Howhaw #167: [Cerbung] Persil 5 - Tuhan Untuk Liyan ~ Production Haws

Howhaw #167: [Cerbung] Persil 5 - Tuhan Untuk Liyan

Cerita sebelumnya...

Sebelum kematian Adit

Semenjak lulus SMA, aku mulai menjadi orang yang agak kesepian. Aku tak lagi memiliki teman yang menjunjung kesolidaritasan. Rela menderita demi kebersamaan. Yang ada sekarang malah keegoisan. Berebut minta contekan tugas, sedangkan tugasku yang dicontek mereka malah tidak dikumpulkan. Kurang ajar. Teman-teman di sekitaran rumah juga demikian, hobinya nantangin anak-anak seberang jalan buat berkelahi. Walau nggak ada sebab-musababnya. 

Pernah suatu ketika aku meelerai mereka berkelahi, pakai acara mesti nonjokin mereka dulu. Mereka memang berhenti berkelahi dan pulang setelah itu, tapi sebelum pergi, mereka memberi tatapan “awas lu”. Aku memang nggak bisa akrab dengan anak-anak di sekitaran sini.

Tiap hari minggu, aku di rumah selalu sendirian. Ibuku biasanya pergi arisan dan bapakku juga pergi berkumpul dengan bapak lainnya. Kadang memancing, menggosok batu, atau melakukan perlombaan burung peliharaan yang berkicauan.

Untuk menghilangkan kejenuhan, aku biasanya membuat lukisan. Tapi, melukis terus-terusan kadang juga membosankan. Makanya sesekali aku pergi ke event-event yang diselenggarakan. Entah itu event jualan buku, jualan mainan, pameran kebudayaan, atau event kondangan. Yang penting berada di keramaian.

“Mau ke event Jakarta Toys and Comic Fair juga, ya?” tanyaku pada seorang gadis setelah keluar dari halte busway Kuningan Barat.

“Iya,” jawabnya singkat sambil berjalan menyeberang jalan.

Untuk mencapai tempat event tersebut di Balai Kartini, kita mesti jalan kaki cukup jauh dari halte busway. Jika nggak mau jalan kaki, mesti berhenti di halte Gatot Subroto dan mesti nyambung naik metro mini. Tapi bisa lebih mudah kalau memiliki kendaraan pribadi. Mungkin karena namanya merupakan ikon perempuan, sehingga untuk mencapainya saja ribet banget. Sama kayak mau mendapatkan perempuan, ribet. Kecuali bisa memamerkan kendaraan pribadi.

“Mau beli lego, gundam atau mainan apa gitu, Yan?” tanyaku lagi sesampainya di lokasi, setelah sepanjang jalan kami mengobrol hal lain dan berkenalan.

“Nggak. Mau liat-liat dan foto-foto aja. Sekalian juga cuci mata kalo ada cosplayer ganteng dan ngiri hati kalo ada cosplayer cewek yang cantik banget. Apalagi kalo cosplayer cantiknya berduaan ama cosplayer gantengnya,” jawabnya sambil menyiapkan kamera dan mulai memotret beberapa action figure dan diorama.

Itu awal mula aku bertemu dengan Liyan. Karena sama-sama datang sendirian, kami punya alasan untuk mengelilingi tempat pameran bersama-sama. Memotret beberapa mainan yang keren serta foto bareng bersama cosplayer.

“Bukan itu juga yang difoto, Adit somplaaaakkk...!” teriaknya padaku saat aku bersiap memotret.

“Tapi ini kan salah satu yang dipamerin di sini,” balasku tanpa memedulikan larangannya dan tetap memotret di pojokan.

“Iya, tapi nggak terminal colokan juga!

****
Setelah pertemuan tersebut, kami saling kontak-kontakan untuk pergi ke event lain bersama-sama. Sering ketemuan dan tukeran hadiah. Perlahan dan makin cepat, aku makin tertarik dengannya. Atau mungkin sudah mencapai tahap mencintainya. Entahlah dengannya.

“Ini, kan, mainan Lord Voldemort yang dipamerin di event pertama kali kita ketemuan, kan?” ungkapnya dengan mata berbinar saat membuka hadiah yang kuberikan.

Di event itu, saat memperhatikan mainan Lord Voldemort, dia terlihat sangat riang, beberapa kali berucap lucu dan tersenyum penuh dambaan. Aku ingin sekali membelikan, tapi apa daya, aku sedang krisis keuangan. Yang kulakukan hanya mengambil kartu nama yang disediakan, yang berisi alamat toko yang menjual mainan tersebut. “Suatu hari pasti akan kubelikan,” janjiku dalam hati.

“Makasih banget, loh, Dit, udah lama banget aku pengin punya mainan ini. Lucu banget. Liat tuh, idungnya nggak ada begitu,” ucapnya sambil mengusap-ngusap wajah Voldemort.

“Iya. Lucu,” tanggapku sambil membuka hadiah yang dia berikan. “Terus, apa maksudnya ini, Liyan, kamu ngasih hadiah beginian?” tanyaku dengan intonasi penuh penekanan sambil mengangkat hadiah yang diberikan Liyan.

“Dulu kamu pasti sangat menginginkannya, bukan? Sampai-sampai fokus ngefoto penuh penghayatan tanpa memedulikan apa yang aku katakan,” rajuknya. Pura-pura.

“Baiklah. Baiklah. Salahku sendiri dulu memotret terminal colokan,” sesalku. Liyan terkekeh. “Tahu begini, mending kamu dulu yang kupotret penuh penghayatan,” ucapku pelan.

“Apa, Dit?”

“nggak.”

****
Tiap minggu kami selalu ketemuan, berbagi keresahan dan berbagi kesenangan. Aku juga mulai memiliki kebiasaan baru, menuliskan apa yang kurasakan tiap kali berjumpa dengan Liyan. Menjadikannya semacam diary. Kadang kutulis kebahagiaan mendalam ketika aku berhasil membuatnya tertawa tak berkesudahan seharian. Dan kadang kutulis kekecewaan saat dia sedang datang bulan dan selalu kesal dengan becandaan. Yang saat kubaca ulang malah seperti kumpulan tulisan pendamba yang kena PHP. Aku tertawa jijik sendiri membacanya dan itu cukup untuk membuatku berhenti menulis diary sebagai kebiasaan harian.

Tak lupa juga kubuat lukisan wajah Liyan besar-besar. Kupasang di dinding berhadapan dengan wajahku saat aku tiduran. Bangun pagi atau akan tidur malam dengan melihat orang yang didamba itu suatu kebahagiaan. Walau hanya sekadar lukisan.

“Dit, kenapa, ya, kejahatan itu diciptakan? Bukannya itu malah menambah kekhawatiran dan kecemasan? Mungkin memang akan membuat sebagian orang akan semakin memohon pada Tuhan, meminta keselamatan. Tapi, di waktu yang sama juga akan membuat orang beribadah dengan ketakutan, khawatir jika pergi ke tempat ibadah akan dicegat dan diapa-apakan,” tanya Liyan suatu waktu. Beberapa minggu terakhir ini, dia terlalu banyak membahas tentang keberadaan Tuhan.

“Eh, kembang, kamu mau denger cerita tentang kenapa balsem nggak dipake sebagai pengganti sambel meskipun sama-sama menimbulkan panas kepedasan, nggak? Aku bosan nih membicarakan tentang keberadaan Tuhan,” ucapku pada bunga di belakang bangku taman dengan pura-pura nggak memedulikan Liyan. Aku mendapat sedikit pukulan kecil di lengan. Juga tertawaan.

Sudah terlihat sangat jelas kalo Liyan sudah tidak percaya pada Tuhan. Entah apa yang menyebabkan demikian. Tapi dari beberapa ceritanya, aku tahu kalo dulunya dia anak yang taat beribadah pada Tuhan. Mungkin jauh lebih taat dibanding aku yang sekarang. Untuk itu, aku harus membuatnya sadar, lagian, jika kami berjodoh dan bisa melangsungkan pernikahan, apa itu diperbolehkan? Menikahi perempuan yang tidak mau bertuhan.

“Pokoknya nanti akan kubuat kamu percaya lagi ama Tuhan,” ucapku.

“Buat apa? Emangnya penting?”

“Apa perlu kamu kustabilo seluruh badan biar kamu paham bahwa semua tentangmu itu penting?” aku memberi tatapan tajam. Dia tersenyum. “Tenang saja. Aku akan memanggil Tuhan buatmu,” lanjutku sebelum mengakhiri pertemuan di hari Minggu ini.

Sepulangnya ke rumah aku terus memikirkan cara membuat Liyan kembali percaya pada Tuhan. Mungkin aku bisa melukiskan wajah Tuhan? Tidak. Aku sendiri belum pernah melihat Tuhan. Haruskah aku mati dulu untuk melihat wajah Tuhan dan balik lagi untuk melukisnya? Nggak mungkin. Mati pun belum tentu aku langsung bertemu Tuhan. Aku terus saja memikirkan. Sampai-sampai aku lupa untuk memasak nasi untuk makan malam karena ibu dan bapak belum juga pulang.

“Aku minta bantuan Aryo atau Hadi saja,” gumamku.

“Kalo Aryo mungkin bisa memberikan argumen indah tentang keberadaan Tuhan yang hakiki melalui puisinya. Atau Hadi juga bisa dengan teori-teori Fisikanya. Kalo Wira, kayaknya nggak, deh. Baiklah, besok aku akan menghubungi mereka,” pikirku.

Aku sudah sangat riang membayangkan ketika aku menjelaskan tentang keberadaan Tuhan pada Liyan. Aku bersajak seperti Aryo tentang keindahan Tuhan atau dengan teori yang meyakinkannya Hadi. Atau mungkin teori yang dibuat sajak. Ah, senangnya. Dan di saat Liyan terpesona mendengar penjelasanku, aku akan berucap, “Ternyata aku keren juga. Jadi pengin nyoba buat macarin diri sendiri. Tapi nggak bisa. Eh iya, Liyan, mau nyoba pacaran dengan diriku, nggak? Entar kamu ceritakan ke aku gimana serunya, ya!”

Setelah berucap begitu, mestinya akan berakhir dengan pelukan mendadak dari Liyan. Aku terus saja membayangkan, tanpa sadar kalo ada tiga orang sudah siap-siap memukulku dari belakang. Membungkam mulutku dengan sesuatu hingga aku lemas. Membaringkanku ke tempat tidur. Menutup mukaku dengan bantal. Aku kehabisan napas. Tak juga bisa melawan. Sekejap aku melihat sosok yang pernah kulihat. Pernah kutonjok juga. Dan pernah memasang tatapan ‘awas lu’.

Mereka bertiga membuat tubuhku yang sudah ditinggalkan nyawa seolah sedang tidur di kasur. Digenggamkannya sebilah pisau ke tangan kananku dan diarahkannya untuk menusuk dada kiriku. Membuat posisi kematianku seolah bunuh diri.

Aku tak menyesal melerainya berkelahi dulu. Bahkan seandainya dulu aku tahu akan jadi begini. Yang kusesalkan adalah aku tidak membakar buku diary-ku. Karena jika teman-temanku memeriksa kamar dan membaca buku itu, mereka pasti menuduhku bunuh diri karena patah hati. Dan entah apa yang akan mereka lakukan pada Liyan, mengingat kami punya kesepakatan solidaritas untuk membalas tiga kali lipat.

Tamat.

****

 ps: Utang gue lunas, ya, Chisanak

Previous
Next Post »

29 comments

Click here for comments
7 March 2016 at 07:33 ×

Penyesalan selalu datang terakhir bro hahahahha, ulangi lagi biar bukunya nggak dibakar :-D

Reply
avatar
7 March 2016 at 10:27 ×

jadi 3 orang itu siapa aja Haw nama'a?
tamat tapi gak tau pelaku sebenernya.

Reply
avatar
7 March 2016 at 12:25 ×

BANG, TIGA ORANG ITU SIAPAA??
Anak-anak sekitaran rumahnya yg pernah dilerai pas berkelahi itu ya?

Jadi Adit sebenernya dibunuh, bukan bunuh diri.
Mantap bang ceritanya. Keren.
Bikin cerbung lagi bang

Reply
avatar
7 March 2016 at 14:25 ×

AAAAAAAKKK
gilaaa.
keren-kerenn. kirain Adit matinya keserempet bu-ibu matic.
bikin lagi dong gewla.

Ini kalo gua, gua ajak by one ajalah itu anak-anak sebrang. najiss beraninya keroyokan.

Reply
avatar
7 March 2016 at 19:35 ×

Haw, ini sialan sekali. Awalnya aku senyam-senyum ngebaca kalimat demi kalimat kebersamaan Adit dan Liyan. Makin ke ending aku kesel. Kenapa Adit yang baik hati dan suka motret terminal colokan itu harus mati? Dibunuh sama terong-terongan lagi. Huaaaaaaa :(((

Reply
avatar
7 March 2016 at 20:46 ×

Yeah. Kelar juga. Maafin gue ya, Haw. Dulu nggak sempet lanjutin. :(

Buahaha. Ending-nya nggak ketebak. Meskipun gantung, tapi keren. Jadi, Liyan bakal gimana tuh, ya? Kasihan banget nggak percaya Tuhan. :))

Reply
avatar
Weri Febri
admin
8 March 2016 at 13:15 ×

Hhahaha sama.. kirain keserempet ibu2 matic ,XD

Reply
avatar
Weri Febri
admin
8 March 2016 at 13:16 ×

“Apa perlu kamu kustabilo seluruh badan biar kamu paham bahwa semua tentangmu itu penting?”

Reply
avatar
9 March 2016 at 21:23 ×

Bang, ini cerbung (apa certai?) jadinya dilanjutin sendiri yak? Ketahuan bener kalau jom... *eh lupa, gak boleh ngeledekin sesepuh*

Well, twist nya dapet \(^_^)/

Aku gak nyangka loh kalau yang puisi itu bikin sendiri, bang. Jauh lebih keren daripada bagian teori fisika. Apa karena analogi fisika yang dipakai di sini udah terlalu common dipakai buat ngegombal yak? Jadi gak terlalu berasa gitu. Hm~

Trus itu. Bagian cara si Adit dibunuh.
Sebaiknya jangan langsung dipukul dari belakang dan dibekap gitu bang. Soalnya kalau caranya gitu, tetep bakal ketahuan walaupun pelaku udah memosisikan korban seperti bunuh diri *forensik dasar*
Mendingan si Adit diracunin, dibuat mabuk, atau diapain gitu dulu, dibuat supaya mengalami penurunan kesadaran. Nah habis itu baru direkayasa kematiannya supaya seolah-olah bunuh diri.

Over all, keren. Premisnya mateng, as always.


*udah lama gak komen panjang-panjang begini haha*

Reply
avatar
How Haw
admin
10 March 2016 at 17:54 ×

Iya, mas, Nas. :)

Reply
avatar
How Haw
admin
10 March 2016 at 17:56 ×

Udah, biarin aja. entar malah makin panjang ceritanya. lagian, inti ceritanya udah tersampaikan, kok. anggap aja tersampaikan.

Reply
avatar
How Haw
admin
10 March 2016 at 18:02 ×

Iya. mereka. :)

Iya. dia dibunuh, dan bikin salah sangka.
Ogah bikin lagi. Entaraaaaaan aja kalo niat. :ng
eh, iya, terima kasih kalo suka ceritanya, ya, Ul.

Reply
avatar
How Haw
admin
10 March 2016 at 18:06 ×

Iyakali ditabrak ibu-ibu matic sambil ada pisau di dadanya...

wa wa wa... ipeh jantan sekali. |o|

Reply
avatar
How Haw
admin
10 March 2016 at 18:08 ×

Kan sejak awal cerita, Aditnya udah meninggal. ini flashback dikit doang sebelum meninggal. biar ketahuan meninggalnya kenapa. :D

Reply
avatar
How Haw
admin
10 March 2016 at 18:12 ×

Hahahai...Iya, yog. toh semua juga kagak ngelanjutin.

kayaknya aku emang bikin cerita yang gantung-gantung gini, deh. biar pembaca yang menyimpulkan sendiri. :D

Reply
avatar
How Haw
admin
10 March 2016 at 18:13 ×

Tuh, kan, ngutip lagi. padahal capek loh ngetik ulang. :ng

Reply
avatar
How Haw
admin
10 March 2016 at 18:19 ×

Iyo, Dar. dilanjutin sendiri. awas lu kalo dilanjutin kalimat ejekannya. Aku sumpahin jadi makin cantik, lu.

Masa yang bagian puisi itu bagus, sih? emang tau maksudnya? =)D
Kayaknya aku mesti ngurang-ngurangin analisis cinta fisika ini. sebelum pada bosan.

Iya, Dar. aku juga bingung disitu awalnya. makanya itu kalimatnya berantakan. dibekap maksudnya dibius itu loh yang pake apu tangan sampe ilang kesadaran dan lemas. kayaknya kalo masalah bunuh-bunuhan, aku mesti konsultasi ama kamu, Dar. Yang jago dibidang membunuh secara halus dan nggak ketahuan. :-bd

Oke. Terima kasih kalo suka ama ceritanya. :D

Reply
avatar
10 March 2016 at 20:27 ×

Hehe iya, Haw. Maksudnya kenapa Adit matinya dibunuh. Nggak nyangka aku. Awalnya pas baca bagian satu, aku agak gimana gitu sama Adit karena dia bunuh diri dan diduga karena patah hati sama cewek. Tapi pas baca ini aku jadi kasihan sama Adit. Dan jadi sedih. Gitu :D

Reply
avatar
11 March 2016 at 07:26 ×

penyesalan datang belakangan mas

Reply
avatar
12 March 2016 at 08:08 ×

Iya, bang. Puisinya bagus loh. Menurutku sulit banget bikin puisi yang begituan~

Kalau puisi yang kedua sih sepertinya aku rada paham, bang. Kalau gak salah interpretasi sih nih. Ini kayaknya ada kaitannya sama salah satu cerita Abu Nawas dalam kisah 1001 malam, deh. Dan kalau kita paham sama maksud dari cerita itu, bakalan paham juga sama maksud puisi ini. Iya nggak sih? Haha.

Kalau untuk puisi pertama, aku setuju bahwa untuk paham sama isi dari sebuah puisi, kita perlu pengalaman hidup yang berkaitan. Dan aku masih belum nemuin pengalaman itu, sebab pencarianku masih belum tunai. Karena aku pernah berusaha mencari, tapi kemudian sadar bahwa itu tindakan yang percuma. Ngapain nyari yang sebenernya udah membersamai kita, dan dekat pula?
"Wa idzaa sa alaka ibadii 'annii fa innii qariib..." - Al Baqarah yang paling bikin melting, 186 :')

Tapi gak tau kenapa, kalau aku baca puisi yang pertama itu, aku langsung ingat ke kisah Ibrahim, dan manusia-manusia yang terus mencari tapi tak kunjung menemukan.
Bahkan saat sudah menemukan, seperti ditanya kembali, "apakah kamu akan dibiarkan beriman sementara kamu tidak diuji?"
Nyerah aku bang sama puisi pertama. Kinda hard for me to interpret the hidden meaning :')
Yang jelas, menurut pendapatku, puisi pertama maknanya lebih dalem. Sufistik sekali!

Eh iya gak sih? Apa aku yang menginterpretasikan ini berlebihan? Makanya aku bilang puisinya bagus? Wkwk.

Itu... bukan ngurangin analisis cinta fisika juga sih, bang. Tapi lebih bagus kalau teori yang diangkat gak yang itu-itu melulu. Eksplor teori yang lebih susah lagi laaah :)

Siap, bang. Ntar konsultasi sama aku aja. Tapi tunggu aku udah jadi dokter, kan lumayan bisa narik bayaran haha *maboq*

Reply
avatar
How Haw
admin
12 March 2016 at 19:24 ×

Hahaha... ya kan biar ada kesan twistnya. awal-awalnya diduga jelek, ujung2nya diberi sifat yang baik. kan di sinetron2 dan ftv-ftv juga begitu, Cha. :ng

Reply
avatar
How Haw
admin
12 March 2016 at 19:25 ×

Nggak apa-apa, bisa masbuk, kok.

Reply
avatar
How Haw
admin
12 March 2016 at 19:36 ×

Interpretasinya jauh banget. padahal puisinya tercipta dari kejadian akhir (bagian adit). eh, tapi mungkin mirip-mirip, sih. mungkin loh tapi, ya..

Itu berarti udah tunai, toh, udah nemuin jawabannya. itu ayat yang diturunkan sebagai jawaban karena para sahabat mempertanyakan "di mana Tuhan" itu, kan? kamu melting dengan ayat begitu, berarti kamu lebih beriman daripada aku, Dar. *sebenarnya gak baik banding2in begini, nggak guna* aku malah ingin sekali tersentuh pas baca ayat tertentu, selama ini tersentuhnya cuma sama ayat ancaman. :(

Iya, emang setema juga sih ama kisah nabi yang mencari Tuhan dan menemukan beberapa benda yang dianggap Tuhan, tapi pada akhirnya tahu kalo itu bukan tuhan. tapi itu lebih ditujukan pada manusia modern. karena banyak sekali tuhan di masa ini yang lebih terang.

pas bikin puisi itu, aku awalnya gak tau mau bikin apaan. mau bikin puisi cinta, aku masih cemen. tiba-tiba aja kepikiran tukik yang nasibnya berakhir di jalan raya. :D

Yawla Dar, ilmuku belom tinggi-tinggi amat. malah lebih tinggian kamu kayaknya kalo tentang IPA (ngebandingin lagi -_-). jadi kalo mau pake teori yang lebih rumit, mesti belajar ekstra dulu. hahaha

nggak apa-apa, asal bayarannya ditanggung pemerintah.

Reply
avatar
13 March 2016 at 13:06 ×

Bang, ini kita komen-komenan paan sih? Dijadiin postingan baru bisa kali. Panjang banget sumpah~

Lah udah tau kalau ngebandingin itu gak guna, masih aja dilakuin. Tapi kenapa kita belajar tentang ilmu komparasi ya, bang? @@,

Nah iya, bang. Ke manusia modern juga itu. Tentang tuhan-tuhan semu. Jadi multi dimensi lintas generasi gitu yak ini puisi. Haha.

Puisi yang awalnya gak tau mau dibikin apaan aja jadi keren gini, bang. Apalagi kalau udah tau dari awal mau bikin puisi gimana, pasti mantep lah.

Oh iya, udah pernah baca novelnya Prof Yohanes Surya, bang? Yang judulnya Tofi: Perburuan Bintang Sirius.
Di situ, ada seorang tokoh yang namanya Billy, dan dia orangnya puitis-puitis fisikis gimanaaa gitu. Suka menganalogikan teori fisika ke cinta. Walau kadang rada alay sih si Billy, tapi analogi dia keren-keren :)

Reply
avatar
How Haw
admin
13 March 2016 at 20:23 ×

Kagak tahu... aku mah ngimbangin aja. Yang komennya panjang duluan siapa? kan ga enak dibales pendek kalo orang udah berkomentar dan bertanya dengan semangatnya begitu.

Iya. ngebandingin antarmanusia itu nggak baik. Perbandingan yang sifatnya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik tanpa merendahkan yang lain itu sih boleh-boleh saja, yang jelas manfaatnya lebih besar dari mudharatnya. iya, nggak, sih? :D

Iya. karya mah lintas apa pun bisa. tak terpengaruh waktu. hanya saja, terpengaruh suka dan tidak suka yang muncul pada tiap individu.

hahaha...justru kalo hak begitu bekerja, maka kemungkinan sebaliknya juga bisa terjadi, yang udah disiapin dari awal ternyata malah nggak 'wah' sama sekali.

belooommm... belom pernah denger malah. kalo tofi doang mah tau, itu bagian seleksi olimpiade bidang fisika. nanti aku cari deh. makasih atas infonya, loh, Dar. :-bd

Reply
avatar
20 March 2016 at 00:44 ×

Iya, bang. Iyaaa. Aku yang duluan komen panjang...
Makasih loh udah ngingetin haha. (padahal kan ini juga komen rekap buat 4 postingan, ckck)

Kalau yang selama ini aku pelajari, perbandingan itu emang penting sih, bang. Tapi ya emang bukan ngebandingin antar manusia. Misalnya ngebandingin "mendingan ngasi obat ini tapi efek sampingnya begini" atau "ngasi obat ini tapi harganya yang begini". Ya yang gitu-gitu, sih.
Ini termasuk yang manfaatnya lebih besar dari mudharat kan ya?

TOFI mah nama tim olim nya, bang.
Tapi di novel itu dijadiin nama tokoh utamanya.
Sip sip. Itu novelnya trilogi dan baru keluar bagian satu sama dua sih, bang. Aku masih nungguin bagian tiga sampai sekarang huhu.

Reply
avatar
How Haw
admin
20 March 2016 at 11:18 ×

Iya, juga, ya. hahaha...aku lupa, ini kan cerita bersambung, ya...

Iya, kalo untuk membandingkan hal seperti itu, sangat dibolehkan. Kan tujuannya untuk mencari dan memberi yang terbaik, nggak ada maksud merendahkan juga.

Hahaha...apaan itu novel, tebel banget. aku nggak tau mesti nyari di mana ini.

Reply
avatar
Desti
admin
11 April 2016 at 11:13 ×

aduh endingnya :(

Reply
avatar
How Haw
admin
14 June 2017 at 04:21 ×

kenapa dah? @@,

Reply
avatar

Berkomentarlah dengan baik, sopan, nyambung dan pengertian. Kan, lumayan bisa diajak jadian~ EmoticonEmoticon