Fiksi Kilat: Tak Ada Manis-Manisnya Untukku

“Ilyas ngasih bunga dan selembar surat ama Dian?” tanyaku dengan nada terkejut.

“Iya. Waktu itu kan aku lagi main ke rumahnya Dian, terus Ilyas datang. Saat kami temui, dia cuma senyum, lalu ngasih bunga dan surat itu ke Dian. Abis itu dia pergi,” jelas Nita. Sama seperti Dian, Nita juga sahabatku sejak SMA.

Ilyas, dia lelaki yang dekat denganku. Saking dekatnya, teman-teman kami mengira kami sudah pacaran. Aku sih senang saja dikira demikian, karena memang aku berharap bisa menjadi pacarnya. Tapi setelah mendengar cerita Nita tadi, aku sepertinya tahu kenapa Ilyas tidak pernah mengutarakan cinta padaku.