Howhaw #210: Punya Balsem Jangan Ngegas ~ Production Haws

Howhaw #210: Punya Balsem Jangan Ngegas


Assalamu’alaikum…

Hidup ini memang sudah ditakdirkan. Kejadian sekecil apa pun sudah ditetapkan. Termasuk masalah keseleo. Kemarin malam, di kala mengubah posisi saat tarawih, bahu kiri saya terasa pegal dan sakit seperti ada urat yang tertarik. Keseleo. Itu pasti suratan takdir. Bayangin aja, masjid seluas itu, orang sebanyak itu, gerakan salatnya sesama itu, kok, ya, bisa saya yang keseleo.

Selesai tarawihan dan pulang, sambil tiduran, perlahan saya memijat bahu kiri saya yang terasa pegal tersebut dengan tangan kanan. Karena belum hilang juga, saya mengambil balsem di laci meja. Balsem otot geliga. Nggak geli, sih, panas iya pas diolesin ke bahu.

Ajaibnya, walau diserang rasa panas, ternyata bahu yang pegal tadi berangsur baikan. Saya harus mengabadikan jasa balsem tersebut di hidup saya. Serta mencoba lebih akrab lagi dengan beliau agar bisa memperlakukan beliau lebih baik lagi. Balas budi, coy.

Balsem adalah…
Kata tidak baku. Kalo yang baku itu balsam. Namun, saya lebih suka nyebutnya balsem. Terlebih, pada wadah balsem yang saya gunakan tadi itu, tertulisnya “balsem” bukan balsam. Walo saya tahu itu kesalahan dalam hal baku tidak baku, tetap saja nggak bakal mengurangi jasa balsem otot geliga tersebut.

balsem
 
Balsem merupakan obat luar dengan bentuk sediaan semi padat seperti salep. Ketika dioleskan, akan menimbulkan relaksasi dan menstimulasi aliran darah sehingga mengurangi sakit. Balsem biasanya dipake untuk mengatasi sakit perut kembung, masuk angin, sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi juga untuk menyembuhkan masuk angin. Kalo di wadah balsem otot geliga yang berjasa tadi, tertulis bahwa beliau juga bisa digunakan sebagai balsem pemanasan olahragawan. Nggak tahu dipakein di mananya.

Selain itu, balsem juga digunakan untuk membuat sapi karapan bisa berlari lebih kencang. Caranya bagaimana? Mata dan dubur sapi dioles balsem. Sapinya meronta, dan akan menimbulkan reaksi untuk menjauh (berlari). Apalagi ditambah dengan cambukan paku, trus lukanya kalo ketemu balsem, ya, makin menyakitkan. Larinya makin kencang. Jika tidak begitu, sapinya kadang nggak mau lari. Walau sempat ada anomali, yaitu sapinya justru nggak mau lari ketika dapat cambukan. 

Saya nggak tahu harus menganggap itu penyiksaan atau apa. Karena dalam setengah tahun sebelum karapan, sapinya diperlakukan seperti raja. Makannya nggak boleh sembarangan, dikasi jamu, dikasi susu. Hidup memang seperti roda berputar, Pi. Setelah perlombaan selesai, si pemilik langsung mengobati lukanya, sih. Dirawat bak raja kembali untuk pertandingan berikutnya nanti.

Cara penggunaan balsem
Balsem dioleskan secukupnya pada bagian yang sakit. Lalu gosok secara merata dan perlahan. Untuk mendapatkan khasiat yang maksimum, setelah 2-3 jam letakkan handuk panas pada bagian yang telah dioleskan.

Penggunaan balsem haruslah tepat. Walau memiliki sifat panas, balsem tidak boleh dipake untuk menggantikan sesuatu yang sifatnya mirip. Misalnya dipake untuk menggantikan sambal cabe. Memang, sih, balsem juga menimbulkan efek pedas saat dimakan, sambal cabe juga, tapi tindakan itu tidaklah tepat. Pedas, sih, tapi nggak enak. Beneran.

balsem

Balsem juga bisa digunakan sebagai obat luka. Tapi saya tidak menganjurkan hal tersebut. Karena biasanya balsem yang digunakan memang balsem khusus untuk luka seperti merk Zambuk yang memberikan efek dingin, bukan balsem untuk pegal nyeri otot yang berefek panas. Walo bisa mengobati pegal dan nyeri, tapi balsem tidak dianjurkan untuk dipake pada orang yang mengalami cedera memar. Karena bisa memperparah cederanya.

Bagi kalangan pelajar, balsem juga bisa dipake untuk bersenang-senang. Ketika saya masih SMP dan melakukan kunjungan ke SMP lain, anak-anak di sekolah yang saya kunjungi membuktikannya. Mereka menyediakan dan mengatur kursi penyambutan tamu-tamu. Sebagian kursi yang jadi tempat duduk tamu itu mereka olesi balsem.

Sebagai tamu, tentunya nggak curiga, dong. Balsemnya juga tidak menimbulkan warna. Tahu-tahu ketika pidato kepala sekolah, udah banyak yang mengaduh dan mendadak berdiri. Dan banyak yang menahan tawa. Memang, ya, nggak peduli di mana, orang yang usil itu selalu ngajak prank.

balsem

Penggunaan balsem juga harus melihat situasi. Jangan mengoleskan balsem ketika akan berenang atau mandi. Sungguh itu perbuatan bego tingkat tinggi. Di zaman dulu, balsem digunakan untuk mengawetkan tubuh yang telah mati. Seperti di Mesir, tubuh Firaun dan kucing yang menjadi peliharaannya diawetkan dengan balsem dan ditempatkan dalam Piramid.

Cara penyimpanan balsem
Balsem harus ditutup rapat dan diletakkan di tempat kering dengan suhu kurang dari 30 derajat celcius. Jika balsem dibiarkan terbuka cukup lama, maka khasiatnya akan berkurang. Malah jadi nggak berguna lagi.
****

Pada diri manusia, ada hal yang membuatnya bisa menciptakan hangat dan panas pada orang lain. Perkataannya. Ada seorang anak yang sejak kecil menjadi yatim piatu, dia hidup mandiri dan merasa sendirian di bumi. Neneknya yang dulu mengasuhnya hanya sempat memberi makan dan menyekolahkan saja. Memberi perhatian sudah tidak bisa dilakukan karena harus mengumpulkan biaya.

Setelah beberapa waktu berselang, anak yatim piatu tersebut punya teman dekat di sekolah. Dia jadi sering main ke rumah temannya tersebut. Namanya anak-anak, mereka bermain sering kelewatan. Sehingga mengalami luka-luka. Ketika pulang ke rumah temannya, dia dan temannya dimarahi oleh ibu temannya, sambil membersihkan dan mengobati luka-luka mereka. Perkataan ibunya itu berisi kata-kata kasar dan amarah, panas di telinga, tapi bagi mereka, itu terasa hangat. Luka kesepian yang dialami si anak yatim piatu sejak dulu perlahan sembuh. Ternyata ada orang yang begitu peduli dengannya.

Seperti balsem, perkataan yang berisi kalimat atau kata-kata kasar dan membuat panas ternyata bisa menyembuhkan
Sebagaimana perkataan seorang pelatih yang membuat anak yang dilatih sembuh dari ketidakmampuannya. Pelatih gerak jalan, pelatih tembak, pelatih renang, pelatih bola, dan beberapa pelatih lainnya sering kali melontarkan kata-kata kasar. Namun, lama-lama, sakit (tidak ahli) yang dialami anak yang dilatihnya itu menghilang. Mereka kemudian menjadi anak yang ahli dalam bidang tersebut. 

balsem

Atau mungkin kita pernah mendengar atau berkata, “Aku janji nggak akan bikin kamu marah lagi.”

Marah itu berisi emosi. Kata-kata yang keluar jadi panas. Orang yang kena marah karena melakukan hal yang salah, akan terdiam. Lalu meminta maaf dan berusaha tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi. Walo mungkin di hari-hari kelak kesalahannya terulang lagi, tapi kata-kata panas dalam amarah orang itu bisa mengobati dan mencegah kesalahannya dalam waktu dekat. Sama kayak orang mual atau pegal dikasi balsem. Mungkin entar mual atau pegalnya kambuh lagi, tapi untuk beberapa waktu, setidaknya, dia merasa lebih baik.

Seperti balsem pula, kata-kata kasar tersebut harus dilihat waktu dan kondisi penggunaannya
Kata-kata kasar yang membuat panas harusnya hanya digunakan ketika seseorang mengalami kesalahan yang besar, yang bisa mengancam keselamatan dirinya atau orang lain. Ya, walo kata orang lebih benar kalo tidak menggunakannya, sih. Namun, kalo tidak begitu, keseringan kesalahannya itu diulangi lagi. Ngeyel.

Kata-kata kasar memang bisa membuat panas, tapi tentu saja tidak bisa dipake untuk memanaskan donat indomie. Kalo memanaskan yang jual donat indomienya sih bisa.

“Donat indomie macam apa ini? Rasanya kayak oli gear motor.”

“Itu emang gear motor, Bang. Ngapain dimakan?”

balsem

Kata-kata kasar memang bisa dipake untuk menyembuhkan luka seseorang yang diakibatkan oleh pikiran bodoh. Misal berniat melakukan candaan dengan cara berkata membawa bom saat naik pesawat. Kita bisa menyembuhkan luka yang berbentuk kebegoannya itu dengan kalimat kasar dan panas, “Kalo kau melakukan itu, kau benar-benar bakal jadi orang paling goblok sedunia.” 

Atau bisa menyembuhkan luka orang yang patah hati dengan mengatakan, ”Buat apa menangisi orang yang bangsat kayak gitu. Bajingan kayak dia yang kelak bakal nangis karena ninggalin kamu.” Tentu saja seperti balsem khusus luka, kata-kata kasar untuk orang patah hati itu juga hanya ampuh diucapkan oleh orang dekatnya, sahabatnya misal. Kalo diucapkan oleh orang lain yang kenal aja nggak, cuma sekadar tahu cerita lagi putus aja, malah akan membuat makin parah.

Di kalangan pelajar, kata-kata kasar sering dipake untuk bersenang-senang. Ketika ada teman sekelasnya yang dianggap ‘kurang’ dalam penampilan, atau terlihat “cupu”, mereka akan mengeluarkan kata-kata kasar untuk memperoloknya. Bullying. Namun, apa itu benar suatu kesenangan? Sama seperti balsem dipake untuk membuat jebakan, menggunakan kata-kata kasar untuk mem-bully juga merupakan tindakan yang tidak benar.

balsem

Balsem bisa dipake senang-senang kalo di situasi lagi main gaplek dan yang kalah pipinya diolesi balsem. Kata-kata kasar juga bisa menyenangkan, kalo untuk menanggapi jokes receh. Semuanya bisa senang kalo seperti itu.

Di kalangan fotografer, balsem pernah digunakan untuk memberikan efek tertentu dengan cara mengoleskannya di lensa. Hasil foto yang harusnya jernih, jadi terlihat buram. Kata-kata kasar juga begitu. Niat baik kita untuk membantu dan menolong serta peduli dengan keadaan orang lain, karena menggunakan kata-kata kasar, niat jernih itu bisa jadi terlihat buram.

Pake balsem harus liat situasi, jangan pake balsem saat mau berenang, karena panasnya malah berkali lipat dan menyakiti. Menggunakan kata-kata kasar juga harus melihat situasi. Jangan asal pake kata-kata kasar untuk situasi orang yang mencoba menjadi pribadi yang bahagia dan lebih baik. 

Baca juga: Kita Tidak Boleh Menjadi Orang Yang Lebih Baik

“Sok inggris!”

“Kerudungan kok ketawanya keras.”

“Masuk puasa kerudungan, lepas puasa kerudung lepas juga, munafik!”

“Taik, baru juga pake jilbab udah sok-sokan ngepos kata bijak.”

“Sekarang bilang jangan ngebully, kemaren lu rame-rame ngajak follower lu buat ngebully, kntl.”

“Silakan di-order krim perawatannya agar bebas jerawat, kakak.”

balsem
Karena layaknya balsem yang dipake sebelum berenang, kata-kata kasar seperti itu akan terasa berkali-kali lipat lebih panas dan menyakiti. Kalo kata-kata kita yang kasar tersebut terasa sangat panas, maka orang yang jadi objek umpatan akan belajar untuk membenci. Jika sudah membenci, perasaan dan hatinya seolah mati. Lalu efeknya akan seperti balsem pada mumi, kata-kata kasar kita akan mengawetkan kebencian dalam hati.

Dari itu, kata-kata kasar dan panas harus disimpan dengan benar
Balsem nggak dipake tiap saat. Kalo nggak diperlukan, ya, disimpan dengan ditutup rapat. Kalo dibiarkan terus terbuka, jadi nggak ada manfaatnya lagi. Cuma jadi sampah. Begitu pun kalimat kasar yang membuat panas, harus disimpan dan ditutup rapat-rapat. Kalo sering dibiarkan terbuka, ya, omongan kita itu bisa dibilang cuma sampah.


Sumber gambar:
1) https://www.bukalapak.com/p/kesehatan-2359/produk-kesehatan-lainnya/cucnjn-jual-balsem-otot-geliga-10gr-pereda-nyeri
2) https://youtube.com keyword "sosis plus balsem"
3) https://youtube.com keyword "prank balsem ke ketek temen"
4) http://www.dunia-anak.com/2017/01/cara-menangani-anak-yang-berkata-kasar.html
5) http://olahraga.akurat.co/id-170046-read-karena-hal-ini-gary-neville-pernah-berkata-kasar-pada-sir-alex
6) https://id.wikihow.com/Mengetahui-Apakah-Teman-Anda-adalah-Teman-Sejati
7) https://twitter.com/search?q=sok%20bijak%20bangsat&src=typd
Previous
Next Post »

14 Comments

  1. Sungguh balsem sangat berjasa sekali :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. AHahaha.. iya mas Adi, jasanya begitu besar jadi diabadikan dalam tulisan. xD

      Delete
  2. Contoh yang "kntl" ini ngambil dari twit siapa, Haw? Saya bingung, sih, sama selebtwit yang semacam itu. Ketika ada suatu kritik atau pernyataan bodoh dari followers di DM, beberapa kali selebtwit suka SS terus bagiin ke followers lainnya. Hal tersebut sama aja ngajakin bully orang itu, kan? Hm~

    Saya nggak ngerti bahasa Sunda, tapi kalimat-kalimat kasarnya bisa menjadi kelucuan buat saya~ Wqwq. :))

    Ya, intinya saya sepakat deh. Gunakanlah sesuai situasi dan kondisi. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya lupa, Yog. Pernah liat di timeline aja dulu. Kalo saya liat orang yang sok membela hal baik padahal sebelumnya dia melakukan kesalahan yang bertentangan dgn yg dibela itu ya alhamdulillah. dia udah jadi baik. tapi kalo ke depannya dia malah balik kayak dulu lagi ya udah, ikutan ngatain saya mah. xD

      Delete
  3. Gue tambahin ya, Haw.

    Ini sama kayak kritik dengan kata-kata pedas. Banyak yang beranggapan kritik pedas itu cuma menghina dan niat menjatuhkan. Mungkin benar, tapi isi kritik itu tetap ada manfaatnya. Ibarat makanan, kritik pedas itu kayak fresh from the oven. Butuh kedewasaan dan pelan-pelan saat "mengunyah"-nya. Dan yang pasti, kritik pedas pun bisa membantu kita untuk berkembang, asal diterima dengan sikap dewasa.

    Ini para pelaku seni banyak yang nggak nerima kritik dan jawab: "Lo bisanya kritik doang, bisa bikin kayak gue nggak?"

    Hey halo, kalau gue komplain es kepal Milo di abang A kurang manis, apakah gue harus bisa bikin yang lebih manis? Audiens menilai hasil bukan proses. Nggak fair kalau pelaku seni minta dipertimbangin prosesnya ke audiens. Kan kalau karya udah dilempar ke audiens, ya audiens bebas menilai. Hoho.

    Tapi emang sih mengkritik dengan kata-kata halus lebih baik daripada pake kata-kata pedas atau kasar. :p

    By the way, baru tau karapan sapi suka pake balsem. Atlet maraton bisa nih pake ini. Hahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuooohhh.. mantap, Gip. Terima kasih udah nambahin. Saya taro di pejwan, Yak. :D

      Itu sisi buruk karapan sapi yang nggak banyak orang tau, sebagaimana sisi istimewanya sapi yang juga nggak banyak orang tau klo pemiliknya udha ngeluarin ratusan juta untuk miara itu sapi demi karapan.

      Delete
  4. Mari Join bersama IndoPK
    New Member 10%
    Bonus mingguan 0,5%
    Bonuacs ReferAll 10%
    BBM: 2BA2EB3B
    WA : +6282297638047
    #poker #pokeronline #bandarceme #dominoqq #indopk #INDOPKagendominoqq #agendominoqq #Capsasusun

    ReplyDelete
  5. Balsem bisa seperti kata-kata kasar yang bisa menstimulan penggunanya. Hm. Oke.

    Balsem juga bisa digunakan sebagai doping sapi saat event karapan sapi. Kalau gitu, balsem ini bisa juga jadi doping yang lain dong, Haaaw. IYKWIM.

    Sebagai orang yang hampir nggak pernah pakai balsem, saya awam sih. Taunya minyak telon doang. Tapi dari penjelasan kamu, balsem ini merupakan salah satu penerapan dari suhu dan kalor. Kalor yang dilepas di kondisi tepat, akan menghasilkan daya yang tepat guna juga. Makanya Kalor yang merupakan energi (dan usaha) jika dibagi waktu akan menjadi laju aliran kalor yang mengenai orang-orang di sekitar orang yang sedang berkata kasar.

    Tapi kalau laju itu kebanyakan (dalam kasus kalor kecepetan), nggak bagus juga karena bisa mengganggu kesetimbangan lingkungan. Ya ujungnya bener kata kamu, kata-kata kasar yang terlalu sering keluar akan dianggap bualan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. When physicist meet physicist.

      Delete
    2. May, kamu nggak mau gantiin saya bahas Vsika aja? udha lama saya nggak bahas. Lebih berbobot dan terjamin kalo guru fisika yang buat artikelnya. :lv


      Morfinmantap: Kalo keduanya bertemu, apakah akan jadi 2physicist atau malah jadi Physicist kuadrat?

      Delete
  6. itu balsem panas banggeettt, gak kuat ak pake itu.. pake koyokk aja deh

    ReplyDelete

Berkomentarlah dengan baik, sopan, nyambung dan pengertian. Kan, lumayan bisa diajak jadian~ EmoticonEmoticon