Parodi: Joshua oh... Jejen

parodi-hawadis

Assalamu'alaikum...

Nama saya Jojo, tapi bukan yang keong racun, karena teman saya namanya Jejen, bukan Shinta. Sebagai orang miskin, saya mengabdikan diri menjadi pengamen sepulang sekolah. Suatu hari, saya dan Jejen mengamen di pusat perbelanjaan. Namun, diusir sama Pak satpam karena Jejen belom hapal lagu diobok-obok. Masa liriknya diganti, “dikencrot-kencrot airnya dikencrot-kencrot”. Pak satpamnya, kan, ngerasa jadi lelaki kerdus.

Esoknya, kami datang lagi setelah kemarin ngapalin lagu baru biar pak satpamnya tidak marah. Namun, pak satpam sepertinya ngambek dan sudah nggak mau jaga lagi. Buktinya, ketika uang upah kami hasil membantu ibu-ibu diambil si Moncy, pak satpamnya nggak nolongin. 

Begitu pun ketika kami teriak, “copet.. copet..” buat nolongin ibu-ibu, Pak satpamnya tetep nggak datang. Untung ibunya nggak jadi kecopetan. Beliau kemudian bermaksud memberi kami uang karena berhasil menggagalkan tindakan pencopetnya.

“Maaf, ya, Bu. Bapak saya mengajarkan saya untuk tidak menerima yang bukan haknya,” ucap saya ketika akan diberi uang oleh ibu-ibu tersebut. Ibu-ibu itu tersenyum, lalu jongkok melepaskan sepatunya sebelah.

“Ini hak saya, silakan diambil!” kata ibu-ibu tersebut memberikan sepatunya.

Jejen langsung mengambilnya dan pergi begitu saja. Saya kebingungan, ini yang bego siapa, sih? Meskipun begitu, saya bangga sama ibu-ibu tersebut. Dia rela memberikan haknya disaat banyak orang yang menagih haknya tanpa peduli dengan kewajiban antarsesama. Sepulang ngamen, kami dikeroyok mentionan anak-anak pencopet tadi. Mana disertain hastag #JojoAnakTiktok, yang membuat ibu saya marah besar.

“Bikin malu gue lu, ya! Lu main Tiktok, ya, Jo?” teriak ibu saya ketika saya masuk rumah, sembari melempar kepala saya dengan bom molotov hingga kebakar. Namun, saya nggak nangis. Karena saya sadar, air mata nggak bakal bisa memadamkan apinya.

“Tidak, Bu, saya bukan anak Tiktok. Saya nggak bakat joget naik-turun challenge, joget ubur-ubur maupun monyongin bibir lagu Bagaikan Langit. Saya anak blog sejati, buktinya tiap hari saya selalu mengumpulkan receh sepulang SEOlah[1].”

Namun, penjelasan saya tidak memberikan efek kepada beliau. Saya tetap dihukum berdiri semalaman tanpa diberi makan. Saya kelaparan, syukurnya di kepala saya masih ada sisa-sisa beling ledakan molotov tadi. Alhamdulillah saya pernah berguru pada master Limbad.
****

Di sekolah, saya terkenal sebagai anak yang pintar. Tiap catur wulan, selalu rangking satu. Bukan karena rajin belajar, melainkan karena negosiasi tertentu dengan Bu guru. Hastag #JojoAnakTiktok juga terbaca di akun bu guru. Beliau kemudian nge-chat saya melalui DM (Direct Message) Twitter.

“Jadi benar kamu jadi anak Tiktok, Jo?” tanya beliau.

“Bukan, Bu. Itu hastag kerjaannya si Moncy yang dendam karena saya menolong ibu-ibu yang akan dicopetnya.”

Saya kemudian mengalihkan pembicaraan tentang ibunya Tasya yang jahat. Mentang-mentang kaya, dia melarang Tasya jadi anak gembala. Ibu guru mengiyakan sambil menambahkan beberapa kata kasar. Saya skrinsyut obrolan tersebut, sebagai amunisi biar saya bisa dapat rangking satu lagi dengan mengancam akan menyebarkannya.

Ketika akan pulang sekolah, Tasya memberikan hadiah untuk saya dan Jejen  berupa kaos partai. Namun, karena kaos tersebut, saya jadinya kena marah lagi sama ibu saya. Masa kaos partai, tapi gambarnya bukan laut atau Parangtritis. Bom molotov mendarat di kepala saya lagi.

Hari selanjutnya, di pusat perbelanjaan, saya dan Jejen bertemu ibu-ibu yang lain lagi. Beliau minta dibawakan belanjaannya. Ketika akan diberikan upah, di dompetnya ibu tersebut terlihat sebuah foto bayi yang menggemaskan.

“Aduh lucunya, beli di pasar sini juga, ya, itu anaknya, Bu?” tanya Jejen.

“Iya, tapi sekarang dia sudah tidak ada. Waktu kecil dia diambil orang gila. Sedangkan ibu nggak bisa hamil lagi,” jelas ibu itu dengan muka sedih. Saya kemudian memarahi Jejen karena pertanyaan kurang ajarnya tersebut.

“Nggak apa-apa, Jo, walau nggak bisa hamil lagi, kami bisa mengakalinya dengan bayi tabung, kok. Sekarang sudah nabung kaki bayinya, minggu depan rencananya ibu mau nabung tangan sekalian kepalanya juga.”

Mendengar itu, saya dan Jejen langsung ngacir. Takut dijadikan bahan tabungan anaknya. Sesampainya di rumah, ternyata ibu saya belum pulang dari rumah majikannya. Sembari menunggu, saya mampir ke rumahnya Jejen. Di sana ada ibunya Jejen yang sedang ngerakit panci. Buat persiapan ngelawan bom molotov ibu saya, katanya.

Mumpung tidak ada ibu, saya menanyakan sesuatu yang mengganggu pikiran saya sejak dulu. Karena ibu saya mudah sekali melemparkan bom molotovnya ke kepala saya.

“Kamu mau bertanya kamu ini anak kandung apa bukan, ya, Jo?” tanya ibunya Jejen pelan.

“Bukan, Tante. Saya mau bertanya, memangnya kalo kaos partai itu harus bergambar laut, ya? Padahal kan Par-Tai. Dan itu sudah sesuai dengan gambar kaosnya, karena sikap orang yang wajahnya tergambar, setelah kepilih memang jadi busuk kayak ta..,” belum selesai pertanyaan saya, tapi ibunya Jejen keburu memotong.

“Jo… Dulu, Pak Gito tiba-tiba pulang membawa seorang bayi, yaitu kamu. Karena istrinya tidak dalam masa melahirkan, sedangkan bayi itu nangis kelaparan, saya yang memang sedang menyusui Jejen diminta men-TTS-in kamu…”

“Men-tetek-in mungkin maksud tante…” sela saya.

“Bukan, Jo. Men-TTS-in. Karena kamu tante letakin mendatar dan tante kasih kamu susu lima kotak menurun. Kalo kamu minumnya dari susu yang bulat ini," sembari mengangkat kedua dadanya, "baru men-tetek-in namanya,” jelasnya.

Kemudian beliau menerangkan kalau ada barang peninggalan orang tua asli saya yang terjatuh ketika men-TTS-in tersebut. Barang itu berupa akta kelahiran. Beliau memberikan akta tersebut kepada saya. Saya menjadikannya kalung. 

Hari berikutnya, ada sebuah kejadian yang menyebabkan saya dan Jejen dibawa ke kantor polisi. Kami dituduh sebagai pencopet, padahal kami menemukan dompet tersebut di lantai. Memang, sih, setelah itu kami berniat langsung pulang membawanya. Orang tua kami datang menemui kami di kantor polisi. Keluarganya Tasya juga ikut datang.

“Jojo, Jejen…” teriak ibu-ibu yang dulu mengaku sedang menabung anak.

Ternyata beliau yang kecopetan, dan dijelaskan bahwa kami hanya difitnah. Pelaku sebenarnya adalah komplotannya si Moncy. Ketika duduk di sebelah saya, ibu-ibu tadi, yang selanjutnya saya kenal dengan Ibu Jeffry, melihat akta kelahiran yang saya kalungkan. Beliau berbisik pada suaminya, kalau nama suaminya dan namanya tertulis di akta yang saya kenakan. 

Beliau berasumsi bahwa saya anaknya yang dulu hilang tak lama setelah dibeli. Suaminya meyakinkan untuk diperiksa lagi, mungkin saja salah ketik. Pak Andi, ayahnya Tasya, kemudian mengusulkan untuk tes darah. Dengan tes darah, bisa diketahui apakah tulisan di akta kelahiran tersebut salah ketik atau bukan.

Semua orang yang hadir diperiksa darahnya. Setelah hasil pemeriksaan keluar, tulisan di akta kelahiran tersebut memang bukan salah ketik. Namun, berdasarkan kandungan DNA darahnya, ternyata dugaan Ibu Jeffry salah. Saya bukan anak kandung Bapak dan Ibu Jeffry. Melainkan Jejen. Karena setelah selesai men-TTS-in, ibunya Jejen salah mengembalikan anak pada Pak Gito.


[1]Istilah dalam blog untuk mengoptimalkan artikel

Sumber Gambar:
https://www.imdb.com/title/tt0330496/mediaviewer/rm271208448
Previous Post
Next Post

Oleh:

Terima kasih telah membaca artikel yang berjudul Parodi: Joshua oh... Jejen Apabila ada pertanyaan atau keperluan kerja sama, hubungi saya melalui kontak di menu bar, atau melalui surel: how.hawadis@gmail.com

25 komentar:

  1. Bgst! Susu yang bulat! Par-tai! Akta kelahiran dijadikan kalung! SEOlah! Haw taeeee. Ngakaaaaak. Ini tulisan parodi berbau satir bukan sih? Hahahahahhahahahahahak. Dan emang dasar Haw. Biarpun tulisan parodi tetap ae bacanya bikin mikir....

    Sebelum bikin tulisan ini, kamu nonton filmnya dulu ya, Haw? Hapal sama alur sama dialognya gitu. Aku lupa-lupa ingat sih. Tapi... Perasaanku dialognya emang persis kayak di filmnya, ya diganti2 dikit dibelokin ke arah parodi taeknya gitu sih. Huahahaha.

    Joshua-nya anak digital yak. Dikeroyoknya pake mentionan hestek gitu. Segala pake senjata skrinsyut buat mengancam sang guru demi mempertahankan eksistensi sebagai murid berprestasi di jagat dunia pendidikan. Hmmmm sungguh inspiratif.

    Dan taeeeek. Twist ending! Film Oldboy kalah deh nge-twist ending-nya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kagaaaakkk... kagak ada satirnyaaa... eee ada yak.. beberapa.. :D

      Iyaaaaaaa..... beberapa hari ini aku sempetin nonton itu pilm smape tau betul alur ceritanya dan mana scene yg memorable. nyatet dialognya juga yang bakal dijadiin tulisan. walo kayaknya banyak yg luput, tapi segitulah yg saya bisa. :D

      saya belajarnya dari baca petualangan farisnya bg haris berulang2. kan di sana sherinanya jadi modern banget. jadi ambil modernnya dikit. bikin parodi ternyata seribet ini. bg Haris tangguh banget ampe dijadiin nopel.

      tentang endingnya, saya masih belom tau boleh apa nggak kalo ending beda ama cerita aslinya, tapi moga aja boleh. :ng kalo nggak boleh, entar diperbaiki lagi.

      Hapus
  2. Ini masih belum ngerti maksud men-TTS-in itu gimana. 😂

    Tapi bangke sih yang bagian akta dijadiin kalung. Di akta pasti nggak ada keterangan jenis kelamin ya. Sampai ketuker gitu. 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh maksudnya mentetesin ya. Kampret. :D

      Butuh berapa jam tuh untuk menyadarinya.

      Hapus
    2. Bukan, Bang. maksudnya ya TTS teka teki silang. gada hubuungannya emang. kelintas gitu aja di kepala. :D tapi boleh juga nih misal diambil tetesin. berhubungan soalnya kalo susunya ditetesin. :-d

      Namanya juga berusaha ngeparodiin, yg udah jelas aja dibikin kabur. Sungguh bang Haris luar biasa bisa bikin parodi banyak banget. ini aja aku sampe pusing gegara mau dibelokin ke mana mananya.

      Hapus
  3. Bhahahahahaahaa ngehek banget ini yawlaaaa. Ampuuun
    APAAN AKTA DIJADIIN KALUNG WKAKAKAAAA

    Rusak sudah bayangan masa kecilku tentang betapa mengharukannya film joshua :(

    *lempar bom molotov*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dicoba entar ke anakmu, Ul, biar kalo anaknya nyasar, orang lain mudah bantuinnya.

      Bayangan masa kecil boleh rusak, tapi masa depan harus dibuat maikn baik. :-d

      Hapus
  4. ahahahahahaha dari awal sampai akhir, gua gak berhenti untuk tertawa. sukses selalu bro 👌

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih soanya,semoga sama2 mendapatkan kesuksesan.. :-d

      Hapus
  5. Waiya, boleh juga itu mainboard. tapi nggak diakui negara Mas. Akta yang biasanya jadi syaratnya. :D

    gimana kalo baca yang ahlinya parodi harisfirmansyah.com :-d

    BalasHapus
  6. air dikencrot-kencrot itu macam mana bang? *mbayangin* haha

    kirain bakal ada gambar atau foto cosplay-cosplay ala jepang gitu, ngga taunya cerita joshua oh joshua di plesetin. haha, menarik! bikin flashback buat mbandingin sama cerita versi originalnya *lah, original, lu kira rasa kopi*

    alur sama scene ceritanya bisa mirip dan pas gitu. saya curiga, ini anak dulunya sebelum terkenal di blogger jadi cameo di movienya kali ya? hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga nggak tau... lirik lagunya begitu pas di lagu lelaki kerdus. :D

      hahaha.., lebih tepatnya impersonate sih, tapi kepanjangan. walo nggak tepat makna, anggaplah begitu. Ditonton lagi aja film joshua oh joshuanya... sekalian mengenang masa kecil.

      iyakaliiii.. jadi nasi yang nempel di kepalanya joshua... :ng

      Hapus
  7. alurnya enak di baca walau versi elu sendiri sob, bikin gue ngakak plesetanya. dan satu lagi, di tetek itu bukanya di susuin tantenya ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Ibunya Jejen yang nyusuin, dan jojo manggil ibunya Jejen itu tante. di film aslinya begitu soalnya. :)

      Hapus
  8. Hahahaha... saya baca parodi bang haris beberapa kali tetep aja ngakak dibuatnya... :D

    BalasHapus
  9. TTS, selain bentuk aslinya, di cerita ini bikin mikir. Pas tau nyesel juga kenapa nggak langsung tau dari awal. Kalau taunya belakangan malah ngakak terus.

    Bagian makan beling itu paling mengenang, sih. Nonton film aslinya terus baca ini, jadi serem kalau disamain cara makannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf untuk hal yang rumit dimengerti Rob...

      Hahaha... yang paling memerable emang scene itu sih Rob, aku pas nontonnya dulu sedih. sebegitunya banget. :D

      Hapus
  10. Bgst! Gue baca ulang masih ngakak aja ini. Rusak udah memori indah kala SD. XD

    Gue nggak ngerti kenapa langsung meledak tawanya pas bagian nabung kaki duluan. Si anjir, bisa gitu~ Terus akta. Taelah itu gede wehhhh. Muahaha.

    Mantap, Haw. Besok-besok bikin parodi lagi, biar Haris ada saingannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tonton lagi aja dah biar memorinya balik.

      Emangnya kalo bayi tabung nggak begitu, Yog?

      Saya cuma impersonate aja Yog, nggak bermaksud jadi saingan atau apah. palagi bikin ginian ribet bet.. kalah2 nganalisis fisika. xD

      Hapus
  11. ahahahahahahahhhhh

    aya2 waee, bodor yaampun :D

    btw, masi inget aja itu lelaki kerdus pdhl dah ga booming haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bodor itu kota hujan dan seribu angkot... :D

      Asal pernah booming, akan selalu terkenang di hati pendnegarnya, Sha...

      Hapus
  12. Aku gak kebayang bener mas, kalau itu kalung berupa akta..haha
    Lucu kali ya..

    Sek, sek, kencrot, kencort.. haha..
    Lah, njirr teh, tadinya lagi males ketawa lagi. Baru bangun dari mimpi baca ini malah ketawa.. Wes lah, tak cuci muka dulu :D

    Tar aku coba baca lagi, belum melek bener ini mata :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya jangan dibayangin. Langsung dipraktikin coba...

      Ahelah, baru bangun langsung baca blog. :D

      Hapus
  13. Ini otakku yang loadingnya lama apa gmn yak? Baru ngeh ini parodian film joshua msa pas udh nyampe separuh postingan:(
    Itu sgala ada lagunya Inuyashaaa, kyaaa! My favorite song bgt tuuu! I want to change the world jounetsu tayasazumi, takeharu mirai e~~ *lupa lirik ma tulisannya, bgtu kali yak*

    Syangnya aku lupa alur cerita film joshua ohh joshua sih... Masa kecilku kurang bhagia nihh trnyata. Itu Jojo di jaman skrg beda jg ye maenannya di grebek lewat mention ama hestek. Ampundahh. SEO segala. "Maaf untuk keputusan ini" gak sklian dtulis td bang? Huahahaa.

    Emg iyanih, tulisan bang haw biar parody msh suruh mkir juga. Terutama yg di TTS-in.. Aku baru paham stlah baca komen bang haris :')) syediii....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... org2 pada gafokus ama penjelasan di gambarnya padahal, Lu... :-d

      Kan lupa doang. Aku ingetnya juga karena nonton lagi berkali-kali. Lulu sudah menguasai sabda pangeran. |o|

      Yagimana ya.. bawaan lahir emang gini. Bikin org pusing.

      Hapus

--Berkomentarlah dengan baik, sopan, nyambung dan pengertian. Kan, lumayan bisa diajak jadian~