Howhaw #199: Di Atas Langit, Masih Ada Langit Malah Jadi Pepatah Untuk Menyombong

Assalamu’alaikum…

Ada pepatah bijak yang mengatakan bahwa di atas langit masih ada langit. Kalimat tersebut dimaksudkan untuk mengingatkan seseorang untuk terus bersikap rendah hati dan tidak sombong. Karena sehebat apa pun kita atau pencapaian kita saat ini, masih ada hal lain yang lebih hebat lagi. Jika kalimat pepatah tersebut diformulakan, bisa dianggap sebagai berikut:

x < 2x < 3x, di mana x adalah pencapaian kita, sedangkan nilai 2 dan 3 adalah nilai mutlak milik orang lain, yang orangnya mungkin belum kita temui. Sehingga seberapa besar x yang kita hasilkan, nilainya akan selalu lebih kecil dibanding nilai milik orang lain tersebut. Jadi, kita tidak boleh sombong.


level

Sayangnya, di masa modern sekarang ini, formula agar tidak sombong tersebut malah digunakan untuk menyombongkan, minimal untuk mewajarkan. Jadi, di atas langit masih ada langit itu malah jadi kalimat untuk menyombongkan diri. Lah, kok bisa?

Ini semua pengaruh pelevelan pada berbagai hal
Dengan adanya level-level pada suatu hal, maka akan menciptakan suatu perbandingan. Level 1 lebih kecil dibanding level 2, level 2 lebih kecil dibanding level 3 dan seterusnya. Misalnya saja tentang rasa pedas. Makanan yang bisa menyebabkan efek panas pada lidah yang bukan karena suhu, dikatakan sebagai makanan pedas. Jadi, ketika menyebut “pedas”, itu berarti membicarakan objek makanannya.

Namun, dengan adanya level pedas, yang menjadi perhatian bukan lagi makanannya, melainkan subjeknya atau orang yang mencicipi. Ada yang bilang ayam geprek level 5 itu pedas, tapi ada juga yang bilang ayam geprek level 5 itu nggak berasa ada pedasnya. Padahal di labelnya sudah tertulis “pedas level 5”. Pedas. Namun, karena ada “level” yang mengikuti, yang artinya ada tingakatan lain yang lebih tinggi, maka label “pedas” tadi jadi tidak begitu berarti.


level

Bukannya kalo pelevelan begitu makin menguatkan kalo di atas langit masih ada langit sehingga nggak bisa sombong, ya?

Benar, awalnya memang begitu. Kita merasa hebat makan ayam geprek level 10, terus mau pamer ke orang-orang, eh, ada yang bisa makan ayam geprek yang pedasnya level 20. Namun, dalam pelevelan ada batasannya. Tiap hal yang diberi level, pasti ada titik tertingginya. Kalo di dunia game biasanya dibatasi sampai level 100. Nah, apa yang terjadi ketika sudah mencapai batas tertinggi tersebut? Sombong. “Nih, saya bisa mencapai level paling tinggi.”

Pelevelan juga mencakup tentang perbuatan
Dalam keseharian, ada perbuatan baik dan ada perbuatan buruk. Perbuatan baik mendatangkan pahala, sedangkan perbuatan buruk mendatangkan dosa. Dulu enak ngasi saran atau petuah ama orang-orang, tinggal bilang, “lakukan perbuatan baik, dan jauhi perbuatan buruk,” udah. Namun, di masa sekarang, akan cukup susah melakukannya karena perbuatan baik dan perbuatan buruknya sudah diberi level.

Beberapa level perbuatan baik itu di antaranya:
Level 1   -> Memberi pinjaman uang
Level 5   -> Membantu nenek menyeberang jalan
Level 10 -> Memberikan hadiah atau mentraktir
Level 25 -> Memakai jilbab (khusus perempuan)
Level 50 -> Memberi makan anak yatim

Kok, memakai jilbab bisa memiliki level lebih tinggi dibanding membantu orang lain? Karena seorang perempuan (khususnya perempuan islam)  saat melakukan perbuatan baik lainnya, akan diberi komentar, “Subhanallah, udah cantik suka menolong orang. Kalo pake jilbab pasti lebih cantik lagi,” atau “Baik banget dia, sayang nggak berjilbab.”


level

Dengan adanya pelevelan pada perbuatan baik, mungkin tidak terlalu memunculkan kesombongan. Atau kalau pun muncul, hanya sekitaran media sosial dan media pemberitaan saja. Namun, pelevelan dalam perbuatan baik malah mendatangkan sikap merendahkan. Orang lain yang jadi sombong. Misal sudah membantu mentraktir teman makan makanan mewah, dikatain ama orang-orang, “Dari pada melakukan itu, lebih baik uangnya disumbangkan untuk anak yatim.” Seolah perbuatan baik level kecil yang sudah dilakukan nggak ada harganya.

Berbeda dengan perbuatan baik, sikap sombong sangat kentara dalam pelevelan perbuatan buruk. Beberapa perbuatan buruk itu seperti:

Level 1   -> Mencuri ayam
Level 5   -> Selingkuh, mabuk-mabukan
Level 10 -> Munafik
Level 25 -> Pakai narkoba
Level 50 -> Makan/mencuri uang rakyat

Adanya pelevelan pada perbuatan buruk tersebut akan membuat pelakunya bisa menyombongkan diri. Toh, nggak melakukan perbuatan yang lebih buruk. Misalnya pencuri ayam bisa menyombongkan diri dengan berkilah atau dibela,

“Saya cuma mencuri ayam, kenapa sampai dipenjara? Sedangkan pencuri uang rakyat dibiarkan bebas.”

Padahal, dalam hukum atau larangan dalam agama, disebutkan bahwa mencuri itu perbuatan terlarang, jangan mencuri. Nggak ada spesifiknya barang apa yang dicuri. Ayam, kek, uang, kek, sama saja masuk pasal pencurian. Kecuali mencuri hati, sih. Itu yang nggak apa. Tatoan dianggap perbuatan buruk oleh sebagian orang, tapi tetap aja nggak apa-apa asal nggak pakai narkoba.


level

Selingkuh? Tentu saja nggak boleh, tapi dari pada melakukan pemerkosaan?

Atau mungkin suka mabuk-mabukan? Nggak apa-apa, yang penting nggak munafik. Begini lah gue apa adanya. Begitu katanya.

Berkata kasar anjing bangsat? Nggak apa-apa, yang penting nggak menistakan agama orang lain.

Di atas langit, masih ada langit. Di atas perbuatan buruk yang kita lakukan, ada perbuatan orang lain yang lebih buruk lagi. Jangan merasa salah dan menyesal. Seperti itulah. Jadi dengan adanya pelevelan tersebut, kita bisa menyombongkan dan membenarkan perbuatan buruk kita.

Bahkan, dalam mencinta juga sudah ada levelnya
Menurut Ronald Frank si motivator seminar kelas cinta, dalam mencintai terdapat 3 level:

Level 1: Semua tentang saya
Yaitu keinginan seseorang dalam menjalin hubungan untuk mengutamakan dirinya. Yang penting dirinya senang dan dimanjakan. Pada level ini, seseorang akan berjuang mati-matian untuk mengubah pasangannya menjadi seperti yang dia mau. Tentunya dengan sikap seperti itu, orang tersebut akan merasa beban dan mungkin stres. Dengan alasan memperjuangkan cinta, dia memaksa pasangnnya harus bersikap seperti apa maunya. Yang jika gagal, dia akan merasa perjuangan cintanya sia-sia, padahal yang dia lakukan hanya memaksakan ego belaka.


Level 2: Cinta bersyarat
Pada level ini, seseorang sudah tidak memaksakan kehendaknya lagi. Namun, dia akan bersikap seperti pedagang. Kamu baik, aku juga baik. Kamu jahat, aku juga akan jahat. Kamu cuek, aku juga begitu. Orang yang berada di level ini akan mengalami banyak drama, karena cintanya hanya tentang jual beli. Dia nggak akan nyaman menjadi dirinya sendiri karena harus menyesuaikan dengan syarat ketentuan orang lain. Mungkin keduanya terlihat saling mencintai, tapi diam-diam juga menjadi munafik demi menjaga syarat dan ketentuannya.

Level 3: Cinta tanpa kondisi
Dikatakan, pada level ini orang sudah mencintai dengan tulus. Dia melakukan apa pun untuk pasangannya, ya, karena dia mau. Nggak ngerasa sebagai pengorbanan. Karena baginya, pengorbanan adalah ritual untuk mendapat balasan lebih. Yang hanya berujung sakit jika nggak berbalas. Intinya, tulus aja gitu. Jika yang dicintai nggak merespon pun, ya, dia ikhlas melangkah pergi.

Kalo dibaca sendiri, bisa bikin sadar, ya? “Oh, ternyata cintaku baru level 1.” Namun, ketika sudah saling dilabelkan, kesombongan-kesombongan juga yang akan muncul.

“Coba baca, nih! Pantas saja kamu marah-marah mulu, cintamu baru level 1,” dibalaslah ama pasangannya kalo yang level satu justru dianya. Bertengakar lagi karena sombong-sombongan level cinta. Padahal ketika menyebut “cinta”, ya, itu artinya udah semuanya. Ya, tulus, ya, berusaha, ya, membuat lebih baik, ya, ya, ya~ Minuman keras, MIRAS! Apa pun namamu.


level
Apa-apa kalo dikasi level memang lebih mendatangkan kesombongan dibandingkan kerendahan hati. Marketing aja pas dikasi level-level dan jadi multi level marketing, itu yang ngajaknya jadi pada menyombong. Mobil lah, kapal pesiar lah. Jadi, pepatah di atas langit masih ada langit itu kudunya nggak sering-sering dipake lagi. Mending langsung aja bilang jangan jadi orang sombong. Udah.

Karena itulah…
Saat kamu menyanyakan sebesar apa dan di level berapa cintaku padamu, aku nggak bisa langsung menjawabnya. Di atas langit masih ada langit. Aku bisa-bisa sombong karena mencintaimu sudah dalam level tertinggi dan begitu besarnya. Tapi untuk menghindari kesombongan, aku juga tidak bisa mengatakan kalo cintaku masih level pertengahan. Karena tak akan kukatakan cinta kalo harus setengah-setengah.

“Di atas langit, masih ada langit. Dan di atasnya lagi, ada penciptanya. Dan penciptanya mengatakan untuk mencintai sesama, terlebih pasangannya. Sehingga sepasang manusia tersebut akan diberikan banyak kebahagiaan. Kebahagiaan yang seperti apa? Kalo mau tahu, mari hidup bersamaku seterusnya.”



Sumber gambar:
1) https://plus.google.com/107898486752689734286/posts/bxyNXoKB1EK
2) https://www.youtube.com/watch?v=FPYFG2quCOA
3) http://wow.tribunnews.com/2017/04/29/beredar-pernyataan-sinis-jusuf-kalla-komentari-karangan-bunga-ahok-ini-fakta-sebenarnya
4) http://www.mp3box.club/cari/lagu-young-lex-feat-2017.html
5) http://www.yuniarwijananto.com/ketika-cinta-ber-label.html
Previous
Next Post »

15 comments

Click here for comments
10 December 2017 at 06:11 ×

Endingnya wow wow wow wow... Haw udah berani nyepik-nyepik lagi ya sekarang.

Ngomong-ngomong, selain cinta berlevel, cinta berlabel (seperti di gambar yang kamu pasang) juga mendatangkan kesombongan loh. Misalnya ada laki-laki yang berhasil mendapatkan hati seorang perempuan. Kemudian dia pamer, "hei, liat nih. saya berhasil macarin primadona sekolah."

Beda kasus kalau dia ditolak. Nggak akan bisa dia sombong. Emang mau menyombongkan apaan? Rekor ditolaknya? Sepertinya nggak mungkin kan.

Ini juga berlaku untuk hubungan tanpa label. Udah sayang-sayangan, belum ada statusnya. Bukannya bisa pamer dan menyombongkan, malah ngerasa seperti disembunyikan. Hm. Berat ini berat. Tapi maaf. Ini bukan curhat kok.

Reply
avatar
Amy
admin
10 December 2017 at 17:03 ×

Bener-bener deep thinking 😄

Reply
avatar
10 December 2017 at 23:59 ×

Endingnya seperti mengiklankan diri sendiri ya agar dicintai dan mau dicintai sama kamu ya, Haw. Wkakakaka.

Bahahahahahahaha. Yang bagian pake hijab kok bangke ya. Sempat ada kan yang ngetwit soal itu. Antara kamu atau selebtwit. Lupa. Hmm seolah-olah kalau cantik itu nggak cukup. Ya memang nggak cukup sih, tapi kalau ceweknya itu bukan Muslim, masa mau dikatain "Cantik sih baik sih tapi sayang nggak berhijab," juga?

Soal level-levelan cinta, kayaknya aku masih di level dua deh, Haw. Masih kayak jual beli. Mungkin aku pernah sampai di level 3, tapi aku nggak mau sombong aaaaah~

Reply
avatar
11 December 2017 at 14:18 ×

Bangkeee Ronald Frank dibawa-bawa. Jadi inget dulu pernah bacain artikelnya tentang cinta dan gimana memikat wanita. Terus dipraktekin dan berhasil. Saya pun merasa jadi hebat dalam percintaan karena pernah punya banyak gebetan. Padahal kalau inget di atas langit masih ada langit, mungkin masih banyak orang yang gebetannya jauh lebih banyak dari saya. Syukurnya setelah itu sadar, saya kalau kayak gitu bakalan dikatain seorang bajingan terus. :(

Reply
avatar
11 December 2017 at 14:19 ×

Bisa aja sombong, paling nggak saya ditolaknya sama cewek cakeplah. Lah kamu, ditolak sama yang biasa-biasa aja. Selalu ada cara untuk menjadi sombong. Hm~

Reply
avatar
Lulu Andhita
admin
14 December 2017 at 12:15 ×

Di mana yg lain membahas soal cinta. Bgaimana kalau diriku membahas soal ayam gepreknya aja?

Aku blm prnah nybain ayam geprek. Klo ngliat di sosmed sih, sprtinya ayam geprek ini lagi ngehitz bgt yaaa.. Klo richeese yg level2an sih udh prnah nyoba, prnah wktu itu aku maen asal pesen aja yg level 3. LVEL 3 LOH! BELOM LEVEL 5! Tapi aku udh kpedesan dluan. Makannya seiprit2 doang :(

Gimana? Udh sombong blm??

Reply
avatar
Hawadis
admin
15 December 2017 at 04:47 ×

Itu Yoga sebagai orang yang banyak penggemar dan mantannya sudah menjelaskan, May. Semua bisa disombongkan kalo ada tingkatannya.

kalo tentang label2an, mending baca yg jenis2 cinta itu aja deh, may, lebih nyambung dibanding yg level2 ini.

Reply
avatar
Hawadis
admin
15 December 2017 at 04:48 ×

kalo salah-sala, mungkin jadinya johny thinking :D

Reply
avatar
Hawadis
admin
15 December 2017 at 04:50 ×

(((mengiklankan diri sendiri)))

ya kan itu maksudnya untuk yg muslimah, tapi tetep aja sih. "sayang bukan orang islam".. setingkat sebelum disuruh kerudungan juga..

ahahaha.... udah gausah diikutin level2anya. itu info aja. kalo udah bilang cinta mah mesti tulus aja~

Reply
avatar
Hawadis
admin
15 December 2017 at 04:51 ×

Saya baru ngeh loh kalo ada yg namanya ronald frank pas nyari referensi artikel ini. hahaha.. kenapa gatau dari dulu aja ya...

Punya pacar atau mantan atu aja tetep dikatain bajingan kok, Yog... -__-

Reply
avatar
Hawadis
admin
15 December 2017 at 04:53 ×

belooooooommmmmm.... malah merendah. tukang jual gepreknya yg jadi sombong it, "baru level 3, udha gak kuat, ini menu ampe level 10 loh" gitu. xD

Reply
avatar
16 December 2017 at 08:27 ×

((Yoga sebagai orang yang banyak penggemar dan mantan))

Reply
avatar
Dwi Nanoki
admin
17 December 2017 at 09:58 ×

Kalo ada yang menyombong bisa makan makanan dengan level pedas tertinggi di depan saya, akan saya respon gini "BODO AMAT! Gak makan pedes and I'm still alive" *sombong*

Reply
avatar
Hawadis
admin
20 December 2017 at 00:39 ×

Kamu harus mencoba makanan pedas, Wi~ bahkan oreo dikasi sambal aja enak~

Reply
avatar
Ami Hamni
admin
28 December 2017 at 15:19 ×

what? lebih baik selingkuh dibanding pemerkosaan? gak ada mendingnya :sh

Reply
avatar

Berkomentarlah dengan baik, sopan, nyambung dan pengertian. Kan, lumayan bisa diajak jadian~ EmoticonEmoticon