Howhaw #185: Menjadi Orang yang Lebih Baik Itu Nggak Boleh

Assalamu’alaikum…

Di artikel sebelumnya, saya pernah menjelaskan bahwa cara membuat orang lain tetap bahagia itu dengan membuat diri kita terus-terusan jelek dan tetap menjadi rusak. Tentunya hal tersebut bertentangan dengan pesan yang selalu disampaikan orang bijak. Harusnya, kan, kita menjadi manusia yang lebih baik tiap harinya.

Awalnya memang saya berpikir demikian, menjadi pribadi yang lebih baik pastinya akan disukai banyak orang. Siapa, sih, yang nggak suka dengan orang baik. Yekan? Tapi, setelah melihat yang terjadi di keseharian, menjadi pribadi yang lebih baik itu malah membuat banyak orang tidak suka.

Labelling (cap) pada seseorang

Di pelajaran sosiologi kelas satu SMA, Bab 4 tentang perilaku menyimpang dan pengendalian sosial, kalo di buku terbitan Erlangga kurikulum KBK, dijelaskan bahwa perilaku menyimpang bisa disebabkan karena proses labelling yang diberikan oleh lingkungannya berupa cap, etiket, atau julukan lainnya. Julukan tersebut awalnya mungkin karena sikap/perbuatan kecil yang menyimpang yang kadang terjadi karena tidak sengaja. Tapi karena diberi label, akhirnya dia melakukan perbuatan menyimpang yang lebih besar.


cap

Misal ada murid yang ketahuan menyontek, lalu diberi julukan tukang sontek, padahal itu pertama kalinya dia menyontek. Akibat diberi julukan tersebut, lama-lama dia akan benar-benar menjadi tukang sontek. Toh, jawaban benar yang dilakukan dengan jujur saja dibilang hasil nyontek.

Ketika seseorang sudah diberi julukan yang jelek, lalu dia menjadi orang yang lebih baik, orang-orang akan menganggapnya munafik. Dia bakal dicela, dibilang pencitraan. Dan bukannya membuat orang senang, malah jadi sensi, dengki dan mencibir. Itu berarti, kita nggak boleh jadi orang yang lebih baik~ :D

Akibat labelling yang bebas, bahkan ada yang dicap sedari lahir

Entah siapa yang memprakarsainya, ada orang yang dicap berdasarkan bulan kelahirannya, berdasarkan golongan darah dan berdasarkan asal daerahnya. Orang Kalimantan dibilang suka makan manusia, orang Padang dan Chinese itu pelit, perempuan Sunda itu matrealistis, serta orang aring bisa bikin rambut hitam. Orang bergolongan darah B itu ekstrovert, zodiak gemini itu bangsat dan yang pakai tato itu nggak bener.

Kalo sudah mendapatkan label seperti itu dari banyak orang, tentunya untuk berbuat baik pun jadi susah. Karena kalo kita sudah dicap sebagai orang yang buruk, ketika berbuat baik, kita dianggap munafik atau dianggap sedang menyembunyikan rencana yang jahat. Misal orang gemini berbuat kebaikan dan memberikan perhatian kepada seseorang. Karena gemini itu dicap bangsat, maka perhatian tersebut dianggap sebagai modus agar bisa mendapatkan banyak pasangan. Padahal kan tidak demikian. Bisa jadi itu memang tindakan baiknya yang dilakukan dengan tulus. Walo saya juga kurang yakin, sih.


cap

Akibat dari cap atau pelabelan tersebut, kita jadi enggan berbuat/berubah jadi lebih baik, karena orang-orang sudah menganggap kita buruk seutuhnya. Dari itu, kalo sudah pernah dicap buruk, jangan repot-repot untuk jadi lebih baik. Makan ati doang soalnya. Orang-orang nggak bakal suka melihat orang yang pernah dicap buruk berubah jadi lebih baik. Mereka bakal bahagia kalo melihat kita tetap jelek dan tetap rusak~ :D

Nggak percaya? Ingatlah fenomena ban mobil tetangganya Pandji

Di pemilu tahun 2014, argumen Pandji Pragiwaksono dalam salah satu tulisan di blognya menjadi viral. Disadari atau tidak, tulisannya tersebut mengambil andil cukup besar dalam memengaruhi pemilihan presiden di tahun tersebut. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya yang membagikan artikel yang ditulisnya hingga ke berbagai media sosial seperti Twitter, Facebook bahkan Instagram. Juga pernah menjadi kutipan dalam media pemberitaan.


cap

Kalimat yang menarik perhatian pembaca dan kadang digunakan sebagai sindiran pada pihak capres Prabowo kala itu yaitu,

Nah, kalau yang pernah menculik orang menjadi presiden, bagaimana caranya mendidik anak saya jadi orang yang baik?

“HEH! Ngapain kamu mukulin anak tetangga, Nak? Jadi anak yang baik, yang soleh, nanti kamu nggak bakal jadi apa-apa kalo kelakuan kamu kayak gitu…”

“Ah Ayah, Prabowo nyulik orang aja bisa jadi presiden,” ujar anak tersebut sambil bakar ban mobil tetangga.

Di kalimat tersebut, Pandji menunjukkan bahwa seseorang tidak bakal pernah jadi lebih baik. Orang yang sudah dicap buruk, nggak boleh menjadi orang yang lebih baik. Orang yang berkomentar di postingan tersebut serta yang membagikannya juga turut mengiyakan. Makanya, kalo udah pernah dicap sebagai orang yang buruk, nggak perlu ngerepotin diri untuk jadi lebih baik. Percuma, nggak ada yang suka dan nggak ada yang mau percaya~ :D

Fenomena dunia maya dan kegemaran netizen

Sama. Mereka juga tidak menyukai orang menjadi lebih baik. Ambil contoh di Twitter. Sebagai manusia yang punya prinsip, tentunya kita pernah men-twit suatu pernyataan. Seiring bertambahnya hari dan bertambahnya ilmu, kita akan menyadari kalo pernyataan kita di masa lalu ternyata salah. Kemudian kita men-twit pernyataan kita yang baru. Apa yang dilakukan netizen? Dia akan me-reply ­twit kita yang baru dengan skrinsyut twit kita yang lama sebagai ejekan dan sindirian.


cap

Misal dulu pernah nge-twit kalo Jokowi itu nggak pantas jadi presiden, kerjanya pasti nggak becus. Lalu beberapa tahun berlalu dan nge-twit kalo pemerintahan sekarang lebih terbuka dan banyak kemajuan. Netizen yang pernah melihat twit lama kita atau yang emang niat mau nyindir, akan me­-reply ­dengan skrinsyut-an.


cap

Hal itu makin menunjukkan bahwa kita nggak boleh jadi orang yang lebih baik. Justru kita diminta konsisten menjadi orang yang buruk. Kalo pernah jadi penjahat, ya, harus selamanya jadi penjahat. Kalo pernah memberikan pendapat bodoh, ya, harus selamanya jadi bodoh. :D

Pencuri yang nggak boleh jadi ustaz

Pencuri itu buruk. Ustaz itu baik. Pencuri yang buruk, nggak boleh jadi ustaz yang baik. Jangankan pencuri, Caesar yang pegoyang suling sakti saja diledekin ketika menjadi penceramah dan menyampaikan hal-hal yang baik. Komentar orang biasanya, “Dirinya sendiri masih berkelakuan buruk, sok-sokan  menceramahi untuk berbuat baik.”

Misal ya, ada orang yang baru keluar dari penjara karena mencuri (mantan maling) dan sudah sadar. Di malam hari ketika pulang habis memberi rokok, dia melihat maling yang baru keluar dari rumah korbannya. Apakah dia boleh menjadi orang baik dengan memberitahukan pada banyak orang kalo ada maling? Boleh, tapi orang nggak bakal mau percaya. Karena dia pernah jadi maling, jadi nggak pantes teriak maling~

Ustaz aja, yang mengajak orang berperilaku baik agar bisa merasakan nikmatnya surga, dilawan, “Kayak pernah masuk surga aja,” apalagi yang pernah berbuat buruk. Makanya, menjadi orang yang lebih baik itu nggak boleh di zaman sekarang.

Dari itu, kalo pernah dicap sebagai orang yang buruk, tapi masih mau membuat orang lain bahagia, jangan jadi orang yang lebih baik. Tetaplah jelek tetaplah rusak!



Sumber Gambar:
http://www.wikihow.com/Stop-Labeling-People
http://seleb.fajar.co.id/2017/04/13/loh-pandji-pragiwaksono-kok-puji-ahok/
http://twitter.com/InfoTwitwor
Previous
Next Post »

14 comments

Click here for comments
N Firmansyah
admin
4 July 2017 at 14:37 ×

Bener. Kalau dicurigain terus, bukannya pengen buktiin kalo dia salah, gue lebih pengen bikin orang itu jadi bener #eh

Reply
avatar
5 July 2017 at 05:45 ×

Seorang Gemini cuma bisa tersenyum membacanya. :) Dianggap bangsat sama manusia lebih baik, sih. Yang penting Tuhan tidak menganggapku begitu. Semoga. o:)

Dan, sepertinya percuma juga gue ngilangin citra mesum dari blog, ya? Cerpen Es Krim masih menghantui pikiran pembaca. :(

Reply
avatar
5 July 2017 at 08:10 ×

Aaaaakhirnya kebuka juga loadingnya haw, zzzzz -____-

Gini nih budaya netizen kita yang suka mengungkit, melestarikan dendam dan sulit memaafkan, jadi kayak case yg kamu jabarin di atas berasa percuma ya misal mau berobah ke arah yg lebih baik. Heuuu trutama klo uda nyangkut dunia maya, pernah nulis dikit aja yg rasanya ga pas (gawatnya dah terlanjut viral), tapi keesokaannya dah instrospeksi diri, aku yakin masyarakat luas jauh lebih ngingetnya yang jelek jeleknya aja. Gimana bsngsa ini mau maju coba hahaaaaaa
Sebenernya nyebelin jg sih yg suka apa apa maen skrinsyuuut, berasa kek diawasin detektip wkkkkk...

Btw kamu masi inget aja pelajaran sosiologi terbitan erlangga haw, dulu suka banget ni ngamatin perilaku manusia disandingkeun dg teori2 sosum

Reply
avatar
6 July 2017 at 09:56 ×

Postingan ini.... aromanya satirnya nyengat banget. Eh tapi emang rata-rata postingan Haw pada satir yak. Eh iya nggak sih, Haw?

Hahahaha. Ku jadi ngakak-ngakak sendiri baca yang soal cap sejak lahir. Bawa-bawa goldar, kepribadian, zodiak. Aku suka melabeli diriku sendiri dan orang lain deh berarti. Kenal sama orang, dekat sama orang, aku harus tau dia kepribadiannya apa supaya aku tau cara menggauli dia gimana. Maksudnya bergaul sama dia gimana. Oh iya, tadi malam barusan terjadi. Aku lagi kesel sama temanku yang berkepribadian sanguinis gara-gara beda visi dan misi dalam hangout bareng. Terus aku mikir lagi sih, waktu bukber kemarin ada temanku (lain orang) yang sanguinis juga, dia ngambek gara-gara ngerasa nggak dianggap. Dan aku jadi berpikiran kalau jalan sama sanguinis aku nggak bakal cocok. Aku males jalan sama mereka lagi. Itu sama aja kayak pukul rata semua orang yang sanguinis kan ya. Dan aku nggak mau kasih kesempatan buat para sanguinis buat jadi lebih baik gitu kan. :((((

Mengenai label diri sendiri, setuju sama Yoga sih. Kamu tau sendiri aku udah dicap blogger mesum, dan begitu ngetwit atau nulis soal yang bukan mesum ya tetap aja dianggap mesum :( Btw teknologi bernama skrinsyut lama-lama menyeramkan juga ya, Haw. :((

Reply
avatar
6 July 2017 at 16:09 ×

Noted bang.
Bener benernya mantap puol.
Yasudahlah jadi hamba allah aja yang tidak membeda medakan manusia :D

Reply
avatar
Wisnu Tri
admin
6 July 2017 at 23:05 ×

sungguh mulia sekali anak IPA ini, tidak melupakan pelajaran sosiologi jaman kelas satu SMA *standing applause--prokprokprok jadi apa? laaaah, pak tarno ngapa ikut-ikutan muncul?*

kebanyakan emang gitu ya? misal seseorang udah pernah berbuat buruk sekali, doi bakal dikenal sama keburukannya walaupun pernah atau mau berbuat baik 100X. Orang udah ngga bakal respect dan percaya lagi sama dia :(

Reply
avatar
Hawadis
admin
7 July 2017 at 21:36 ×

Hahaha.. iya, nyari pembenarannya. :-d

Reply
avatar
Hawadis
admin
7 July 2017 at 21:37 ×

Sungguh jawaban lelaki yang sholihin. :-d

Sepertinya gausah diilang, Yog, udah terlalu melekat. Robby aja pola pikirnya selalu ke arah eskrim untuk lenjutan cerita ketika kamu bikin cerpen baru.

Reply
avatar
Hawadis
admin
7 July 2017 at 21:40 ×

Aku gatau apanya yang bikin lama loading ini, Mbak. Ampe kuapus itu count itungan berapa komennya. :D

iyah. ngungkit salahnya orang lain udah dijadikan hiburan yang mesti selalu dilakukan. padahal kan itu salahnya dulu, kalo skrg dia jadi baik, kenapa harus diingatkan kalo dia buruk. biasanya orang kalo udah hijrah jadi baik mestinya didukung kan..

hahaha.. aku inget karena pas pelajaran itu ada kejadian yang gak bisa dilupain. perdebatan antara teman kelas dengan guru yang ngajar, Mbak.

Reply
avatar
Hawadis
admin
7 July 2017 at 21:47 ×

Iya, Cha. kebanyakan satir emang, entahlah, aku udah hampir menuju menjadi orang nyinyir.

masalah pembagian golongan sebenernya gak perlu diseriusin amat. kemaren ada yg bilang zodiak cancer akan makin mesra ama pasangannya, terus zodiak libra akan mutusin pacaranya. masalahnya, si cancer kan pacaran ama libra. itu begimanaaaa??

sama juga dengan pengkategorian lainnya, mungkin ada sebagian yang pas karena emang manusia memiliki semua sifat, hanya ada yg dominan dan tidak. tapi kalo menyalahkan seseorang berdasarkans esuatu yg tidak bisa dia ubah, itu kejem sih.

hahaha.. skrinyut emang teknologi yang luar biasa. aku udah memanfaatkannya sejak pertama kali bisa dilakukan di ahpe nokia. untuk menyimpan nomor registrasi secara secapa, menyimpan kode atau tips lainnya, tingkat selanjutnya di saat ini jadi senjata untuk membunuh harga diri orang lain. entah nanti bakal jadi seperti apa...

yaudah, gausah repot2 ngelepas labelnya. toh masihs edikit juga penggiatnya. lagipula, mungkin kamu blogger mesum yang nggak mesum mesum banget karena masih layak baca. Nggak diblok kominfo juga.

Reply
avatar
Hawadis
admin
7 July 2017 at 21:48 ×

Lah, Allah saja membeda-bedakan manusia berdasarkan amal dan derajatnya kan... :D

gasalah membedakan, tapi mencap dgn semena-mena itu yg nggak boleh.

Reply
avatar
Hawadis
admin
7 July 2017 at 21:50 ×

KIta juga masih inget pelajaran kelas satu SD yang tambah kurang dan mengeja kan... :ng

Iya. makanya kalo bisa nggak usah berbuat salah, tapi siapa yg bisa? sedangkan jadi lebih baik nggak disukai orang lain. yaudah, jadi lebih baiknya di mata Tuhan aja, di mata manusia tetep aja terlihat buruk..

Reply
avatar
17 July 2017 at 01:54 ×

Dlm ilmu komunikasi, ada teori namanya self fullfilling prophecy, dmn org akan berbuat sesuai cap yg diberikan kpd mrk. Gua pernah nntn anime, dmn sekelompok cowok tiba2 dituduh kalo mrk ngintipin cewek mandi, pdhl mrk gk melakukannya. Karna kesel, mrk jd beneran ngintip. Dan penonton bisa ngeliat yg kenyel2. Begitulah.

Tapi gua lebih tertarik dgn ika dan amrazing sih. Dasar selebtwat.

Reply
avatar
Hawadis
admin
20 July 2017 at 19:23 ×

Hmmm begitu. kubelom pernah tau. Teori begitu emang udah aja sejak lama ya.. tapi mengapa org gak mau baca yg itu.. padahal kalo tau akibatnya, malah bisa menjadikan org jadi buruk (jika dituduh yg tidak benar).

Woiiii... :D

Reply
avatar

Berkomentarlah dengan baik, sopan, nyambung dan pengertian. Kan, lumayan bisa diajak jadian~ EmoticonEmoticon