Keset Kusut: Baper-Baper Dahulu, Susah Move On Kemudian


howhaw

“Setelah banyak hambatan dan kemacetan di jalan, akhirnya bisa ketemuan juga,” ucapnya sambil menyunggingkan senyum.

“Iya. Syukuri aja kalo ketemu hambatan,” kataku.

“Kok disyukuri, sih?”

Cerbung: Persil 1 - Kepergian Adit

Hadi terus memacu motornya lebih cepat, menyalip dengan sigap kendaraan di depannya. Dia terus menambah kecepatan, bagaikan seorang mahasiswa yang kesiangan, ngebut agar tidak terlambat. Dan memang, saat itu matahari sedang berada tepat di atasnya dan dirinya sedang terlambat. Debu berterbangan di atas jalan aspal yang rusak berlubang. Sudah banyak orang yang menjadi korban jalan tersebut, karena melepas tangan untuk mengucek matanya yang kelilipan. Namun tetap saja kata ‘terlambat’ terlihat lebih mematikan.

Beberapa saat sebelumnya, Hadi berada di dalam kelas memperhatikan dosennya menjelaskan tugas Studio Perancangan Bangunan Tinggi. Tiba-tiba handphone di saku celananya bergetar. Sebuah pesan dari Aryo, sahabatnya sejak SMA.

Fiksi Kilat: Jangan Pulang Petang

Aku berlari semakin kencang untuk segera keluar dari hutan. Meski beberapa kali terjatuh tersandung akar pepohonan hingga kakiku terluka, aku tetap berlari sekuat tenaga. Lebih baik terluka daripada tertangkap oleh Kuyang yang mengejarku di belakang.

“Kalo sudah sore, kamu langsung pulang! Tinggalkan saja kayu bakarnya,” begitu pesan kakekku siang tadi.

Fiksi Kilat: Bertemu Kamu (Versi Hawadis)

Cerita sebelumnya: Mencari Kamu

Sore ini aku berjalan menikmati suasana taman kota. Sejak peristiwa kecelakaan tiga bulan lalu, baru sekarang aku pergi ke taman ini. Biasanya, tiap minggu sore aku selalu menyempatkan waktu.

“Trus, orang yang kutabrak keadaannya gimana, Ma?” teringat tanyaku dulu, setelah sadar dari koma selama sebulan.

Fiksi Kilat: Bertemu Kamu (Versi Silvia)

Cerita sebelumnya: Mencari Kamu

“Nggak ada yang namanya Hawadis, Ma?”

Begitu tanyaku setelah mama memberitahukan bahwa banyak temanku yang menjenguk saat aku koma selama sebulan setelah kecelakaan itu. Aku tidak memberi tahu mama alasan sebenarnya aku menabrakkan mobilku. Aku hanya bilang bahwa aku sedang depresi dengan kerjaan.

Selama aku koma, ternyata Hawadis tak sekalipun menjengukku. Padahal kabar kecelakaan itu dan namaku terpampang di berbagai media massa daerah. Tidak mungkin dia tidak membaca atau mendengarnya. Jangan-jangan, perasaannya terhadapku tidak sama dengan perasaanku terhadapnya.

Fiksi Kilat: Tak Ada Manis-Manisnya Untukku

“Ilyas ngasih bunga dan selembar surat ama Dian?” tanyaku dengan nada terkejut.

“Iya. Waktu itu kan aku lagi main ke rumahnya Dian, terus Ilyas datang. Saat kami temui, dia cuma senyum, lalu ngasih bunga dan surat itu ke Dian. Abis itu dia pergi,” jelas Nita. Sama seperti Dian, Nita juga sahabatku sejak SMA.

Ilyas, dia lelaki yang dekat denganku. Saking dekatnya, teman-teman kami mengira kami sudah pacaran. Aku sih senang saja dikira demikian, karena memang aku berharap bisa menjadi pacarnya. Tapi setelah mendengar cerita Nita tadi, aku sepertinya tahu kenapa Ilyas tidak pernah mengutarakan cinta padaku.

Fiksi Kilat: Aku Bingung dengan Anakku

“Lihat itu, Yah! Kucingnya lucu sekali,” seru anakku ketika melihat kucing di tepi jalan. Sesaat setelah dia berseru, ada seorang gadis yang mendekati kucing tersebut, lalu mengambilnya. Pasti untuk dipelihara di rumahnya.

Setelah memperhatikan gadis dan kucing tadi, kini anakku mengarahkan pandangannya ke arah tepi jalan yang lain. Aku ikut melihat ke arah yang dilihat anakku, ada sekelompok anak kecil yang sedang mengamen dan meminta-minta. Setelahnya, aku kembali menatap ke arah jalan depan, menyetir mobilku ke arah rumah sakit. 

Fiksi Kilat: Harinya Ayah

Kuletakkan perlahan kue ulang tahun ayah di atas meja dapur. Hari ini aku bermaksud menjadikannya sebuah kejutan. Sudah lima tahun ayah dan ibuku bercerai dan setelah perceraian tersebut, aku belum pernah sekalipun memberinya hadiah ulang tahun tepat pada waktunya. Biasanya, aku menemui ayah dan memberinya hadiah satu hari setelah tanggal ulang tahunnya. Anjuran ibuku.

“Kan nggak ada bedanya mau diberikan kemarin atau sekarang,” begitu ucap ibuku.

Fiksi Kilat: Terapi Hipnotis Tidur

“Lupakan semua kejadian yang membuatmu tidak tenang. Lupakan! Lupakan!” ucapku pelan kepada lelaki yang sedang kuterapi dengan hipnotis tidur. Pekerjaan hipnotis tidur ini aku lakukan setiap akhir pekan yang berakhir hingga larut malam.

“Lupakan dan tidurlah lebih dalam. Lupakan! Lupakan!”

Fabel: Nyamuk dan Kupu-Kupu

Kupu-kupu dan nyamuk memiliki bentuk tubuh yang berbeda. Tubuh kupu-kupu lebih besar dengan sayap lebar yang indah penuh warna. Sedangkan tubuh nyamuk lebih kecil dengan sayap transparan yang selalu berbunyi saat dikepakkan. Namun, meski memiliki rupa yang berbeda, kupu-kupu dan nyamuk bisa berteman dengan baik.

Setiap hari, kupu-kupu dan nyamuk bermain di taman bunga. Mereka terbang ke sana dan ke sini, menikmati suasana taman dan tak lupa bermain kejar-kejaran di udara. Jika lelah, mereka akan duduk bersama di atas kelopak bunga. Saling berbincang dan bercanda sambil menikmati nektar bunga.

Puisi: Melapor

Melapor

“Kau nggak perlu berletih-letih menunggu angkot lagi, Dik.”
Begitu katanya, Pak
Dengan semua tabungan hasil kerja
Ditambah uang hasil menjual tustel kesayangannya
Dia membelikanku sepeda motor

Waktu itu aku sampai menangis, Pak

Fiksi Kilat: Rumah Kentang

“Aku sih kagumnya ama cowok yang berani. Bahkan masuk ke Rumah Kentang saja dia nggak takut,” begitu ucapan Silvia yang membuatku pergi ke Rumah Kentang tengah malam begini.

Iya, aku berniat pamer ke Silvia nantinya. Menunjukkan fotoku yang berada di dalam Rumah Kentang saat tengah malam. Agar bisa jadi lelaki yang dikaguminya.

Fiksi Kilat: Tidak Akan Mati

“Man, besok pukul lima sore bisa ketemuan di tempat ‘biasa’ nggak? :)

Sebaris pesan singkat dari Vania tersebut berhasil membuat tubuhku melompat-lompat. Aku kegirangan. Tentu saja, sudah setahun berlalu sejak kami berjanji untuk tidak saling menghubungi.

Fiksi Kilat: Jangan Bunuh Diri

"Kamu pasti mampu kok, Dis,” perlahan aku mendekati Disa yang termenung memandang sarapannya di atas kasur.

“Sudah, jangan terlalu kamu pikirkan! Kelulusan hanya formalitas. Sejatinya, kamu selalu berada di rangking pertama tiap semester,” aku mencoba berargumen. Namun Disa tetap diam.

Fiksi Kilat: Aku Mengerti

“Kamu nggak akan pernah mengerti bagaimana rasanya....,” suara Ara meninggi saat aku mencoba menenangkan.

“Dalam tiap doa dan harap, aku selalu menyelipkan namanya agar bisa didekap...,” Perlahan air matanya mulai mengalir.