah”. Mestinya di-publish kemarin sih, tapi karena kehabisan kuota, yaudah sekarang aja.

howhaw
Oh, iya, jangan tanyakan kenapa fiksi yang saya buat kebanyakan isinya tentang selingkuh dan sejenisnya. Saya juga nggak tahu, sama nggak tahunya kalo ditanyain kayak gini. Yaudah, lupakan sejenak tentang fiksi dan lihat kenyataan. BBM naik lagi kan ya? Tapi nggak apa-apa juga sih, karena kenaikan BBM juga ada untungnya. Terutama bagi yang punya pasangan. Kayak yang dibahas ama yaelah.co di sini.

Previous Post
Next Post

Oleh:

Terima kasih telah membaca artikel yang berjudul Fiksi Kilat: Harinya Ayah Apabila ada pertanyaan atau keperluan kerja sama, hubungi saya melalui kontak di menu bar, atau melalui surel: how.hawadis@gmail.com

29 comments:

  1. Iya nih fiksi lo pasti selalu berbau "gituan" bang . . :D
    Tapi keren, walaupun yang ini gue masih belum nangkep, kenapa si Ayah pengen "niduri" anaknya sendiri . .??
    Ayah tiri kah . .??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak tahu juga. Mungkin sebaiknya kita tanya pada orang yang dipanggilnya "guru" itu.

      Delete
  2. Anjir. Cerita apaan ini? -___-
    Horor abis. Masa anaknya sendiri mau ditidurin? Sakit jiwa tu orang. Bakaaar! -___-
    Tapi, keren. Twist-nya selalu dapet. Pffft~ :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini hanya cerita memberikan hadiah ulang tahun aja, kok. =)D

      Delete
  3. bentar bentar bentarrr...ini yang bagian meniduri aku agak ambigu nih, bisa tolong jelaskan ga,
    mpe kubaca berulang-ulang

    ReplyDelete
    Replies
    1. *aku gagal* singkatnya, tiap hari ultahnya, si ayah kerasukan makhluk entah dan 'tertarik' dengan anaknya. Penyebabnya, hanya dia dan orang yang dipanggilnya "guru" yang tahu.

      Delete
  4. ah. ini utk keperluan ilmu hitam apa gmn? bejat nih bapaknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. begitu. ada perjanjian di masa lalu.

      Delete
  5. Mungkin seharusnya ada narasi yang ngejelasin kenapa bapaknya pengen nidurin anaknya ini.

    Mungkin deng, heheh salam kenal bro

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih sarannya. :-d

      tapi kalo dinarasiin, entar malah jadi cerpen. karena inti ceritanya cuma tentang kenapa tidak boleh menemui saat ulang tahun doang.

      Delete
  6. Endingnya itu lho Mas bikin deg pas ngebacanya, bikin kaget banget ternyata alasanya kayak gitu. Tapi aku mau sih kalo jadi kayak bapaknya :D *eh

    ReplyDelete
  7. Aku yang kurang cerdas atau gimana nih. Ynag dipanggil "guru" itu kayak semacem orang yang memberikan ilmu hitam kah?

    Kesurupan sama mabuk lem apa bedanya, sama-sama bikin otak nggak bisa mikir yang bener. Padahal bentar lagi aku juga dipanggil ayah. Cuma untungnya aku nggak ikut-ikutan punya "guru". Malah aku sendiri yang guru. Jangan-jangan dia salah satu muridku. HUAHAHAHA....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha....bisa aja Pak guru. kalo muridnya udah punya anak yang udah gede gitu, pak Guru sekarang umurnya berapa? O_o

      Delete
  8. Ckckck perjanjian terlarang. Anaknya itu kayak kena jebakan betmen.
    Ini keren, Haw. Keren bangat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. ...tapi tetap gak bisa bikin terharu kayak fiksi lu, Gung.

      Delete
  9. Wahahahaha gokil ceritanya, Hiehehiehie. Ujung ujungnya udah mau ndurin aja deh
    Waaaaaaa HOROR abis

    ReplyDelete
    Replies
    1. mumpung fiksi, Kang. bisa dibuat sesuka hati. meski udah bnayak yang menjadikannya kenyataan sih. :(

      Delete
  10. Oalah. Twist yang keren. :D
    Huwahaha. Haw memang bajingan. Demen banget selingkuh. Kali ini ama anak sendiri. XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue udah menjadikan lu sebagai kiblat, Yog. hehe Kan yang sering dibilang bajingan elu, tapi elu juga yang mudah dapet pacar. baru jadian lagi. :-d

      Delete
  11. Ini gue yang bego apa gimana ya. Agak kurang ngerti. Hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha... cuma yang demen sinetron dan drama sih yang ngerti.

      Delete
  12. Endingnya :o
    Bikin tercengang banget :o Memang pendek ya ceritanya? Lanjutin dong kak!

    Kak, izin follow blognya ya ^.^ Sekalian kenalan, saya pertama kali main kesini. Makasih ^.^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, lebih suka fiksi singkat soalnya. Biasanya tiap hari Jumat bikin lagi kok. Oke, salam kenal ya, Put.

      Delete
  13. Itu yang pengen nidurin Yana bukan ayah Yana berarti ya, tapi yang merasuki. Bejat juga ya.. Apalagi kalo ternyata Yana itu cowok, Yayat Supriyatna. :|

    ReplyDelete
  14. Kata dosennya temen gue : enggak ada cerita fiksi yang benar-benar fiksi, pasti ada aja yang menyandur pengalaman si penulis, teman si penulis atau siapanya penulis.
    Jadi... kenapa kak Haw kalau buat fiksi gak jauh dari hal seperti itu, ya karena itu :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh...iya. Ceritanya banyak disadur dari tipi penulis. Sinetron dan berita kriminal. ;)

      Delete

--Berkomentarlah dengan baik, sopan, nyambung dan pengertian. Kan, lumayan bisa diajak jadian~