Howhaw #149: [Fiksingkat] Bertemu Kamu (Versi Silvia) ~ Production Haws

Howhaw #149: [Fiksingkat] Bertemu Kamu (Versi Silvia)

Cerita sebelumnya: Mencari Kamu

“Nggak ada yang namanya Hawadis, Ma?”

Begitu tanyaku setelah mama memberitahukan bahwa banyak temanku yang menjenguk saat aku koma selama sebulan setelah kecelakaan itu. Aku tidak memberi tahu mama alasan sebenarnya aku menabrakkan mobilku. Aku hanya bilang bahwa aku sedang depresi dengan kerjaan.

Selama aku koma, ternyata Hawadis tak sekalipun menjengukku. Padahal kabar kecelakaan itu dan namaku terpampang di berbagai media massa daerah. Tidak mungkin dia tidak membaca atau mendengarnya. Jangan-jangan, perasaannya terhadapku tidak sama dengan perasaanku terhadapnya.

“Apa pun alasannya, kamu nanti minta maaf ya dengan orang yang kamu tabrak itu. Biar nggak mendatangkan cobaan lain yanag lebih berat.”

Aku mengiyakan. Tapi sudah dua bulan setelah aku kembali sehat, aku belum juga meminta maaf. Aku terlalu takut dan malu untuk mendatangi rumahnya. Apalagi jika aku ceritakan alasan sebenarnya. Lagi pula, keluarga kami juga sudah saling meminta maaf atas peristiwa tersebut.

“Jangan kemaleman pulangnya. Besok kita ada acara loh,” pesan mama saat aku bilang mau pergi ke taman.

Sudah lebih dari tiga bulan aku tidak pergi ke taman ini. Biasanya tiap minggu malam aku selalu menghabiskan waktu di tempat ini. Melihat keramaian dan tentunya berharap bertemu dengan orang yang selama ini aku cari.

“Tumben kamu datangnya sore, Sil? Biasanya kan malem kamu baru ke sini,” sapa Rafi ketika aku sampai di parkiran. Dia teman kampus sekaligus pemilik warung makanan langgananku di taman ini. Dia berjualan bersama istrinya.

Kami kemudian berjalan perlahan menuju warungnya sambil mengobrol berbagai hal. Saat dia menceritakan tingkah lucu anaknya yang berumur setahun, aku melihat seseorang yang kukenal di bangku panjang tak jauh dariku. Hawadis.

Jantungku berdegup. Bahagia mendadak menyambar. Tapi, siapa gadis yang bersamanya itu? Mereka terlihat sangat akrab, saling tertawa menatap sebuah buku. Apa jangan-jangan gadis itu?

“Siapa nama anaknya tadi, Raf?”

Aku mengalihkan pandangan pada Rafi. Kupercepat langkah saat melewati mereka. Namun, mataku tetap mencuri pandang ke arahnya. Hawadis juga memandang ke arahku. Mata kami bertemu. Tapi tak ada tegur. Tak ada sapa. Dia membiarkanku berlalu begitu saja.

Jelas sudah. Dia tidak menjengukku karena memang dia tidak punya rasa yang sama sepertiku. Bahkan, dia telah memiliki seorang pendamping. Aku berjalan dengan gontai. Bahagia yang tadi menghampiri mendadak hilang.

Semua yang kulakukan dan pencarian selama ini terasa percuma. Aku bahkan menolak semua lelaki yang datang demi dia. Tapi nyatanya, dia... Mungkinkah ini terjadi karena aku tak mau menyempatkan waktu untuk meminta maaf pada orang yang kutabrak?

Tidak. Mungkin ini memang kehendak takdir untuk mengabarkan, bahwa perasaanku ini hanya bertepuk sebelah tangan. Dia bukan jodohku. Sepertinya, aku sudah dapat jawaban untuk acara besok. Saat Rizal datang melamar.

*****

Bagaimana reaksi Hawadis sebenarnya? Cerita utuhnya: Kenyataan Hawadis


memfiksikan
Karena sedang membicarakan ide lain untuk #memfiksikan, jadi minggu ini nggak ada temanya. Makanya bikin cerita nggak jelas kayak gini, mohon kritiknya.






Sumber gambar:
https://andriyantoandri.wordpress.com/2013/02/05/500-days-of-summer-2/
Previous
Next Post »

32 comments

Click here for comments
18 April 2015 at 01:26 ×

Hah, gue bingung mau komen apa. Ide lo ada terus, Haw. Keren! Sampe dibikin dua begini. :3

Reply
avatar
How Haw
admin
18 April 2015 at 03:44 ×

Dulu udah pernah bikin kayak gini kok, Gung. Yang itu linknya, yang ditebelin di awal-awal kalimat. Ini lanjutannya.

Reply
avatar
18 April 2015 at 11:13 ×

ooo ternyata hawadis itunya silvia ya...hahahaaa itunya

Reply
avatar
i Jeverson
admin
18 April 2015 at 13:31 ×

ohhh, gaul juga haw.
jadi begini sudut pandaangnya silvia......
gue ngarti sekranag.

Reply
avatar
wery febri
admin
18 April 2015 at 14:00 ×

Panjang ya salah pahamnya, dari sequel 1 sampe skrg :D.
kapan mereka berdua meninggal? *eh
berarti besok hawadis harus kejar2an sama rizal ke rumah silvia. Semangat ya haw.. yg kenceng haw

Reply
avatar
18 April 2015 at 16:48 ×

Yak! Mereka ini saling menunggu tapi tak saling tahu. Pedih memang.

Reply
avatar
19 April 2015 at 04:06 ×

jadi ceritanya dua orang ini sama-sama nunggu, gitu?

Reply
avatar
Renggo Starr
admin
19 April 2015 at 10:02 ×

Ga bisa banyak komentar sebelum baca endingnya.
Itu tiap abis ada yang ngomong selalu ada penjelasan, dialognya berasa jadi kurang hidup, Haw. Itu yg aku liat sbg pembaca ya, bukan penulis. Jadi ini bukan kritik, heheh.

*langsung ke baca cerita lanjutannya*

Reply
avatar
Renggo Starr
admin
19 April 2015 at 10:03 ×

Haw: "Emang kamu penulis, Nggo?"

Aku: "Bukan, sih."

Haw: "Hehehe"

Aku: "Hehehe"

Reply
avatar
Aldi Rahman
admin
19 April 2015 at 16:04 ×

keren ceritanya, jadi nggak sabar baca lanjutannya, untung ada link dibagian endingnya, hehe... Berangkat ke halaman sebelah, hup

Reply
avatar
How Haw
admin
20 April 2015 at 01:39 ×

Iya, bikin yang ini biar nggak keliatan ngenes amat sih. walau masih.

Reply
avatar
How Haw
admin
20 April 2015 at 01:41 ×

Iya, Wer. dari taon lalu. :D
Dirimu nyumpahin tak? *jitak*
*udah nebak lanjutannya, padahal tau orang yg ditabrak aja belom*

Reply
avatar
How Haw
admin
20 April 2015 at 01:43 ×

Sama-sama nyari, Kak. Tapi karena nggak ketemu-ketemu, jadinya sengaja kecelakaan dan nunggu dijengukin. :)

Reply
avatar
How Haw
admin
20 April 2015 at 01:45 ×

Ditampung ya, Nggo, saranmu. :)
Entar aku kasih pupuk, obat kuat ama minta ke saint long biar jadi hidup deh.

Reply
avatar
How Haw
admin
20 April 2015 at 01:45 ×

*asal siap muter-muter aja* :D

Reply
avatar
20 April 2015 at 02:57 ×

Bukannya malah bagus, ya? Gue malah kadang bingung. Habis dialog mau ngasih penjelasan apa. Soalnya gue emang masih cupu bikin cerita. Gue pikir, ini hanya soal sudut pandang para pembaca. :)

Reply
avatar
20 April 2015 at 02:57 ×

Baru baca yang ini. Hahahanjir! Kece.

Reply
avatar
How Haw
admin
20 April 2015 at 04:21 ×

Alasan Yoga bilang 'kece': karena tokoh 'Hawadis'-nya gagal jadian. *hasem*

Reply
avatar
Beby Rischka
admin
20 April 2015 at 07:06 ×

Mungkin ini pengalaman pribadi ya, yang kemudian dituangkan dalam sebuah cerita.. Uhuk. :P

Reply
avatar
20 April 2015 at 07:28 ×

Kalau untuk model cerpen seperti ini, kayaknya aku harus belajar dengan kamu mas. :-)

Reply
avatar
How Haw
admin
21 April 2015 at 00:57 ×

Hahaha... nggak kok, Kabeb. Ini hanya fiksi. ^_^

Reply
avatar
How Haw
admin
21 April 2015 at 00:58 ×

Belajar sama-sama aja yok, Bang. ^_^

Reply
avatar
Beby Rischka
admin
22 April 2015 at 20:52 ×

Fiksi bisa serealita itu? Oh. Okay. :3

Reply
avatar
How Haw
admin
23 April 2015 at 05:31 ×

(((SEREALITA ITU))) mananya yang realita cobaaakkkk....? :v

Reply
avatar
Beby Rischka
admin
24 April 2015 at 07:46 ×

Yang mana aja boleh, Kakaaaak.. Ada warna biru, item.. Ada yang longgar, ketat.. Boleh pilih loh.. Kita ada banyak macam..

Reply
avatar
How Haw
admin
25 April 2015 at 00:51 ×

Kalo dicoba pakai dulu setahun boleh nggak,Sist? Kalo cocok, entar eike perpanjang.

Reply
avatar
Beby Rischka
admin
26 April 2015 at 10:44 ×

Boleh, Kakaaaaak.. Tapi bayar dp dulu ya, biar tanda jadi.. Totalnya 5 juta.. Silakaaan.. :3

Reply
avatar
How Haw
admin
27 April 2015 at 02:01 ×

Kok mahal bangeeeeetttttt......? ini jualan baju apa jual kuaci?

Reply
avatar
Beby Rischka
admin
1 May 2015 at 20:21 ×

Loh.. Kan Kakak mintak bonus punya pacal kan? Ini uda sama garansi looooh.. Boleh diganti kalok ngga syuka :3

Reply
avatar
How Haw
admin
2 May 2015 at 03:54 ×

Aku ambil bonusnya aja deh, Kak. Nomor kontaknya juga boleh.

*ini pacal atau apa sih? pake garansi segala*

Reply
avatar

Berkomentarlah dengan baik, sopan, nyambung dan pengertian. Kan, lumayan bisa diajak jadian~ EmoticonEmoticon